
“keluarga pasien?” tanya pria itu sambil menyampirkan stetoskop di lehernya.
“bukan, dok. Saya temannya, keluarganya tidak dapat dihubungi” jawab Lita seadanya.
“kamu tahu temanmu mempunyai penyakit asma?” pertanyaan dokter membuat Lita membulatkan matanya karena terkejut.
Selama ia berteman dengan Syasya, gadis itu tak pernah memberitahu apapun perihal penyakitnya. Yang Lita tahu Syasya tidak pernah mengikuti jam pelajaran olah raga. Dan bodohnya ia tidak curiga ataupun bertanya pada Syasya.
“saya tidak tahu, dok. Tapi sekarang teman saya baik-baik aja kan?” tanya Lita. Matanya sesekali melirik ke arah ruang rawat Syasya.
“sekarang keadaannya sudah membaik. Hanya saja luka di bibirnya belum mengering” penjelasan dokter membuat Lita sedikit tenang.
“saya boleh melihatnya?” tanya Lita ragu.
“tentu saja” dokter dengan name tag Jaylen tersebut tersenyum pada Lita.
“terimakasih” Lita segera melangkahkan kakinya menuju ruang rawat. Sahabat yang selama ini ia kenal dengan kepribadian ceria dan pecicilan sekarang hanya terbaring lemah di brankar rumah sakit.
Menancap sebuah infus di tangannya yang mungil dan jangan lupakan plester di sudut bibirnya. Air mata Lita hampir menetes jika saja ia tak segera menghapusnya. Ia mencoba mengirim pesan pada Tristan dan Dina. Bagaimanapun Dina juga sahabat mereka, tentu saja Dina juga harus tahu keadaan Syasya.
Mata bulat Syasya mulai terbuka secara perlahan. Syasya mengerjapkan matanya mencoba menyeimbangkan dengan cahaya di sana. Orang pertama yang ia lihat adalah Lita, sahabatnya. Senyum Syasya terukir seolah tak ada rasa sakit yang ia derita.
“masih bisa senyum lo?” sindir Lita dengan nada tajamnya.
“ya bisa lah. Lagian gue belum mati” kekeh Syasya.
“heh omongannya bener-bener gak bisa di jaga ya!” Lina menaikan nada bicaranya. Sebar-bar apapun dia, tetap saja dalam hatinya ia sangat menyayangi Syasya. Mereka berdua tertawa bersama seakan tak terjadi apapun.
“Sya jujur, bibir lo kenapa?” Lita bertanya dengan sangat hati-hati takut pertanyaaan nya menyinggung perasaan sahabatnya.
Syasya hanya tersenyum. “lo gak akan jawab?” sebenarnya disini Lita memaksa Syasya untuk menceritakan semuanya, namun melihat ekspresi Syasya, Lita mencoba mengalah dan hanya menghela nafasnya.
“lo janji gak akan bilang siapapun, termasuk abang gue?” Syasya balik bertanya untuk memastikan.
“gue janji” diam-diam Lita menyilang kan jari telunjuk dan jari tengahnya sehingga membentuk X di belakang badannya. Kebiasaan Lita jika ia berbohong. ‘gue gak janji gak bilang siapa-siapa, Sya’ ucapnya dalam hati.
“Vano” raut wajah Syasya sulit diartikan. Seperti rasa kecewa, sakit, sedih menyatu dalam ekspresi itu.
“maksud lo...?”
Syasya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban bahwa apa yang ada dipikiran Lita semuanya benar.
“Vano nampar gue” Syasya menundukkan kepalanya. Lagi-lagi air mata itu luruh tak terbendung. Kenangan-kenangan manis saat dirinya dan Vano mulai menjalin hubungan kini bermunculan di otaknya.
Lita yang melihat itu bangun dari duduknya dan segera merengkuh Syasya dalam pelukannya. Ia mencoba menenangkan Syasya. Bukannya mereda, tangis Syasya justru pecah di sana. Selama ini ia telah menahannya dan inilah batasnya.
“gue tahu lo kuat, Sya. Sahabat gue yang paling kuat” itu kalimat yang terucap di bibirnya. Namun jauh di lubuk hatinya ia bersumpah akan membuat Vano menyesal dengan perlakuannya pada Syasya.
“gue capek, Lit. Gue capek” ujung kalimat yang Syasya ucapkan lebih terdengar sebagai bisikan.
“lo bisa berhenti kalau lo cape, Sya. Gak usah pertahanin dia!” Syasya mengangguk mengiyakan penuturan Lita. Namun....
“gue sayang sama Vano, Lit. Gue harus gimana?” Lita tak mampu lagi menahan tangisnya. Air matanya tumpah mendengar tangisan Syasya. Dia tak bisa menjawab pertanyaan Syasya. Saat ini ia hanya mampu memeluk Syasya dengan erat agar tubuh rapuh itu tak roboh.
Sebenarnya ia tak memiliki nafsu bahkan hanya untuk memakan buah, namun Lita memaksanya dengan ancaman wanita itu akan memberi tahu Tristan apa yang terjadi jika Syasya tak memakannya.
Akhirnya dengan terpaksa Syasya mencoba menelan buah apel yang sebelumnya sudah dikupas oleh Lita. Suara dorongan pintu mengalihkan perhatian mereka.
Di sana terlihat Tristan yang sedang berusaha menormalkan nafasnya. Keringat bercucuran di keningnya. Pria itu segera berlari mendekati brankar. Di sanalah Tristan melihat sang adik sedang memakan buah dengan wajah pucatnya.
Kekhawatirannya sedikit berkurang karena melihat sang adik yang sudah sadar mengingat beberapa jam lalu Lita mengiriminya pesan dan mengatakan bahwa Syasya pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.
“lo gak apa-apa?” tanya Tristan sesaat setelah ia berada di samping brankar yang Syasya tempati. Matanya mulai menelisik tubuh Syasya takut-takut ada luka di sana. Netranya menangkap apa yang ia cari.
Plester kecil yang menutupi bagian sudut bibir Syasya membuat Tristan menggertakkan giginya.
“siapa yang lakuin?” tanya Tristan dingin.
“jatuh bang tadi pas pingsan” jawab Syasya tenang. Tristan memandang Lita meminta penjelasan. Sementara itu Syasya juga memandang Lita agar gadis itu tak memberitahukan kebenaran pada abangnya.
“i...iya bang tadi jatuh” lagi-lagi Lita menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahnya. ‘ya tuhan, banyak banget gue bohong hari ini’ ucapnya dalam hati.
Tristan menaikan sebelah alisnya memandang aneh pada kedua gadis di hadapannya. Ia tahu adiknya sedang berbohong, namun untuk saat ini ia akan berpura-pura mempercayainya. Ia akan mencari tahu kebenarannya nanti.
“kenapa bisa pingsan?” Tristan mengalihkan pertanyaannya.
“biasa bang, kambuh. Kecapean abis lari-lari dari kantin” Syasya tersenyum lebar. Ia sangat pandai memainkan peran. Mungkin jika ia menjadi seorang aktris ia akan mendapatkan sebuah penghargaan.
“yaudah istirahat, gue ngabarin mami sama papi dulu” saat akan beranjak dari tempatnya, tangannya dicekal oleh Syasya.
“jangan bang, gue gak mau mereka khawatir. Gue udah gak apa-apa kok” mohon Syasya.
Tristan menghela nafas dan melirik Syasya dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk memastikan bahwa adiknya baik-baik saja.
“oke untuk saat ini gue bakal bilang lo nginep di rumah Lita” Tristan mengusap rambut Syasya. Syasya merasa sangat beruntung memiliki saudara yang benar-benar menyayanginya.
“makasih, bang” Syasya dengan spontan memeluk Tristan yang ada di pinggiran brankar. Lita yang menyaksikan adegan mengharukan tersebut hanya memeluk dirinya sendiri dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menyayangkan dirinya tak memiliki saudara.
***
Vano, pria itu mencoba menghubungi Syasya berkali-kali. Bukan, bukan karena rasa rindunya yang menggebu namun untuk dendamnya yang mendalam.
“kemana sih cewe itu?!” ia kesal karena nomor yang sedari tadi ia hubungi tak aktif. Tentu saja, Lita mematikan ponsel Syasya sesaat setelah Syasya menceritakan segalanya pada Lita.
“lihat aja kalau sampai dia berani pergi dari gue” ucapnya. Mata yang memancarkan amarah itu seolah menusuk siapa pun yang ia lihat.
Ya. Ia tak tahu jika perlakuan kasarnya pada Syasya beberapa jam lalu menyebabkan gadis itu harus dilarikan ke rumah sakit.
Tanpa berpikir panjang, Vano segera berlalu meninggalkan kampusnya. Tujuannya saat ini adalah sebuah club.
Tanpa ia sangka, sesampainya di sana seseorang begitu saja memeluk Vano dari belakang melingkarkan lengan lentiknya di pinggang Vano.