
Tak tahu kenapa tempat ini sekarang menjadi pelarian untuk Vano. Club tempat di mana ia sempat melukai Syasya waktu itu, dan saat ini dia kembali ke tempat ini setelah beberapa kali mendapat penolakan sang bunda untuk mengijinkan Vano pergi ke Jerman.
Sudah hampir satu minggu ia membujuk bundanya. Namun sang bunda rak kunjung mengijinkan karena kondisi Vano yang baru sembuh dari sakitnya.
Kebiasaan lamanya kembali. Kini rokok itulah yang menjadi teman dalam keterpurukannya, tanpa ia ketahui ada yang lebir terpuruk darinya.
Gadis yang semula penuh dengan tawa dan keceriaan, saat ini sedang meringkuk di sebuah ranjang kecil dengan kaki dan tangan yang terikat. Jangan lupakan baju kusut dan rambut yang terkesan acak-acakkan.
Perlahan gadis itu mulai tenang setelah beberapa perawat menyuntikan cairan pada tubuhnya. Keluarga yang menatapnya dari luar merasa sangat terpukul dengan keadaan sang putri.
"pi, putri kita" mami Tania terisak pelan. Sementara papi Dirga merangkul pundak sang istri. Keadaan yang sama juga dirasakan oleh pria itu, Tristan. Ia merasa sangat terpukul mendengar keadaan adiknya. Hal ini terjadi karena kesalahpahaman nya dengan Vano. Namun kini mengapa adiknya yang harus menanggung semuanya?
Ada rasa ingin menyelesaikan semuanya. Hanya saja untuk saat ini ia enggan meninggalkan sang adik untuk sekedar kembali ke tanah kelahirannya. Air matanya mengalir melihat keadaan sang adik.
"tunggu sebentar lagi, Sya. Abang janji akan buat dia menyesal. Dia hanya salah paham" Tristan pergi meninggalkan ruangan itu.
Ya, Syasya sudah sadar sekitar empat hari lalu. Namun naas, saat ia sadar, dia berteriak dan menangis histeris sambil memegangi kepalanya.
"aaaahhhhh jangan, Van. Aku mohon jangan sakiti aku!!" teriaknya saat ia melihat sang bunda. Mami Tania yang melihat itu membulatkan matanya terkejut.
Setelah Syasya disuntik obat penenang akhirnya ia tertidur. Dokter memeriksa keadaan Syasya, dan lagi-lagi kabar dari dokter membuat keluarga itu menitikkan air mata untuk yang kesekian kalinya.
"your child has memory loss. But not totally. There are certain incidents that he still remembers. But unfortunately, the incident that he remembered was probably just a bad incident. That's why he's like that. At the same time it seems like he is also experiencing depression due to some stress from the past which is causing him stress" kenyataan yang sangat menohok hati. Apa yang dialami putrinya hingga ia mengalami depresi seperti ini.
Tubuh mami Tania luruh jika saja papi Dirga tak menahan bobot tubuhnya. Erangan frustasi dan juga tangisan menjadi satu. Tak ada rasa sakit yang melebihi ini.
Saat mendapatkan kabar bahwa adiknya sadar dari tidur panjangnya, Tristan segera terbang ke Jerman untuk memastikannya sendiri. Dan kenyataan yang ia terima setelah sampai di sana adalah hal paling menyakitkan baginya.
Dan setelah kurang lebih empat hari ia ada di Jerman, saat ini ia memutuskan untuk kembali ke tanah airnya untuk menyelesaikan masalah dengan Vano.
Di sinilah Tristan sekarang. Di caffe yang sama dengan gadis yang sama pula. Lita adalah satu-satunya orang yang ia percayai. Dan saat ini Dina juga ada di sana. Lagi-lagi Tristan terpaksa untuk menyampaikan berita duka pada Lita dan Dina.
Kedua gadis itu memaksa untuk pergi ke Jerman dengan Tristan. Mereka ingin melihat keadaan Syasya. Jangan ditanya keadaan mereka saat ini, tangisnya sudah pecah sejak Tristan mengatakan bahwa Syasya amnesia.
Seisi caffe pun memandang aneh pada mereka, namun tak mereka pedulikan. Setelah cukup tenang, akhirnya mereka mulai membicarakan tujuan mereka.
"jadi, rencana lo sekarang apa bang?" tanya Dina.
"gue mau ketemu sama Vano, kalian tahu dimana Vano biasa nongkrong?"
"kita gak tahu bang, tapi gue bisa tanya sama Vano langsung" Lita mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Vano. Namun tangannya dicekal oleh Tristan.
"jangan Vano, gue takut dia gak mau ketemu gue. Biar gue datang ke tempat dia tiba-tiba aja." tawar Tristan.
"oke, kalau gitu gue bisa tanya Rian sama Hans. Kali aja mereka tahu" dengan lincah jari Lita mencari kontak sahabat Vano itu.
Setelah menemukannya, ia segera menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"Hans, lo di mana?" tanya Lita pada orang di sebrang sana.
"Sama siapa aja?" agak keras agar Hans bisa mendengar suaranya.
"biasalah. Rian sama Vano. Kenapa sih?" risih Hans.
"oke. Sharelock cepetan gak pake lama" Lita menutup sambungannya. Notifikasi terdengar dari ponsel Lita ia segera membukanya dan memperlihatkan lokasi itu pada Tristan.
"oke, gue tahu. Kalian mau ikut?" tawar Tristan.
"ikut" jawab keduanya semangat.
Mereka bertiga menuju club di mana Vano berada. Sepanjang perjalanan tak ada perbincangan sama sekali. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Saat ini mereka berada di depan club itu. Ada rasa ragu di hati Lita dan Dina karena ini kali pertama bagi mereka memasuki tempat seperti ini.
Tristan yang meyakinkan mereka untuk masuk dengan jaminan bahwa Tristan akan menjaga mereka. Akhirnya mereka masuk ke sana dan mencari Vano.
Tak memerlukan waktu lama untuk mereka menemukan Vano karena memang hampir semua pandangan wanita menuju ke arahnya.
Hans melambaikan tangannya pada Lita. Lita yang melihat itu langsung mengajak Dina dan Tristan menghampiri tempat dimana mereka berkumpul.
"hai" sapa Dina pada mereka. Vano yang melihat kedatangan sahabat Syasya memandang mereka aneh. Dan di sana juga ada abangnya Syasya.
"tumben mau ke tempat ginian" tanya Rian.
"tuh nganter bang Tristan" Rian yang mendapat jawaban seperti itu memandang Dina aneh. Untuk apa Tristan mendatangi mereka.
"ada apa bang?" tanya Rian langsung pada Tristan.
"gue ada urusan sama teman lo" jawab Tristan sambil melirik Vano.
Vano yang memang masih ragu untuk memulai interaksi dengan Tristan hanya bungkam. Ia menunggu Tristan melanjutkan kalimatnya.
"boleh ikut gue bentar?" tanyanya pada Vano. Vano yang memang sudah menunggu itu menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Tristan. Masih dalam club itu namun lebih pojok dari tempat tadi.
"jadi Lo Vano pacar adek gue?" tanya Tristan memastikan.
"ya. Gimana kabar Syasya bang" Vano sudah menahan tak menanyakan itu pada Tristan namun tak bisa.
"masih peduli?" Tristan menyunggingkan senyum mengejek.
" maksud lo? Dia pacar gue, ya gue peduli lah" jawab Vano.
"cowok mana yang nyuekin ceweknya sendiri, cowok mana yang berani nyakitin ceweknya sendiri!! Lo mikir bangsat!! Bisa-bisanya lo nyakitin cewek lu sendiri cuma karena balas dendam lo!!" emosinya sudah tak bisa ia tahan lagi. Beruntunglah suasana disini sangat ramai.
"lo tau sekarang keadaan Syasya kaya gimana?"