Complicated Love

Complicated Love
Chapter 25



Perkataan Tristan sangat menohok hati Vano. Apakah saat ini semesta sedang menghukum dirinya? Jika iya maka biarlah hanya dia yang merasakannya, bukan gadis yang menyayangi Vano dengan setulus hatinya.


Beberapa jam lalu Tristan mengatakan keadaan Syasya padanya.


"di hari lo koma, Syasya ngalamin kecelakaan. Kepalanya kena benturan keras hingga dia harus dibawa ke rumah sakit di luar negeri. Dia juga sempat koma, dan beruntungnya tuhan masih menyayangi Syasya. Dia bangun" Vano menghela nafas lega mendengar Syasya selamat dari kecelakaan. Sedetik sebelum senyum mekar di bibirnya, dunia seakan runtuh menimpanya lagi untuk yang kesekian kalinya.


" sayangnya dokter bilang ia kehilangan sebagian ingatannya. Yang dia ingat hanya kenangan buruk gimana lo nyakitin fisik dan hati dia. Dia terus saja merancau mengatakan untuk jangan menyakitinya, dan dia juga menyebut nama lo" mata Vano memanas. Ia tak sanggup lagi menahan buliran air mata yang hendak menerobos keluar. Tangis Vano pecah mendengar penjelasan Tristan.


"Sya, maafin aku" isaknya. Ini semua salahnya, jika saja dia tak menyimpan dendam itu maka Syasya tak akan sakit. Jika saja Vano menjadi lebih baik, mungkin saat ini mereka berada dalam kubangan bahagia. Hanya jika saja Vano tak melakukan semua itu maka kata 'jika' tak akan muncul di hidupnya saat ini.


"gak ada guna lo nangis. Lo lakuin itu karena ada masalah sama gue kan?" tanya Tristan dengan nada dinginnya. Saat ini ia sedang menahan diri untuk tidak meninju orang dihadapannya.


Vano memandang Tristan dan mengangguk. Mungkin ini saat untuk dia menyelesaikan semuanya, ia tak ingin ada penyesalan lagi di hidupnya.


"gue tau lo marah karena gue dulu punya hubungan sama Bianca, tapi sumpah gue gak tahu dia udah punya pacar. Dia bilang, dia single makanya gue pacarin" jelas Tristan. Sebenarnya bukan itu yang menjadi penyebab utama dia membenci Tristan.


"kalau gue benci lo cuma gara-gara itu, gue bocah banget bang" jawab Vano. Dahi Tristan mengerut heran, lalu jika bukan itu apa yang menjadikan Vano membenci Tristan dengan sangat dalam?


Vano yang mengerti dengan raut wajah Tristan segera menjelaskannya.


"sebelum gue ketemu kalian berdua di mall dua tahun lalu, lo inget?" tanya Vano.


"tepatnya di hari jadi gue sama Bianca, gue lihat lo 'gituan' sama dia. Lo bisa mikir kan seberapa hancur hati gue?" lagi-lagi kening Tristan mengerut. Apa yanh Vano bicarakan ia tak mengerti sama sekali.


"maksud lo? gue sama Bianca?" Tristan berusaha bertanya maksud dari perkataan Vano tadi.


"wahhhh jadi selama ini lo benci sama gue karena hal yang gak pernah gue lakuin sama sekali?" Tristan tertawa hambar. Rasanya lucu mengingat bagaimana kebencina Vano padanya.


"maksud lo?" Vano bingung karena tiba-tiba Tristan tertawa.


"asal lo tahu, gue masih perjaka" tunjuk Tristan pada Vano.


"hah?" apa maksud Tristan.


"maksud lo gimana? Jelas-jelas gue lihat dengan mata kepala gue sendiri!" jawab Vano sedikit berteriak.


"lo lihat gimana mukanya?" skak. Wajah Vano menegang, ia tak melihat wajah cowo itu, ia hanya melihat bagian belakangnya saja.


"jadi?..."


"ya jadi lo selama ini salah paham bego. Sumpah, gue gak pernah lakuin begituan bangsat gila lo" Ucap Tristan. Suasana di antara mereka sedikit mencair.


"sialan!" umpat Vano.


"jadi cowo itu siapa? maksud lo Bianca punya cowo lagi selain kita?" Tanya Vano.


"mungkin" jawab Tristan seadanya.


"bang gue boleh ikut lo kan jenguk Syasya" mohon Vano.


"tapi gue mohon lo ijinin gue sama bund gue, susah banget buat dapat ijin dari dia" lanjutnya.


Tristan mengerti perasaan Vano saat ini. Untuk masalah ini ia anggap selesai karena ini memang bukan sepenuhnya salah Vano. Dia akan fokus saja pada kesehatan Syasya.


"gue gak janji, tapi gue bakal usaha" setelah mengatakan itu, berakhirlah Tristan di rumah Vano untuk meminta ijin membawa Vano bersamanya ke Jerman.


Dengan segala alasan, akhirnya bunda Vano mengijinkan putranya pergi dengan syarat tidak lebih dari seminggu. Vano menyetujui itu, setidaknya ia akan bertemu dengan Syasya walau hanya sebentar.


Di sinilah Vano, mengemas beberapa pakaian dan barang-barang yang ia perlukan. Netranya menatap bingkai foto di mana ia memajang foto Syasya di sana. Dia bahkan lupa kapan terakhir kali menatap foto itu saking hatinya diselimuti dengan nafsu balas dendam.


"maaf Sya. Setidaknya kamu maafin aku, itu udah cukup" lagi-lagi air matanya menetes di pipinya. Emosinya menjadi lebih sensitif saat ia benar-benar merasa kehilangan Syasya, orang yang sangat menyayanginya.


Lama Vano menangis, ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Dia tak boleh lelah mengingat besok adalah keberangkatannya menuju Jerman.


***


"Van!" teriak seseorang menggema di bandara.


Vano menoleh ke arah suara itu. Lita dan Dina, sedang apa mereka di sini. Dan di sana juga ada bang Tristan. Langkah kaki Vano mendekati mereka bertiga.


"kalian ngapain di sini?" tanya Vano heran.


"emangnya cuma lo yang kangen sama Syasya, kita juga kali" jawab Lita. Ya, setelah perbincangan dengan Vano, Tristan mengucapkan terimakasih pada Lita telah mempertemukannya dengan Vano. Dan berakhir dengan Lita ingin ikut ke Jerman karena Tristan mengatakan Vano akan ikut.


Dan di sinilah mereka sekarang. Menunggu jadwal penerbangan.


***


Negara ini masih sama seperti saat Tristan menginjakkan kakinya di sini, perasaannya masih sama pula. Tak ada yang istimewa, hanya ada rasa sedih dalam dadanya.


Mereka menuju rumah sakit dimana Syasya di rawat. Tristan mengingatkan agar mereka mencari penginapan terlebih dahulu, namun mereka tetap ingin langsung menemui Syasya.


Sesampainya mereka di tempat tujuan, senyum yang semula mereka tunjukkan kini memudar begitu saja. Bagaimana tidak, sahabat mereka sedang berjuang di sana sendirian dengan kaki dan tangan yang terikat.


Sama sekali tak seperti Syasya. Gadis itu dulu sangat ceria, bahkan terlihat seperti tak memiliki beban sedikitpun. Namun lihatlah saat ini, bagitu kacau.


Lita yang sedari tadi menangis memelik Dina yang menangis juga. Vano, tubuhnya menegang melihat keadaan kekasihnya. Dia memukul dadanya sendiri. Rasanya sangat sesak melihat Syasya seperti ini.


"bang boleh gue ketemu Syasya?" tanya Vano lirih. Kedua orang tua Syasya tak ada di sana. Kemungkinan mereka sedang berada di hotel untuk istirahat.


Tristan mengangguk seraya membuka pintu ruangan Syasya. Syasya yang merasa pintu kamarnya terbuka, perlahan membuka matanya dan menoleh ke arah pintu.


Matanya mengerjap mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Perlahan matanya menangkap sosok yang ia kenal, namun dua orang lainnya entahlah.