
"jadi gimana? Minggu ini jadi kan?" tanya Hans. Mungkin ini sudah kali ke sepuluh pria itu menanyakan perihal acara minggu ini.
"iya jadi! Berisik banget lu!" Vano yang sudah jengah dengan pertanyaan Hans akhirnya membentak Hans.
"ya kan gue cuma nanya" Hans tersenyum tanpa sedikitpun merasa bersalah.
"nanya sih nanya. Cuma lu mikir, ini udah kali ke berapa lu nanya pertanyaan yang sama?" Rian, pria itu juga gemas dengan tingkah sahabatnya sendiri.
"iya sorry. Jadi kita ke mana?" tanya Hans lagi. Untuk pertanyaan yang satu ini, Hans baru menanyakannya kali ini.
"gue belum tahu. Nanti gue tanya Syasya dulu" Vano beranjak dari tempat duduknya setelag sia menghabiskan makan siangnya.
"eh mau ke mana lo!" Hans yang melihat Vano beranjak begitu saja spontan ikut bangkit. Namun naas, sesaat setelah dia menyelesaikan kalimatnya kakinya tersandung kursi yang barusan dia duduki. Kini pria itu berakhir tersungkur di cafetaria kampus.
Sakit? Tidak. Malu? Sangat malu. Bagaimana tidak, seisi cafetaria melihatnya tersungkur dan gelak tawa memenuhi seisi ruangan ini. Rian, pria itu tertawa paling kencang di antara yang lainnya melihat posisi Hans yang tidak estetik.
"berdiri lu. Bikin malu aja" setelah rian puas dengan sesi tertawanya, dia memegang lengan Hans dan membantu pria itu bangun. Hans yang terlanjur kesal menghempaskan pegangan Rian begitu saja setelah ia berhasil berdiri.
Hans berjalan terlebih dahulu untuk menyusul Vano, sementara Rian, dia berjalan mengikuti Hans dengan kekehan yang masih tersisa.
***
"udah lama nunggu?" Vano berlari saat melihat wanita yang sedang menunggunya.
"engga, baru aja selesai" Vano mengangguk.
"kamu lapar? mau makan?" tanya Vano setelahnya.
"mau!" ujar Syasyq dengan semangat. Bagaimana tidak, mata kuliah hari ini benar-benar padat. Tak ada satupun dosen yang tak masuk. Belum lagi praktek-praktek yang akan di hadapi Syasya, semua itu membuatnya stress hingga perutnya kini keroncongan.
"yaudah yuk, kamu mau makan apa?" tanya Vano sambil menggandeng jemari Syasya dan mengajaknya keluar dari area kampus.
"mau apa ya? Mau makan cake aja boleh gak?" Syasya menampilkan puppy eyes-nya. Dia sedang memohon pada Vano saat ini.
Seorang Vano? Tentu saja dia mengabulkan keinginan gadisnya, bagaimana dia bisa menolak jika permohonan Syasya bisa segemas ini.
"oke ayo!" dengan semangat Vano menggandeng kekasihnya. Untuk saat ini dia memilih menggunakan motornya mengingat jarak toko kue lumayan jauh dari kampusnya.
"pegangan yang kencang!" Syasya yang peka dengan mudah langsung memeluk pinggang Vano. Vano hanya tersenyum senang dengan tingkah Syasya.
"pelan-pelan, Van" Syasya mengingatkan.
Seperti yang diminta Syasya, Vano melajukan motornya dengan pelan. Namun kali ini menjadi keuntungan juga untuk Vano karena dia bisa berlama-lama dipeluk Syasya.
***
"di mana tuh anak? Cepat banget hilang nya" Hans celingukan mencari sosok Vano namun netranya tak kunjung menangkap sosok yang dia cari.
"heh, lo yang benar aja. Gimana mau ketemu kalau lo cari dia di kelas. Kelas udah kelar satu jam lalu, orang bodoh mana yang mau ke sini lagi" ucap Rian sambil menoyor kepala Hans.
"ya kali aja Vano gabut terus dia ke sini, kan siapa yang tahu" Hans mencoba beradu argumen dengan Rian.
"terserah lo. Gue balik duluan, kalau lo mau di sini silahkan. Tapi gue dengar suka ada cewe yang nangis di sini" bisik Rian di kalimat terakhirnya. Setelah mengucapkan itu Rian langsung pergi dari tempat itu.
Sementara Hans, dia berusaha menangkap maksud dari ucapan Rian tadi. Tak berapa lama, matanya membulat menandakan dia tahu maksud Rian.
"woyy Rian tunggu gua!!!" Hans berlari terbirit-birit. Dia mencoba mengejar Rian namu. pria itu sudah tak tertangkap oleh pandangannya.
***
Syasya mengangguk menjawab pertanyaan Vano. Mulutnya penuh, itu sebabnya dia hanya mengangguk saja.
"kamu gak makan?" tangan Syasya memang menyodorkan sepotong kue ke hadapan Vano, namun raut tak rela di wajah gadis itu berhasil membuat Vano terkekeh.
"engga ah, kamu aja. Nanti kalau aku makan, ada yang nangis" ejek Vano. Dia tahu jika Syasya tak rela membagi kue itu dengannya. Bukannya pelit, hanya saja kue ini terlalu enak hingga dia tak ingin membaginya dengan siapapun.
Syasya mendengus mendengar penuturan Vano.
"ya kamu kalau mau beli lagi aja!" kesalnya. Kenapa pria itu harus pakai menyindirnya.
"enggak sayang, cuma bercanda" Vano mengusap rambut Syasya. Syasya hanya memajukan bibirnya kesal, namun di sisi lain dia juga malu karena Vano memanggilnya dengan sebutan sayang.
"oh iya Sya. Liburan minggu nanti jadinya kita mau ke mana? Dari tadi Hans udah nanya mulu" raut wajah Vano berubah masam saat dia mengingat bagaimana Hans terus bertanya padanya padahal dia sudah menjawabnya.
"emm, menurut kamu ke mana?" tanya Syasya balik. Namun Syasya juga memutar otaknya untuk mencari ide ke mana kira-kira mereka harus berlibur.
"camp aja gimana?" tanya Syasya setelah tiba-tiba ide itu muncul di kepalanya.
"enggak, aku gak setuju. Terlalu bahaya. Kita cari yang aman-aman aja" bukannya Vano takut, tapi pria itu berjaga-jaga agar tak membawa Syasya ke tempat beresiko seperti itu.
"terus ke mana?" rengek Syasya. Dia sudah sangat bingung.
"pantai aja, kita bisa sewa villa di sana" jawab Vano final.
Syasya terlihat mempertimbangkan ide Vano. Namun setelahnya dia segera mengangguk. Menurutnya pantai bukan ide yang buruk.
"oke kita ke pantai aja" Syasya akhirnya setuju dengan pilihan Vano.
"oke, nanti aku kasih tahu Hans sama Rian"
"aku juga mau kasih tahu Lita sama Dina"
"bang Tristan mau di ajak?" tanya Vano. Setelah menyelesaikan masalah mereka kini Vano dan Tristan terlihat lebih dekat. Malah mereka sering keluar bersama untuk bermain basket.
"iya nanti aku tanya dia dulu, dia kosong apa enggak" jawab Syasya.
"oke. Ya udah cepat habiskan makanannya, habis itu kita pulang. Ini juga udah sore"
Syasya mengangguk dan segera menghabiskan kuenya. Kapan-kapan dia akan ke sini lagi untuk membeli kue dengan rasa yang berbeda.
"nanti kapan-kapan aku mau ke sini lagi, Van. Kuenya enak" ucap Syasya agak berteriak karena keramaian jalan di sore hari ini.
"iya nanti kita ke sini lagi ya" Vano terus melajukan motornya hingga lampu merah ada di hadapan mereka dan mereka berhenti.
Seperti biasa, Syasya selalu melihat sekitar karena dia memang suka melihat orang-orang yang melakukan kegiatannya masing-masing.
Namun netranya menangkap sosok yang sepertinya dia kenal.
"Van, kamu lihat? kayanya aku kenal orang itu. Tapi siapa ya?" tanya Syasya.
Vano menoleh menghadap arah di mana Syasta menunjuk. Matanya sontak terbelalak melihat orang yang ada di sana.