
Syasya terbangunkan oleh suara pintu yang terbuka. Dia mengucek matanya sampai terlihat merah.
"Sayang, kebangun?" tanya Vano saat dia sampai di kamar.
Awalnya dia tak akan masuk ke ruangan itu karena dia juga masih ada kerjaan di kantornya yang membuatnya harus cepat kembali ke sana setelah menjemput si kembar.
"Ehemm, tapi udah lumayan lama kok tidurnya," jawab Syasya.
Tapi begitulah, ketika Vano tiba di dalam rumah, keadaan rumah sangat sepi. Seperti tak ada penghuninya.
Itulah kenapa dia mencari Syasya hingga ke kamarnya.
"Maaf ya. Aku tadi khawatir juga karena kamu gak ada di depan. Biasanya kan kalau aku datang, kamu suka ada di depan," jelas Vano.
"Jadi aku buka pintu lumayan keras," kekehnya.
"Iya gak apa-apa. Tadi aku bosan sendirian, jadi aku bobo aja." Syasya mengalungkan tangannya di leher Vano dan menyimpan kepalanya di dada bidang pria itu.
"Kenapa?" tanya Vano heran. Tak biasanya Syasya menjadi semanja ini.
Syasya menggeleng dalam pelukan Vano. Vano yang peka akhirnya melingkarkan tangannya di pinggang ramping Syasya.
"Lagi mode manja ya," gemas Vano semakin mengeratkan pelukannya.
"Gatau. Aku kangen banget bau kamu," jawab Syasya.
Dia menjauhkan badannya dari Vano setelah beberapa kali dia mengendus aroma suaminya itu.
"Di mana anak-anak?" tanyanya setelah sadar sedari tadi dia hanya melihat suaminya.
"Udah di kamar. Mereka bilang cape, jadi mau tidur katanya." Vano juga lupa menjelaskan hal itu pada istrinya.
Syasya mengangguk. Dia kembali memeluk suaminya.
"Kamu ini kenapa?" Vano masih merasa heran.
"Gak kenapa-kenapa. Cumq mau peluk kamu, emang gak boleh?" tanya Syasya sedikit meninggikan suaranya karena kesal.
"Bukan gitu, kamu gak kaya biasanya aja." Vano kembali menarik Syasya ke dalam pelukannya setelah beberapa saat lalu Syasya melepaskannya begitu saja.
"Bisa gak kamu jangan ke kantor lagi?" rengek Syasya. Dia mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah Vano.
Vano menaikan alisnya heran. "Loh, kenapa?" tanyanya.
"Aku kangen. Di sini aja ya." Syasya kembali merengek.
"Nanti gak ada uang bulanan buat bulan ini," goda Vano.
"Gak apa-apa. Nanti bisa minta sama orang tua kita," jawab Syasya acak.
"Heh, gak boleh," timpal Vano.
"Ya pokoknya gak boleh ke kantor lagi. Hari ini aja." Syasya merengek sambil mengeratkan pelukannya.
Vano menggendong Syasya seperti koala sebelum kemudian dia duduk di kasur hingga posisi mereka saat ini Syasya yang ada di pangkuan Vano.
Vano mengambil ponselnya di saku jasnya. Dia mencari nomor Neta.
"Halo, Net. Bisa handle semua kerjaan saya hari ini? Ada kerjaan lain yang gak bisa saya tinggalkan. Jadi saya gak bisa balik ke kantor," ucao Vano.
Tak tega juga dia menolak permintaan istrinya.
"Baik, Pak." Neta menjawab. Itu berarti gadis itu sedang senggang hingga bisa meng-handle kerjaan Vano.
"Oke makasih."
Vano segera menutup sambungan telponnya saat dia sudah selesai berbicara.
"Bentar aku mau lepas jas dulu." Mendengar hal itu, Syasya melepaskan pelukannya sejenak, tapi dia masih berada di pangkuan Vano.
Vano menanggalkan jasnya dan hal itu tak lepas dari perhatian Syasya.
"Ganteng banget suami aku," ujar Syasya. Rasa heran Vano bertambah setelah Syasya berucap demikian.
Tapi dia tak bertanya lagi pada Syasya, dia hanya tersenyum sebelum kemudian mengecup kening Syasya singkat.
"Udah, mau peluk lagi?" tanya Vano. Siapa tahu Syasya berubah fikiran dan tak mau memeluknya lagi.
Namun seperti harapannya, Syasya mengangguk dan kembali mengalungkan tangannya di leher Vano.
"Mau sampai kapan hmm?" tanya Vano.
Vano berdiri dengan Syasya yang ada di gendongannya. Dia turun ke lantai bawah sambil menggendong Syasya.
Gadis itu tak banyak bertanya. Dia tak peduli akan dibawa ke mana selama dia masih bersama suaminya.
"Udah makan belum?" tanya Vano. Mereka sudah berada di dapur.
Vano membuka kulkas dan mengambil satu botol air mineral.
"Belum, kan aku baru bagun tidur," jawab Syasya.
Benar apa yang dikatakan istrinya itu.
"Mau pesan makanan aja? Aku juga lapar," saran Vano.
"Boleh, mau pesan apa? Biar aku yang pesan," ucap Syasya. Gadis itu hendak turun dari gendongan suaminya.
Namun, sebelum Syasya berhasil melakukan itu, Vano segera mencegahnya.
"Gak usah. Aku aja," ucap Vano sambil memperlihatkan ponselnya pada Syasya.
Dia hanya ingin mengatakan jika dia yang akan memesan makanan karena dia juga membawa ponselnya. Sementara ponsel Syasya berada di kamar mereka.
"Okey." Vano memesan sesuatu yang bisa mereka makan. Setelah minum, Vano menggendong Syasya menuju ruang keluarga.
Dia menyalakan televisi untuk mereka tonton sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Mami, Ayah lapar," rengek Aruna. Gadis itu menghampiri mereka.
Sepertinya dia terbangun karena rasa laparnya.
"Tunggu sebentar ya Princess, Ayah lagi pesan makanan," jawab Vano.
Aruna duduk di samping mereka dan menyandarkan kepalanya di bahu sang Ayah.
Sekarang tubuh Vano benar-benar menjadi sandaran dua wanita yang sangat dia sayangi itu.
"Abang kamu gak bangun?" tanya Vano.
Aruna menggeleng. "Enggak Yah. Kayanya dia cape banget jadi gak bangun," jawab gadis kecil itu.
Tak lama, makanan mereka datang. "Bentar Yang. Aku siapin makanannya dulu. "Vano berusaha menurunkan Syasya dari pangkuannya terlebih dulu.
Syasya turun dari pangkuannya dan menunggu di ruang keluarga bersama Aruna.
"Gimana sekolahnya, Sayang?" tanya Syasya pada putrinya.
"Baik Mi. Semuanya menyenangkan. Tapi ada tugas, Kakak belum kerjain," jawab Aruna.
"Gak apa-apa. Nanti malam juga bisa kalau sekarang kalau kamu masih cape," timpal Syasya.
Aruna mengangguk. "Makanannya udah siap. Makan dulu yu," ucap Vano.
"Abang gak dibangunin?" tanya Vano. "Kalian duluan aja, biar aku yang bangunin," jawab Syasya.
Vano mengangguk dan menggandeng tangan Aruna menuju ke meja makan. Sementara itu Syasya naik ke lantai atas untuk membangunkan putranya.
"Bang." Syasya mengguncang tubuh Arjuna pelan. Namun, bocah itu tak kunjung bangun.
"Abang, makan dulu yu. Nanti bobo lagi," ajak Syasya.
Arjuna menggeliat saat merasa tidurnya terganggu.
"Bang," ucap Syasya lagi.
"Eenggghh, kenapa Mi?" tanya Arjuna setengah sadar. Dia masih belum membuka mata sepenuhnya.
"Makan dulu yuk. Nanti bobo lagi. Ayah sama Kakak udah nunggu di bawah."
Arjuna bangkit dari posisi tidurnya. Dia mengucek matanya pelan.
"Jangan dikucek Sayang. Nanti iritasi." Syasya mengingatkan putranya sambil menjauhkan tangan Arjuna dari matanya.
Arjuna akhirnya bangun sepenuhnya. Syasya menggandeng tangan Arjuna untuk turun dari ranjangnya.
Mereka berjalan beriringan menuju meja makan di mana Vano dan Aruna berada.
"Bang sini makan," ajak Vano.