
Mata Si Kembar berbinar saat mereka melihat suasana ramai pasar malam. Ini adalah pertama kali bagi mereka pergi ke tempat seperti ini. Dan menurut mereka ini sangat luar biasa.
“Mau nyoba naik itu,” Aruna menunjuk bianglala. Jika kali pertama Si Kembar pergi ke tempat seperti ini di kelas tiga sekolah dasar, maka Bian baru berkunjung ke tempat ini kelas satu SMA, yaitu sekarang.
Sedari tadi dia hanya diam memperhatiakan suasana di sana. Dia sangat menikmatinya. Rupanya dia tak hanya penyuka sepi, tapi di tempat ramai seperti inipun dia menyukainya.
“Boleh, Abang mau temani mereka gak?” tanya Syasya pada Bian yang sedikit terlonjak dengan ucapan Syasya barusan.
“Hah kenapa Mi?” Bian kembali bertanya karena dia tak mencerna dengan benar apa yang dikatakan Maminya beberapa saat lalu.
“Itu, barusan Si Kakak bilang mau coba naik bianglala. Tapi kalau Mami yang temenin kan aneh. Abang mau gak temenin mereka?” Syasya kembali menjelaskannya.
Mungkin lebih tepatnya bukan menemani, tapi Bian juga ingin mencoba permainan yang satu itu.
“Boleh Mi. Bian juga mau naik,” jawabnya. Ini adalah kesempatan baginya untuk mencoba apa yang belum pernah dia coba.
Vano memesankan tiket untuk ketiga anaknya. Mereka naik permaianan itu sementara Syasya dan Vano menunggu di bawah di sebuah kedai yang tak jauh dari sana.
“Kayanya mereka suka banget,” ucap Syasya. Dia masih bisa mendengar teriakan anak-anaknya dari bawah sana.
Senyum Syasya mengembang ketika mendengar itu. Melihat anak-anaknya bahagia membuat Syasya juga ikut bahagia.
“Kamu pernah naik gak?” tanya Vano. Dia menggenggam tangan Syasya. Datang ke tempat seperti ini membuat mereka mengingat masa lalu.
Di mana mereka masih berpacaran dan berkencan ke tempat-tempat seperti ini. “Kayanya pernah deh waktu masih kecil,” kekehnya.
Entahlah, dia juga ingat-ingat lupa dengan momen yang satu itu. “Mau nostalgia? Kita naik lagi,” ajak Vano sambil menggoda istrinya itu.
“Gak mau, inget umur ya. Kita udah gak muda lagi,” ujar Syasya. Memang benar, saat ini umur mereka sudah menginjak dua puluh sembilan. Beruntung sekali mereka dulu menikah muda sehingga saat ini mereka sudah punya dua anak dan satu anak angkat.
“Dih, kita masih muda kok. Baru dua sembilan.” Vano tak terima dengan apa yang diucapkan Syasya barusan.
“Dua sembilan itu tua tau. Bentar lagi kita umur tiga puluh.” Vano memilih mengangguk. Dia memang tak akan pernah menang jika berdebat dengan istrinya.
Tak terasa karena mereka berbicara banyak, rupanya ketiga anak mereka sudah ada di depan mereka dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya.
“Gimana? Seru gak?” tanya Vano pada anak-anaknya. Ketigaanya mengangguk dengan kompak.
“Seru Yah. Tapi tadi pas di atas itu takut banget. Aku sampai peluk Abang,” ucap Aruna dengan semangat.
Ya Aruna tadi hampir menangis karena takut. Tapi Bian segera memeluk adiknya itu dan menenangkannya hingga gadis kecil itu mulai bisa menikmati permainan dan tertawa.
“Kamu ini ada-ada aja.” Vano dan Syasya bangkit dari duduknya. “Mau ke mana lagi? Mau naik yang mana lagi?” tawar Vano.
Mereka bertiga mengedarkan pandangannya melihat permainan apa yang membuat mereka ingin melakukannya.
Berbagai permainan yang ada di sana mereka coba dengan bahagia. Bahkan merek masuk ke rumah hantu yang ada di sana.
Mereka kembali dengan perasaan bahagianya. “Aduh cape,” ucap Arjuna. “Duduk dulu boleh Yah?” tanya Bian pada Ayahnya yang diangguki oleh Vano.
Beberapa menit kemudian, barulah mereka bangun kembali dan berkeliling satu kali lagi sebelum mereka pulang.
“Udah nih mainnya?” tanya Syasya. Takutnya ketiga anaknya itu masih ingin bermain. “Udah Mi, udah cape juga, mau bobo,” jawab Arjuna.
“Kamu ini dari tadi bobo terus,” kekeh Syasya sambil mengusak rambut sang putra. Sementara anak itu hanya tersenyum.
Akhirnya mereka memilih untuk pulang mengingat hari juga mulai malam. Sepanjang jalan, Si kembar tertidur di pundak Bian, mungkin karena kelelahan.
Sementara Bian masih terjaga dan memastikan jika kedua adiknya tidur dengan nyenyak.
“Abang kalau mau tidur, tidur aja. Biar Arjunan Mami gendong,” ucap Syasya. Bian menggeleng. Dia mengelus kedua kepala adiknya.
“Gak usah Mi. Abang belum ngantuk kok,” tolak Bian. Syasya mengangguk. Hanya ada suara mesin kendaraan di sepanjang jalan di perjalanan pulang.
Vano fokus menyetir, sementara Syasya dan Bian fokus melihat indahnya jalanan kota di malam hari.
“Ngomong-ngomong, kita belum sempat main ke rumah Mami, Papi. Bunda sama Ayah juga belum. Rencananya kapan kita kumpul bareng?” tanya Syasya.
Kedua orang tuanya dan juga orang tua Vano memang sudah mengetahui jika mereka mengadopsi anak, tapi mereka belum sempat bertemu dengan Bian.
“Emm, besok kan masih sekolah, gimana kalau hari minggu ini?” saran Vano. Syasya mengangguk sementara Bian terdiam menyimak percakapan keduanya.
“Boleh aja. Tapi jangan bilang mendadak. Bilang dari sekarang sama Bunda dan Ayah. Biar aku yang bilan Mami sama Papi.” Vano mengangguk menyetujui saran Syasya.
“Kamu gak ada acara minggu ini, Bang?” Vano bertanya takutnya anaknya itu memiliki rencana dengan temannya atau apapun itu.
Bian menggeleng. “Gak ada, Yah. Kita mau ketemu ... “ Bian menggantungkan kalimatnya takut jika apa yang akan diucapkan setelahnya salah.
“Iya, kita ketemu kakek, nenek kamu ya minggu ini. Sebelumnya mereka emang udah tau, tapi mereka kan belum ketemu kamu. Jadi minggu ini kita ketemu mereka,” jelas Vano.
Bian mengangguk mengerti. “Boleh. Bian gak ada acara,” ucapnya.
Tak terasa perjalanan mereka sudah usai. Mereka tiba di rumah dengan selamat. “Langsung tidur ya, besok masih sekolah.” Syasya memperingati Bian.
Bian mengangguk. Dia mengambil alih Aruna yang tertidur sementara Arjuna ada di gendongan Vano.
Mereka tak kuasa membangunkan Si Kembar karena mereka tertidur sangat lelap. Sementara Syasya membuka pintu, kedua pria itu masuk dan menuju kamar Si Kembar untuk membaringkan mereka.
Setelah selesai, Bian kembali ke kamarnya. Namun sebelum itu dia menghadap pada Vano dan Syasya. “Selamat malam, Mi, Yah.” Senyum mengembang di wajahnya setelah dia mengatakan hal itu.
Sebuah kalimat yang selalu ingin dia ucapkan sejak lama akhirnya kini keluar dari mulutnya. Syasya dan Vano tersenyum. Mereka cukup terkejut, mereka tak menyangka Bian akan berkata seperti itu mengingat pria itu terlihat cukup pendiam.
“Selamat malam juga, Bang. Tidur yang nyenyak ya.” Bian mengangguk sebelum kemudian dia pergi ke kamarnya.
Syasya dan Vano saling berpandangan. Vano merangkul pinggang Syasya dan menuju ke kamar mereka untuk istirahat.