
Hari ini tepat hari ketiga sesuai dengan yang dijanjikan oleh Vano. Vano kembali ke rumah kecil itu. Rumah yang di dalamnya hanya ada satu orang bocah.
“Permisi,” sapa Vano. Sepulang kantor dia langsung ke tempat ini. Rencananya jika Bian setuju dengan tawarannya, dia akan langsung membawa anak itu ke rumahnya.
“Iya.” Seorang bocah datang dari dalam rumah kecil itu dengan senyum yang mengembang karena melihat siapa yang datang.
“Duduk, Om.” Bian mempersilahkan Vano duduk di bangku yang ada di depan rumahnya. Vano duduk sebelum kemudian dia masuk ke topik utama mereka.
“Jadi gimana? Kamu udah ambil keputusan?” tanya Vano pada Bian. Bian menunduk.
“Sebelumnya terima kasih Om udah mau tawarin Bian buat tinggal di rumah Om. Tapi apa yang lain gak keberatan? Bian takut dengan adanya Bian akan mengubah yang lainnya,” ucap anak itu.
Vano menggeleng. “Om udah bicarain ini sama istri Om, juga kedua anak Om dan mereka setuju. Bahkan Aruna sama Arjuna sangat senang karena katanya mereka akan punya Abang,” kekeh Vano.
Dia masih mengingat bagaimana kedua anaknya itu sangat kesenangan. “Benarkah?” Bian kembali bertanya untuk memastikan yang lagi-lagi dianggukki oleh Vano.
“Jadi gimana? Kamu mau kan?” tanya Vano. Perlahan Bian menghela nafasnya dalam sebelum dia mengambil keputusan.
“Bian mau Om,” ucapnya pada akhirnya. Semoga keputusan yang dia ambil ini tidak salah.
Vano bernafas lega setelah dia mendapatkan jawabannya. “Kalau gitu kemasi barang kamu, kita pulang ke rumah sekarang,” ajak Vano.
Bian mengangguk. Dia agak terharu karena ucapan Vano yang mengajaknya untuk pulang. Selama ini jika dia ingin pulang, dia akan pulang sendiri tanpa ada yang mengajak. Tapi kali ini berbeda.
“Sudah?” tanya Vano setelah melihat Bian sudah selesai dengan barang-barangnya. Bian mengangguk seraya tersenyum.
“Oke, kita berangkat!” seru Vano.
Mereka pulang bersama dengan perasaan yang sama-sama bahagia. Vano yang bahagia karena ada satu anggota baru di keluarganya dan Bian yang bahagia karena sekarang dia punya keluarga.
Sepanjang perjalanan mereka membicarakan banyak hal. Vano dapat menangkap jika pria di sampingnya itu memang sangat cerdas.
Untuk ukuran anak yang tak sekolah, Bian mengetahui banyak hal yang belum tentu orang seperti dirinya tahu.
Mereka sampai di rumah mereka. Arjuna sedang asik dengan game-nya dan Aruna masih betah dengan soal-soal matematika yang sedang dia kerjakan.
Entahlah, mengapa kedua anaknya itu sangat memiliki hobi yang berbeda padahal mereka kembar.
“Ayah pulang!” seru Vano saat dia memasuki rumah. Pria itu menjinjing sebuah tas agak besar yang mana di dalamnya ada baju-baju Bian. Bian mengikuti pria itu di belakangnya.
Syasya datang dari arah dapur dengan apron yang masih melekat di tubuhnya. Bahkan spatula masih dia pegang saat ini.
“Oh udah pulang? Tumben cepat?” tanya Syasya. Namun dia tak lagi mempedulikan jawaban Vano, dia hanya fokus pada orang yang ada di belakang Vano.
“Bian?” tanya Syasya namun pandangannya meminta jawaban pada suaminya.
“Iya, dia mau tinggal di sini dan sekarang keluarga kita bertambah satu orang,” ucap Vano dengan senyum yang masih terukir di wajahnya.
Perlahan senyuman Syasya mengembang. Bukan hanya gadis itu tapi Aruna dan Arjuna yang tadinya sedang sibuk dengan kegiatan mereka, saat ini melepaskannya dan pandangannya beralih pada Bian.
“Jadi kita punya Abang?!” tanya Arjuna dengan girang. Vano mengangguk.
“Yeaayyy kita punya Abang!!!” Sangat terlihat sekali jika mereka sangat girang dengan kehadiran Bian.
Bian membalas pelukan adik-adiknya itu. Air matanya mengalir karena dia merasa sangat terharu.
Syasya juga perlahan menghampiri Bian dan ikut bergantian memeluk anak itu. Bian membalas pelukan Syasya.
“Semoga betah di sini ya. Jangan sungkan, mulai sekarang kita orang tua kandung kamu,” ucap Syasya yang sukses membuat tangis Bian pecah.
Setelah selesai dengan sesi peluk-pelukan, mereka duduk di ruang keluarga. Sebelumnya Syasya sudah menyelesaikan masaknya jadi tak perlu khawatir masakannya akan gosong atau apapun itu.
“Kamu sekarang udah jadi bagian dari keluarga kita. Jangan panggil Om sama Tante lagi. Panggil Ayah sama Mami, oke?” tanya Vano.
Bian mengangguk. “Kamar kamu ada di atas, di sebelah kamar si kembar. Kalau ada apa-apa langsung kasih tau kita, gak perlu canggung.” Kali ini Syasya yang berkata.
“Besok Ayah akan urus sekolah kamu. Mungkin kamu akan mulai sekolah nanti minggu depan,” ucap Vano.
Untuk beberapa jenjang sekolah yang Bian tinggalkan, Vano juga akan mengurusnya sehingga Bian saat ini akan sekolah sesuai dengan usianya.
“Terima kasih,” ucap Bian. Dia masih agak kaku walaupun Vano sudah mengatakan jika dia tak perlu canggung.
“Ya sudah, sekarang kamu istirahat.” Vano mengusap kepala Bian dengan lembut. “Kalian juga istirahat,” ucap Vano pada si kembar.
Ketiga anaknya naik ke kamarnya seperti yang dikatakan Vano. Sementara pria itu masih di sana dengan sang istri.
“Akhirnya dia mau tinggal sama kita,” ucap Bila lega. Mereka memang tak memiliki motif lain selain karena mereka merasakan rasa yang berbeda pada Bian.
Ada sedikit rasa iba, salut dan juga rasa ingin menjadikan pria itu sebagai anak mereka.
“Kamu mau urus kapan sekolah dia?” tanya Syasya. “Besok aku akan urus sekolah dia. Kalau kamu ada waktu, belanja sama anak-anak buat beli perlengkapan sekolah, bajunya dan apapun itu yang dia butuhkan. Belikan juga buat Arjuna dan Aruna,” ucap Vano.
“Setiap hari aku memang tak ada kerjaan selain memasak. Jadi sepertinya ini waktu yang pas buat aku senang-senang,” kekeh Bila.
“Lakukan apapun yang kamu mau selama itu masih di batas wajar.” Vano memberikan kartunya. Tenang saja, ada banyak uang di dalamnya yang bisa Syasya dan anak-anaknya habiskan.
Sebenarnya Syasya juga mempunyainya, itu juga Vano yang selalu memberikan uang padanya. Tapi untuk kali ini Vano memberikan punyanya dan tak membiarkan Syasya memakai uangnya.
Syasya tak menolaknya. Ini kesempatan baginyaa untuk menikmati hasil dari kerja keras suaminya selama ini.
“Makasih,” ucap Syasya sambil mencium kartu itu seolah kartu itu sangat berharga dibanding apapun.
“Mandi dulu sana, nanti kita makan bareng,” ujar Syasya. “Kayanya aku mau mandi pakai air hangat,” kekehnya. Entah kenapa hari ini terasa sangat dingin.
Syasya mengangguk paham. “Aku siapin dulu sebentar.” Syasya beranjak dari sana untuk menyiapkan air hangat untuk suaminya.
“Jangan lama-lama, badan aku udah lengket semua,” ucap Vano. Entah Syasya mendengarnya atau tidak karena gadis itu sudah berlalu.
Vano menggelengkan kepalanya. Dia menjadi sangat bahagia hanya dengan kedatangan satu anggota keluarga saja.