
Pertemuan mereka tempo hari membuat mereka seperti kembali ke masa lalu. Hanya saja sekarang mereka kedatangan anggota baru yaitu anak-anak mereka.
Rasanya jadwal Vano minggu ini sangat sibuk. Pekerjaannya, bertemu dengan teman-temannya dan hari ini mereka akan pergi ke rumah orang tua Vano untuk pertemuan yang telah mereka janjikan.
“Abang, jangan lupa bawa jaket!” teriak Syasya dari kamar Si Kembar. Entah anaknya itu menyaut atau tidak, yang penting apa yang diperintahkannya diikuti oleh anaknya itu.
“Iya Mami!” Bian juga berteriak karen dia takut Maminya itu tak akan mendengar ucapannya jika dia tak berteriak.
Syasya masih sibuk dengan kedua anaknya yang masih kecil, sementara Bian dia biarkan karena Syasya yakin anaknya yang satu itu sudah bisa mengurus dirinya sendiri.
“Sudah siap?” Vano datang dari kamarnya untuk melihat sudah sejauh mana anaknya bersiap.
“Siap.” Semuanya sudah selesai ketika Vano sampai di atas. Tepat waktu juga adalah salah satu yang diajarkan Vano pada anaknya.
“Oke ayo kita berangkat.” Mereka berangkat setelah meyakinkan tak ada yang tertinggal.
Membutuhkan waktu cukup lama untuk mereka bisa tiba di rumah Vano. Di sana Bunda dan Ayahnya sudah menyambut. Tak hanya mereka, rupanya Mami dan Papi Syasya juga sudah ada di sana begitupun denga Tristan, Lita dan Jo.
“Kalian cepat banget. Kita kira bakal kalian yang telat,” ucap Syasya.
“Gue gak pernah telat,” jawab Tristan. Syasya merotasikan bola matanya. Dia dengan Abangnya memang tak akan pernah bisa akur.
Selalu saja ada momen di mana mereka mempermasalahkan sesuatu.
“Udah ah yu masuk dulu, jangan ribut di sini,” ajak Bunda Vano. Mereka ternyata juga sudah menyiapkan makanan.
“Ayo Sayang masuk.” Syasya mengajak Bian. Dia tahu secanggung apa putranya itu sekarang. Itu sebabnya dia harus lebih merangkul anak itu dikala seperti ini.
Semua orang duduk di kursi yang telah disediakan dengan makanan yang melimpah di depan mereka.
Seperti tujuan awal mereka, mereka berkumpul karena Vano ingin memperkenalkan anaknya pada keluarga besarnya.
Meskipun Tristan dan keluarga sudah mengetahuinya, orang tua mereka masih belum bertemu dengan Bian. Dan saat inilah kali pertama mereka bertemu.
“Ini yang Vano bicarakan. Namanya Bian, sekarang dia sekolah di SMA,”
“Ganteng banget,” ucap Mami Syasya spontan. “Mami cepet banget kalau sama yang ganteng,” jawab Syasya.
Semua orang yang ada di sana terkekeh. Selain Bian yang memperkenalkan diri, semua orang di sana juga memperkenalkan dirinya agar Bian tahu siapa saja yang ada di sana.
“Kalau ada apa-apa hubungin Oma ya, jangan sungkan.” Bunda Vano kali ini yang berbicara.
Dia juga tak menyangka akan mendapatkan cucu baru dari anaknya. Sebenarnya sebelum melakukan ini Vano juga sudah meminta persetujuan dari orang tuanya dan juga orang tua Syasya dan mereka menyerahkan keputusan pada Vano dan Syasya.
“Yok sekarang makan dulu. Bunda sama Mami tadi masak banyak. Pokonya harus habis, jangan sampai sisa,” candanya.
Namun, mereka semua mengangguk dan mulai melahap makanan yang ada di depannya.
“Makan Sayang, gak usah sungkan.” Syasya berucap demikian karena sepertinya Bian tak selera.
Dia menjadi lebih pendiam dan terlihat tidak nyaman. “Bang kamu kenapa?” Vano yang menyadari itu segera bertanya.
Bian tersenyum canggung dan menggeleng. “Gak apa-apa, Yah.” Setelah menjawab pertanyaan Vano, dia kembali melahap makanannya.
Namun, Vano tak percaya begitu saja. Dia yakin ada yang salah denga putranya itu.
Setelah agak lama, Vano akhirnya berani bertanya. “Bang, kamu ada alergi?” Semua pandangan tertuju pada Bian ketika Vano berkata demikian.
Bian yang merasa di perhatikan menjadi agak gugup dan tersenyum canggung. “Stop makan,” perintah Vano.
Benar saja apa yang dikatakannya, Bian memiliki alergi. Terlihat dari ruam merah yang perlahan muncul di wajahnya. Lama-kelamaan ruam itu menjadi semakin banyak hingga wajah Bian terlihat merah sepenuhnya.
“Kita ke rumah sakit sekarang.” Vano bangkit dari duduknya. Yang lain juga ikut panik melihat Vano yang panik.
Bian menggeleng. “Gak usah Yah. Bian udah biasa, nanti juga sembuh sendiri,” jawab Bian. Walaupun dia akui, wajahnya terasa sangat gatal saat ini.
“Ikut Ayah.” Vano menarik tanga Bian menuju mobilnya. Dia tak marah, hanya saja dia khawatir dengan keadaan putranya.
“Dia gak apa-apa kan?” Mami Syasya bertanya dengan wajahnya yang juga panik.
Mereka yang ada di sana tak bisa banyak membantu karena itu memang bukan specialis mereka.
“Syasya yakin gak apa-apa. Vano juga bawa dia ke rumah sakit, nanti dia juga baikan.” Sebenarnya Syasya juga panik dengan keadaan putranya saat ini. Tapi dia mencoba mengubur rasa paniknya, karena jika dia juga panik, semua orang yang ada di sana juga ikut panik.
Sementara itu Vano dan Bian kini sudah dalam perjalanan. “Kamu masih bisa tahan kan?” tanya Vano. Sangat ketara jika pria itu sangat khawatir saat ini.
Bian mengangguk dengan senyum yang melekat di wajahnya. “Kamu alergi apa?” Vano bertanya karena dia yakin jika Bian juga sudah mengetahui itu.
“Kacang, Yah,” jawabnya. Vano menghela nafas dalam. “Kalau kamu tau kenapa masih dimakan?” tanya Vano.
“Bian gak enak kalau gak makan. Lagian ini pertemuan pertama Bian sama Oma, Opa. Masa Bian gak ngehargain usaha mereka sih.” Lagi-lagi Vano dibuat menghela nafas oleh putranya itu.
“Kan masih ada makanan lain di sana selain itu, Bang.” Bian mengangguk. “Bian tau Yah. Itu juga Bian berusaha menghindari kacang. Makanan yang Bian ambil kelihatannya gak ada kacangnya, tapi ternyata ada.”
Vano bisa mengerti dengan hal yang dikatakan putranya. Itu berarti hampir semua makanan yang ada di sana mengandung kacang.
Tak aneh bagi Vano karena Bunda Syasya sangat menyukainya begitupun dia. Jadi sepertinya mereka sengaja memasak dengan banyak unsuk kacang karena tahu Vano menyukainya.
“Kamu sering ngalamin hal kaya gini?” Vano kembali bertanya. “Sering. Tapi Bian gak pernah berobat. Didiamkan juga nanti reda sendiri,” lanjutnya.
“Berapa lama sampai sembuh kalau gak minum obat?” Bian terlihat sedikit berfikir ntuk menjawab pertanyaan Vano yang satu itu.
“Kalau gak salah tiga sampai empat hari. Tapi nanti pasti sembuh kok.” Vano tak habis fikir dengan putranya itu.
“Mulai sekarang jangan didiamkan, kalau kamu sakit atau punya keluhan apapun itu, bilang sama Ayah. Jangan diam, mengerti?” Vano sangat khawatir dengan kepribadian Bian yang satu itu.
Bian mengangguk, sepertinya mulai sekarang dia tak bisa lagi menjadi pribadi yang bodo amat karena sekarang dia memiliki orang yang sangat memperhatikannya melebihi apapun.