Complicated Love

Complicated Love
S2 - Cepatnya Waktu Berlalu



Lima tahun kemudian ...


Bian sudah menginjak bangku perkuliahan. Akhirnya setelah sekian lama perjuangan dan sandiwara yang dia lakukan, dia bisa keluar dari kubang penderitaan itu.


Kedua orang tuanya sama sekali tak mengetahui apa yang dialami Bian di sekolah saat itu. Yang Syasya dan Vano tahu, Bian sekolah seperti murid pada umunya dan dia berhasil meraih prestasi di kelas dua dengan menjadi juara Olimpiade Sains.


“Abang!! Lama banget, ini Kiana udah nunggu lama loh!!” Syasya berteriak dari lantai bawah. Sudah sekitar dua puluh menit Bian di kamarnya dan sekarang dia masih belum juga keluar.


“Iya, Mi sebentar. Ini tanggung.” Bian akhirnya keluar dengan tangan yang sibuk membenarkan resleting celananya.


“Kaya cewek kamu tuh dandan lama amat,” ejek Syasya yang saat ini sedang mengangkat kue yang dia buat.


“Ya kan kalau mau kencan itu harus cakep, Mi. Kiana juga bakal mau kalau penampilan Abang acak-acakan. Iya gak, Na?” Bian meminta persetujuan dari kekasihnya.


Kiana hanya bergidik ngeri mendengar ucapan Bian yang terlalu percaya diri. “Udah dia datang sendiri ke rumah, disuruh nunggu pula.”


“Mi, sebenarnya anak Mami tuh Kiana atau Abang sih?” Bian meragukan keberadaannya di sini karena sedari tadi Maminya terus saja membela Kiana.


Kiana terkekeh. “Gak apa-apa, Mi. Lagian tadi Bian juga mau jemput, cuma emang Kiana aja yang mau datang ke sini sendiri.” Akhirnya Kiana membela Bian.


“Tuh kan. Abang gak pernah nyuruh cewek Abang berangkat sendiri. Tapi dia yang mau.” Merasa di bela, Bian malah semakin memojokkan Syasya.


“Iya iya tau yang dibela pacar.” Syasya menghidangkan kue yang baru saja dia angkat. “Nih cobain dulu sebelum kalian berangkat,” ucap Syasya.


Dari atas, datang Si Kembar dengan baju tidurnya. Mereka benar-benar siap untuk terlelap sepertinya. Padahal jam baru saja menunjukkan pukul tujuh malam.


“Mau!!” teriak dua remaja itu. Ya, sekarang si kembar sudah besar. Mereka berada di kelas dua SMP sementara Bian sekarang sudah kuliah di tingkat tiga.


“Sini,” ucap Syasya sambil melambaikan tangannya memberikan kode pada si kembar agar menghampirinya.


“Enak, Mi. Kenapa gak buka toko aja. Ini enak loh,” komentar Kiana saat dia baru saja menelan suapan pertama.


“Emm iya juga yah. Kenapa gak kepikiran,” ucap Syasya. “Nanti Mami bilang Ayah deh biar dibuatin toko depan rumah,” kekeh Syasya. Entah ucapannya itu hanya candaan atau serius.


“Eh iya, Ayah belum pulang juga, Mi?” Kali ini Aruna yang bertanya. 


“Belum. Tadi sih Ayah telpon katanya pulang malam, soalnya kerjaannya belum kelar,” jawab Syasya.


“Belakangan ini Ayah sibuk banget kayanya,” timpal Bian. “Makanya kamu cepat lulus biar bisa bantu Ayah di kantor,” lanjut Syasya.


“Maunya sih tahun ini, Mi. Tapi gak tau ya.” Syasya mengangguk.


“Bang Bian mau ke mana emangnya?” Arjuna bertanya karena penampilan Abangnya itu yang sudah rapi ditambah dengan parfum yang sangat menyeruak.


“Mau pacaran dong,” sombong Bian yang berhasil mendapatkan pukulan ringan di lengannya dari Kiana.


Tentu saja gadis itu memukul Bian karena percaya diri pria itu sudah sangat di atas rata-rata. 


“Kapan ya Abang punya pacar?” tanya Arjuna yang didengar oleh semua orang yang ada di sana.


“Heh, kamu masih kecil!” seru Syasya. Arjuna merotasikan bola matanya. Dia merasa de javu dengan adegan ini.


“Mami dari dulu emang selalu bilang Abang masih kecil. Terus kapan gedenya?” lelah Arjuna yang lagi-lagi membuat semua orang tertawa.


“Nanti kalau udah kaya Abang,” jawab Maminya. “Hhmm hhmm terserah Mami.” Mereka melanjutkan memakan kue buatan Syasya hingga habis.


“Bian berangkat sekarang deh, Mi. Takut kemalaman,” pamit Bian pada Syasya.


“Iya Mami ~ “


Mereka beranjak dari saja. Sebelum mereka benar-benar keluar dari rumah, sebuah suara menginterupsi mereka.


“Abang, pulangnya bawa bakso ya!” teriak Aruna. Dingin-dingin seperti ini memang akan sangat enak memakan makanan berkuah yang hangat.


Bian mengangguk dan mengacungkan jempolnya pertanda dia mengerti dengan permintaan Aruna.


Mereka akhirnya benar-benar pergi untuk berkencan. 


“Mi, ingat gak lima tahun lalu waktu Bang Bian pulang dengan keadaan babak belur?” tanya Aruna tiba-tiba pada Maminya.


“Hhmm ingat. Emang kenapa?” tanya Syasya sambil melanjutkan memanggang kue yang dia buat. Ya, saat ini mereka sedang berada di dapur menemani Syasya yang sedang melanjutkan kegiatannya.


“Mami gak penasaran apa yang terjadi sebenarnya?” Entah kenapa adegan ketika Bian pulang dengan keadaan seperti itu kembali terputar di pikirannya.


“Dia kan udah bilang waktu itu kalau dia kelahi,” jawab Syasya. “Terus Mami percaya gitu aja?”


“Kamu ini kenapa sih? Kenapa tiba-tiba nanya gitu?” Syasya mulai tidak mengerti dengan pembahasan mereka saat ini.


“Enggak, belakangan ini Kakak jadi keingat itu lagi soalnya ada kasus di sekolah Kakak,” jawab Aruna.


“Kasus apa?” tanya Syasya mulai tertarik dengan pembahasan ini.


“Kemarin ada siswa yang dikeluarin dari sekolah karena dia bully temannya sendiri.” Syasya mengernyitkan keningnya agak aneh dengan penuturan anaknya.


“Kok bisa sih bully teman sendiri?” tanya Syasya. Aruna mengangguk. “Bang, Abang tau juga kan soal kasus itu?” Aruna mencoba bertanya pada Arjuna agar pria itu memperkuat ucapannya.


“Hhmm, katanya selama ini status ‘teman’ itu cuma topeng buat nutupin keburukan pelaku,” jawab Arjuna.


“Ih kok ngeri sih,” timpal Syasya. “Nah, kan. Makanya Kakak nanya gitu sama Mami.”


“Jadi maksud kamu, Bang Bian juga ngalamin hal yang sama?” Syasya meminta pendapat anaknya.


“Kakak sih gak bisa tebak gitu aja. Ya cuma Kakak takut aja kejadian yang terjadi di sekolah Kakak itu juga terjadi sama Abang. Apalagi Kakak lihat Abang tertutup banget soal kehidupan sekolahnya,” jelas Aruna.


Apa yang dikatakan Aruna memang ada benarnya. Selama ini jika Syasya bertanya tentang sekolah Bian, pria itu akan selalu menjawab, “Baik kok, Mi.” 


Cukup hanya dengan kalimat sependek itu. Syasya terlihat sedikit berpikir tentang hal itu.


“Tapi kalaupun benar, Bang Bian kan sekarang udah gak di sekolah itu lagi. Belakangan ini dia kelihatan lebih happy juga kok.”


Si kembar mengangguk. “Iya syukurlah kalau sekarang Bang Bian jadi tambah happy, Kakak kan juga tadi bilang gitu karena penasaran aja dan juga takut.”


Syasya mengangguk. “Iya Sayang. Makasih udah khawatir sama Abang kamu.” Aruna mengangguk.


Mereka menyudahi percakapan tentang bully dan juga kehidupan SMA Bian. Saat ini mereka fokus pada kue yang dibuat Syasya.


“Gimana? Bagus gak tampilannya?” Syasya meminta pendapat si kembar.


“B-bagus, Mi,” ucap Aruna. “Agak aneh sih. Kaya lipatan perut.” Itu Arjuna yang menjawab dan sontak Aruna menyenggol lengan Abangnya itu.


“Jelek ya,” lirih Syasya.