Complicated Love

Complicated Love
Chapter 38



Pagi ini mereka sepakat untuk berjalan-jalan di sekitar pantai dan tentu saja kuliner.


"sarapan apa kita pagi ini?!!" seperti biasa, Hans menghidupkan suasana di saat yang lain sibuk menguap dan ada yang masih di dunia mimpinya.


"berisik ******!" ujar Rian. Pria itu masih dengan posisi nyamannya dimana kakinya di atas sandaran sofa dan kepalanya berada di dudukannya.


"heh! kita ke sini mau jalan-jalan. Kenapa malah ngebo semua sih!?" dengan jengkel Hans melangkahkan kakinya menuju pantai.


Pria itu memilih menghabiskan waktunya sendiri daripada menunggu teman-temannya yang masih tidur.


"hhiii kok ngeri ya" monolognya sambil bergidik.


Bagaimana tidak? Ini bahkan belum genap pukul lima, dan pria itu tengah berjalan di pesisir pantai seorang diri.


"eh apa tuh?" ucapnya lagi saat dia melihat bayangan hitam di semak-semak.


Sepersekian detik pria itu telah berlari terbirit-birit karena ketakutan. Bahkan keringatnya saat ini mengucur deras.


"cih, penakut" ucap wanita yang bersembunyu dalam semak.


***


"aaaa setaaannn!" teriaknya saat tiba di villa.


Anak-anak lain sontak terbangun dengan mata yang terbuka lebar.


"apa lagi sih Hans?!" kini Tristan yang berbicara.


"itu bang, ada setan di semak-semak" ucapnya dengan badan yang bergetar.


"heh gila! Mana ada setan pagi-pagi gini"


"sumpah bang gue lihat bayangan hitam" tangannya sibuk menggambarkan bagaimana bayangan itu terlihat.


"ya udah iya terserah lo" anak-anak yang lain hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Hans. Mereka hanya butuh tidur saat ini. Ya, dan mereka tidur lagi menyisakan Hans yang masih bergetar.


"gue harus mandi lagi" lirihnya. Bagaimana tidak, tubuhnya saat ini basah dengan keringat.


***


"main volly pantai mau gak? Yang mau aja lah ayo" teriak Lita. Gadis itu sangat bersemangat dengan liburannya.


"ayo!!" ucap yang lainnya kecuali Tristan, Vano dan Syasya.


Sementara yang lain bermain volly, mereka bertiga hanya berdiam diri memandang keindahan pantai dan mengambil beberapa foto untuk diabadikan.


"Van, aku pengen berenang deh" ucap Syasya tiba-tiba.


"jangan deh, di pinggir aja main air" jawabnya.


"yah, gak seru dong" sepertinya gadis itu kecewa dengan jawaban Vano.


Vano yang peka dengan raut wajah Syasya tersenyum penuh arti. Tangannya terangkat untuk mengusap surai Syasya.


"ga usah pacaran depan gue!" sinis Tristan.


"lah, kita berdua emang pacaran. Lo aja yang jangan diem di depan orang pacaran" balas Syasya.


"Sya, ga boleh gitu" ucap Vano mengingatkan. Bagaimanapun Tristan adalah abangnya.


"ya lagian dia ganggu" bibir Syasya maju menandakan bahwa dia kesal. Sementara Vani hanya terkekeh melihat kelucuan gadisnya inu


Tristan yang merasa menjadi nyamuk di antara mereka akhirnya memutuskan untuk mengikuti permainan volly yang terlihat seru.


"ya boleh ya, aku janji gak terlalu jauh" Vano tersenyum dan mengangguk, dia tak bisa menolak keinginan pacarnya ini.


"ya udah boleh. Hati-hati jangan jauh-jauh" ucao Vano.


"atau kamu ikut aja!" ucap Syasya antusias.


"engga ah aku males. Kamu aja" akhirnya Syasya pergi sendiri. Sementara Vano hanya memperhatikan Syasya dari pinggir pantai.


Beberapa menit setelah kepergian Syasya, ada orang juga yang sepertinya akan menyelam karena baju yang dia gunakan sangat lengkap.


Sesekali Vano memainkan game online di ponselnya. Rasanya sudah sangat lama dia tak memainkannya lagi.


Namun saat netranya kembali menengadah untuk melihat Syasya, pria itu dikagetkan dengan tak terlihatnya Syasya di permukaan air.


Hanya ada ombak yang terus saling mengejar untuk sampai di pesisir. Perlahan Vano mengedarkan pandangannya barangkali Syasya berpindah tempat. Namun nihil, dia tak menemukannya.


Tanpa berpikir panjang, Vano segera berlari ke ke tempat terakhir dia melihat Syasya.


"Sya! Kamu di mana?!" teriakannya itu membuat semua teman-temannya menoleh ke arah Vano dan menghampirinya.


Tristan datang dengan nafas yang terengah-engah. Bagaimana tidak, dia berlari di atas pasir.


"kenapa Van?" tanyanya.


"Syasya bang, tadi dia pamit mau berenang, tapi gak ada" panik Vano.


"lo gila? kenapa di biarin sendirian bego!" bentaknya. Tristan segera masuk ke dalam air dan menyelam. Dia takut adiknya tenggelam.


Tak hanya Tristan, Vani juga menyusul Tristan. Pria itu sangat gelisah sekarang. Tapi dia harus menemukan Syasya.


Sementara teman-temannya yang lain mencari di tepi pantai dan beberapa tempat di sekitarnya.


Vano menyelam sudah cukup dalam. Dan dia melihat orang yang tadi menggunakan pakaian selam. Vano mendekati orang itu dan betapa kagetnya dia saat melihat orang itu tengah menarik kaki Syasya.


Vano segera mendekati Syasya begitupun dengan Tristan yang melihat objek yang sama. Mereka berdua segera menarik tangan Syasya agar lepas dari cengkraman orang yang menarik gadis itu.


Beruntunglah mereka cepat menyadari ketidakhadiran Syasya. Jika terlambat sebentar saja mungkin mereka akan benar-benar kehilangan gadis itu.


Mereka berdua berhasil membawa Syasya ke permukaan dan segera memberikan pertolongan pertama.


Syasya terbatuk saat kesadarannya kembali. Nafasnya terengah-engah. Vano lupa jika gadia ini memiliki penyakit.


"Lita! ambilin inhaler!" terika Vano.


Lita segera berlari ke arah vila beruntunglah itu tak terlalu jauh dari pantai.


"kalian lihatin sekitar. Tangkap orang yang pakai baju selam!" perintah Tristan.


"Sya, Sya kamu gak apa-apa?" tanya Vano khawatir. Pria itu ingin sekali merengkuh tubuh Syasya. Namun keadaan Syasya saat ini sangat tidak memungkinkan.


Lita kembali dengan inhaler di tangannya. Gadis itu membantu Syasya untuk menggunakannya.


Perlahan nafas Syasya mulai stabil. Vano segera memeluk Syasya. Kekhawatiran di hatinya sedikit berkurang melihat kekasihnya kini ada di hadapannya.


"bang, gue bawa Syasya ke villa aja. Kabari. gue kalau orang itu udah ketangkap" ucap Vano.


"oke. Hati-hati, jagain adek gue. Jangan di apa-apain" teriak Tristan mengingat Vani kini sudah berjalan lumayan jauh.


"gue gak janji!" balasnya. Vano terkekeh dengan Syasya di gendongannya.


***


"ternyata lo!" bentak Tristan.


"gak habis pikir gue lo berani datang ke sini cuma mau celakain adek gue!" emosi Tristan benar-benar ada di puncak saat ini.


Hans dan Rian sibuk mengikat tangan Bianca. Ya, gadis itu datang ke sini. Bukankah dia menggali kuburannya sendiri?


"ayah, aku menemukan buronan itu. Datang ke tempat aku berlibur" ucap Dina pada ayahnya sebelum dia memutuskan sambungan telepon.


"tamat lo sekarang!" ledek Tristan.


Sebuah tamparan mendarat di pipi sebelah kiri. gadis itu.


"itu buat lo yang ganggu hidup sahabat gue!" teriak Lita. Matanya sudah memerah karena amarah.


Sementara Bianca, dia hanya berdecih.


"cuma segitu kekuatan lo?" ledek Bianca.


Tristan segera menghentikan Lita saat gadis itu mengangkat tangannya kembali untuk menampar Bianca.