
Akhirnya setelah Syasya menjemput Vano ke kamar Bian, mereka kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur mereka. Hari juga memang masih malam. Secara spontan Vano membaringkan badannya di ranjang disusul oleh Syasya yang berbaring dalam dekapan Vano.
Mereka tertidur hingga matahari keluar dari peraduannya. Perlahan Vano membuka matanya. Dia sadar jika saat ini dia tak berada di kamar Bian melainkan di kamarnya.
“Ada-ada aja,” kekehnya sambil memijat kepalanya.
Syasya masih tertidur dalam dekapannya. Vano yang tak ingin membangungkan gadis itu berakhir diam mematung tanpa ada niat untuk bangkit hingga beberapa saat barulah gadis itu menggerakkan badannya.
“Bangun yuk udah siang,” ucap Vano.
Syasya mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. “Ennghh, aku masih ngantu.” Bukannya bangun, gadis itu malah kembali mencari posisi nyaman dan memejamkan matanya.
“Kok gitu sih, itu anak-anak mau ke sekolah siapa yang siapin sarapan?” tanya Vano. Dia tak akan membiarkan Syasya kembali tidur.
Dengan jahil tangannya bergerak menyusuri wajah cantik Syasya mulai dari mata, hidung dan berakhir di bibir.
Vano membelai bibir itu sebelum dia mendekatkan dirinya untuk menciumnya berulang kali.
Syasya yang merasa terganggu dengan hal itu akhirnya membuka matanya. “Kamu ini apaan sih,” protesnya.
“Kok apaan, aku cuma cium kamu loh,” jawab Vano. Syasya tak lagi menjawab, akhirnya dia bangkit dari posisi tidurnya.
Dia duduk beberapa saat untuk mengmpulkan nyawanya. “Kenapa malam malah jemput aku?” Vano mencoba menggoda istrinya.
“Gatau, aku kesepian,” jawab Syasya seadanya. Sementara Vano terkekeh dengan jawaban gadis itu.
“Awalnya aja dorong-dorong aku buat tidur di luar, pada akhirnya juga tetap gabisa, kamu itu emang ditakdirkan buat gak bisa jauh-jauh dari aku,” jelas Vano.
“Iya terserah kamu.” Syasya yang otaknya belum sepenuhnya jalan akhirnya hanya menjawab seadanya saja.
“Padahal aku lagi bobo nyenyak banget semalam sama Bian.” Vano berucap seolah dia keberatan kembali ke kamarnya.
Syasya yang mendengar itu sontak menatap dirinya dengan tajam. “Ya kalau gak mau tidur sama aku keluar lagi aja dari kamar!” sentak Syasya.
Dia beranjak dari ranjang untuk kemudian menggosok gigi dan mencuci muka. Tak lama Vano datang dan memeluknya dari belakang ketika dia sedang menggosok gigi.
“Apaan sih, lepasin aku,” ucap Syasya berusaha melepaskan pelukan Vano yang tiba-tiba.
“Gak mau,” jawab Vano malah semakin mengeratkan pelukannya.
Syasya tak memiliki pilihan selain diam pasrah dengan apa yang dilakukan Vano padanya. “Jangan marah-marah terus, nanti kamu cepat tua,” ucap Vano.
Entah kenapa, sekarang apapun yang keluar dari mulut Vano selalu berhasil membuatnya kesal.
“Bagus dong, nanti kamu cari aja yang baru!” Syasya meninggalkan Vano di toilet setelah dia selesai mencuci muka.
Berada lama-lama dengan suaminya itu membuatnya naik darah dan selalu ingin marah. Sementara itu, Vano menggelengkan kepalanya. “Ada apa dengan dia?” kekehnya.
Dia mulai menggosok gigi dan juga mencuci wajahnya. Sementara Vano masih sibuk dengan kegiatannya, Syasya turun ke dapur untuk membuat sarapan.
Dia berkutat dengan segala peralatan dapur yang saat ini sudah menjadi sahabatnya. Memang, di mana lagi dia seharian setiap hari jika tidak di rumah.
Dan kegiatan yang dia lakukan selain makan dan tidur adalah memasak. “Pagi, Mi,” sapa Bian.
Pria itu sudah siap dengan seragamnya. “Hai. Pagi, Sayang. Udah siap aja nih,” ucap Syasya.
“Tunggu bentar ya, Mami masih masak.” Syasya meminta Bian untuk menunggu karena masakannya belum matang.
“Iya Mi.” Bian akhirnya duduk di kursi makan untuk beberapa saat. “Bang, boleh tolong lihat Si Kembar? Takutnya mereka belum bangun,” ujar Syasya.
Bian mengangguk dan beranjak dari sana untuk melihat kedua adiknya. Dia mengetuk pintu kamar Si Kembar.
Kali pertama, kedua tak ada yang menyahut hingga dia kemudian membuka pintu itu. Di sana tampak Aruna dan Arjuna masih tidur di ranjang masing-masing dengan selimut yang menutupi badan mereka.
Bian menggelengkan kepalanya, merasa gemas sendiri dengan kedua adiknya itu.
“Bang, Kak, bangun yuk. Udah pagi, kalian gak sekolah?” tanya Bian. Bukannya bangun, kedua anak itu malah membetulkan posisi mencari posisi nyaman.
“Hei kok malah bobo lagi sih? Kalau kalian kesiangan dan dihukum, jangan salahin Mami, Ayah atau Abang ya,” ancamnya dengan halus.
“Ahh Abang, aku masih ngantuk,” rengek Arjuna. Sementara Aruna sudah membuka matanya, hanya saja dia belum bangkit dari posisinya.
“Yuk ah bangun, nanti pulang sekolah kan bisa bobo lagi.” Bian berusaha menarik Arjuna agar bangkit dari ranjangnya begitupun dengan Aruna.
Berhasil, akhirnya Bian berhasil membangunkan kedua adiknya. “Sekarang mandi ya. Abang tunggu di bawah,” ucap Bian yang kemudian diangguki oleh kedua adinya.
Bian benar-benar kembali ke bawah setelah dia berhasil membangunkan Si Kembar. “Gimana Bang? Mereka bangun?” tanya Syasya saat Bian kembali ke sana.
“Udah Mi. Mereka lagi mandi,” jawab putranya itu. Syasya mengangguk. Tak lama, Vano turun. Kali ini dia sudah rapi dengan kemeja navy-nya.
Dia juga menenteng tas kerja lengkap dengan jas hitamnya. “Loh Si Kembar mana?” tanya Vano saat dia hanya melihat Bian saja di sana.
“Baru aja dibangunin sama Abangnya. Katanya mereka lagi mandi,” jawab Syasya. Dia menyajikan makanan yang sudah siap.
“Pagi semuanya!!” seru Aruna sambil menuruni anak tangga. Berbeda dengan ketika tadi gadis itu baru bangun, sekarang dia sangat ceria.
“Pagi juga Sayang,” jawab Vano dan Syasya. “Pagi.” Bian juga menjawab sapaan adiknya.
Akhirnya mereka semua berkumpul di meja makan dengan makanan yang sudah tersaji di hadapan mereka.
“Ya udah yuk sarapan dulu sebelum kalian berangkat,” ucap Syasya yang diaanggukki oleh semuanya.
Mereka sarapan dalam keadaan diam. Hanya ada suara sendok dan garpu yang saling beradu hingga mereka selesai dengan makanannya.
“Pulang jam berapa hari ini?” tanya Syasya pada suaminya.
“Kaya biasa paling sore sambil jemput Abang,” jawab Vano yang dianggukki oleh Syasya.
Syasya beralih pada ketiga anaknya. “Jangan lupa makan siang di sekolah, jangan sampai terlewat,” ucap Syasya memperingatkan anaknya.
Mereka bertiga mengangguk paham. “Belajar yang benar ya.”
“Iya Mi.” Dengan kompak mereka semua menjawabnya. Hal itu membuat Vano terkekeh. Entahlah pemandangan seperti ini menurutnya sangat lucu dan menghangatkan hati.
“Ya udah, kita berangkat dulu ya,” pamit suaminya. Syasya mengangguk. Dia menghampiri suaminya, memeluknya dengan erat untuk sesaat.
Vano mengecup kening sang istri cukup lama. Ketiga anaknya yang melihat itu spontan menutup mata mereka, sebenarnya itu hal biasa bagi mereka tapi mereka hanya ingin bergurau saja.
“Kita berangkat.” Mereka meninggalkan Syasya sendiri di rumah.