
Kehidupan perkuliahan kembali dimulai untuk Syasya. Sempat cuti satu tahun membuat dirinya ketinggalan oleh teman-temannya. Saat teman-temannya sudah menginjak tingkat tiga, dia masih harus mempelajari mata kuliah tingkat dua. Namun ada hal yang menguntungkan dari itu, yaitu dia bisa bertanya dengan mudah pada sahabatnya yang memang sudah menuntaskan mata kuliah tersebut.
Lita dan Syasya sepakat untuk berangkat ke kampus bersama. Sementara Dina, tentu saja dia sendiri karena memang berbeda Universitas. Namun walaupun begitu, mereka bertiga memiliki janji untuk bertemu sepulang jam kuliah mereka, beruntunglah mereka sama-sama mendapat jadwal di pagi hari.
"gimana perasaan lo balik lagi ke kampus?" tanya Lita. Senyum cerah terpancar dari kedua wajah gadis itu. Namun dengan seketika senyum di wajah Syasya memudar begitu saja saat tatapannya bertemu dengan orang yang paling ingin dia hindari.
Vano, pria itu berada tepat di hadapannya. Senyum tipis yang ditampilkan pria itu tak mengubah sedikitpun ekspresi tegang Syasya.
Nafasnya mulai berat dan tidak beraturan, kedua matanya memerah lengkap dengan tangan yang secara spontan menjambak rambutnya sendiri.
Bukannya dia sudah sembuh? Lalu kenapa ini bisa terjadi. Raut wajah Vano berubah menjadi khawatir melihat Syasya sementara Lita sedari tadi tengah berusaha menenangkan Syasya dengan memeluk tubuhnya erat.
"Van, mending lo pergi dulu" ujar Lita terdengar sangat menusuk. Vano yang masih terkejut dengan perubahan sifat Syasya hanya diam mematung di tempatnya.
"gue bilang pergi!" bentak Lita saat dirasa tubuh Syasya berontak. Dengan gelagapan Vano ingin menjawab Lita, namun ia urungkan saat melihat kondisi Syasya.
Vano segera berlari meninggalkan tempat itu dengan air mata yang sudah berjatuhan. Lingkaran hitam di bawah matanya sudah bisa membuktikan bahwa dia kurang tidur.
Vano terus berlari, tujuannya toilet saat ini. Tak ada yang bisa dia lakukan untuk saat ini selain menghindar dari Syasya. Apakah rasa sakit yang ia berikan sangat dalam hingga membuat Syasya tak bisa bertemu dengannya lagi?
Vano akan menerima jika hubungannya dengan Syasya berakhir untuk kebahagiaan Syasya, namun ijinkan dia bertemu dan berbicara dengan Syasya setidaknya untuk mengatakan maaf yang selama setahun ini dia pendam.
***
Keadaan Syasya kembali tenang setelah beberapa saat. Dengan sabar Lita menenangkan Syasya.
Saat ini mereka sedang berada di bawah pohon rindang di sekitar falultas mereka.
"ternyata gue gak bisa, Lit" lirih Syasya. Dia tak tahu bagaimana mengontrol dirinya saat bertemu dengan Vano.
"belum, Sya. Perlahan lo pasti bisa, gue bantu" Lita mengusap punggung Syasya. Terlihat sekali ekspresi putus asa di wajahnya.
"gimana kalau gue tetap gak bisa?" sebenarnya Lita juga tak tahu caranya, mungkin dengan membiasakan diri Syasya bisa kembali ke kehidupannya semula.
" Sya, buat sekarang lo bisa merhatiin Vano dari jauh. Dan kalau lo udah yakin bisa dekat sama dia, lo boleh lakuin itu. Maksud gue, lakuin itu secara bertahap. Bukannya kalau terbiasa lo bakal baik-baik aja?" Lita juga tak yakin dengan sarannya. Namun apa salahnya untuk mencoba, bukannya tidak ada yang tidak mungkin?
Syasya mengangguk setuju dengan ide Lita. Untuk sekarang dia hanya akan memperhatikan Vano dari jauh.
"ya udah gue ke kelas duluan ya, kayanya udah terlambat" ujar Lita netranya melihat jam yang melingkar di tangannya.
"sebentar saja aku ingin di sini" Syasya membaringkan badannya di rumput hijau. Angin sepoi menerpa halus wajahnya. Suasana sangat sunyi untuk sebuah universitas.
Syasya menoleh ke kanan dan ke kiri melihat mahasiswa dan mahasiswi berlalu lalang. Namun kemudian pandangannya terpaku pada sosok pria yang tengah berjalan lesu. Pria yang keberadaannya beberapa saat lalu tertolak oleh Syasya.
Vano, pria itu berjalan dengan pandangan lurus. Dia bahkan tak memperdulikan sudah berapa banyak orang yang dia tabrak karena pikirannya kosong.
"ah maaf" ucapnya seraya menundukkan badannya dan tersenyum tipis pada orang yang di tabraknya.
Syasya melihat semua itu. Pria yang dulu menjadi penyemangat dalam hidupnya sekarang justru terlihat seperti tak mempunyai semangat.
Lingkaran hitam di area bawah matanya sudah mampu membuktikan bahwa dia kurang tidur. Tak hanya itu, rahang yang semakin menirus juga tampak sangat jelas. Ya, Vano kehilangan beberapa berat badannya.
" apa yang dilakukan pada tubuhnya hingga menjadi seperti itu?" tanya Syasya dalam hati penasaran.
"Sya, ini beneran lo?!" tanya seseorang heboh. Pria itu muncul begitu saja di hadapannya.
Hans dan Rian berdiri di sana dengan wajah terkejutnya. Sementara Syasya mengangguk menjawab pertanyaan Hans.
"kapan pulang? Lo udah sembuh? Selama ini gue tahu kabar lo dari Vano" hujaman pertanyaan Hans berikan pada Syasya, gadi itu berpikir sejenak sebelum kemudian menjawab.
"gue baik-baik aja, beberapa hari lalu gue pulang. Dan tadi apa Vano?" otaknya berputar. Dia ingin tahu tentang Vano.
"o iya lo berdua sahabatnya Vano kan? gimana kabar dia?" tanya Syasya seadanya, dia memang tak pandai berbasa-basi.
Kedua pria itu duduk di hadapan Syasya karena dirasa percakapan ini membutuhkan waktu yang lama.
"Vano, dia berubah drastis semenjak lo gak ada Sya. Lo tahu, rokok yang dulu udah dia lepas sekarang balil lagi ke tangannya. Dia menjadi pecandu berat. Gak hanya itu, alkohol adalah pelarian dia saat dia dalam masalah. Kadang dia juga sengaja main ke club cuma buat minum katanya buat nenangin pikiran" apa yang diucapkan Hans benar-benar menohok hati Syasya.
"lo juga harus tahu, dia juga mengonsumsi obat tidur karena dia bilang dia gak bisa tidur. Dan satu-satunya cara buat dia tidur adalah itu" timpal Rian.
"gue rasa dia benar-benar kehilangan lo, Sya. Barusan gue juga lihat dia di toilet. Dan lo tahu apa yang dia lakuin? Dia ninju kaca, tangannya berdarah. Waktu gue mau bantu, dia hempasin tangan gue gitu aja dan pergi dari sana. Untuk yang satu itu, gue gak tahu apa penyebabnya"
Hans melanjutkan ceritanya.
"gue. Gue penyebab berubahnya Vano. Semuanya salah gue. Tolong kasih tahu dia, kasih gue waktu, gue pengen balik sama dia, tapi gue gak bisa. Gue gila, kalau gue ada di deket dia gue takut dia malu sama keadaan gue" isak tangis terdengar dari bibir Syasya.
"eh Sya jangan nangis, nanti orang ngira kita apa-apain lo lagi. Sstt ssttt udah ya" Rian menepuk-nepuk punggung Syasya mencoba menghentikan tangisan gadis itu. Namun tak lama Syasya merasakan pelukan hangat di tubuhnya. Perlahan dia mendongak untuk melihat siapa yang memeluknya.