Complicated Love

Complicated Love
S2 - Nasihat



Aruna, seorang gadis cilik yang tak terlalu suka dengan keramaian. Ada kisah di balik itu semua.


Rasa enggan berada di keramaian bermula ketika dia kelas satu sekolah dasar. Berjalan-jalan dengan keluarganya memang sangat menyenangkan.


Dia juga pernah merasakan hal itu dulu. Mereka sedang berjalan-jalan di mall. Aruna kecil berlarian kesana kemari karena terlampau senang.


Hingga gadis kecil itu tak menyadari bahwa dia lari terlalu jauh dari orang tuanya.


"Karena Kakak pernah berpisah sama Mami, Ayah dan Abang waktu kita jalan-jalan di mall?" Syasya sangat sadar dengan hal itu.


Piknik kali ini terasa kurang menyenangksn karena putrinya itu tidak menikmatinya.


Aruna mengangguk. "Runa takut banget waktu itu. Makanya Runa lebih suka diam di rumah. Itu lebih aman," ucap gadis itu.


Syasya mendekati putrinya itu sementara Vano mengawasi Arjuna. Tristan dan Lita masih di sana dengan Jo walaupun jarak mereka memang agak jauh.


"Kakak tau gak di dunia ini banyak banget yang kaya Kakak?" Aruna tak menjawab. Dia bingung dengan apa yang dimaksud Maminya.


"Trauma. Orang-orang bilang perasaan itu adalah trauma. Mami juga pernah, lebih parah dari Kakak," ucapnya.


"Mami pernah takut sama sesuatu?" tanya Aruna. Sepertinya gadis itu sudah mulai tertarik dengan pembicaraan Syasya.


Syasya mengangguk sambil menggendong Aruna agar putrinya itu duduk di pangkuannya.


"Mami pernah takut sama Ayah," bisik Syasya. Biarkan dia menjadikan pengalamannya sebagai contoh.


"Kenapa? Ayah jahat?" tanya Aruna yang dijawab dengan gelengan oleh Syasya.


"Ayah gak jahat. Ayah gak sengaja, tapi Mami terlalu lemah, jadi Mami takut banget sama Ayah."


"Sama juga halnya dengan sesuatu yang dialami Kakak. Waktu itu Kakak gak sengaja kan? Mami, Ayah sama Abang juga gak sengaja. Kita sama-sama gak ada yang mau kehilangan satu sama lain, tapi waktu itu gak sengaja Mami kehilangan Kakak dan Kakak juga kehilangan Mami."


Aruna mendengarkan dengan seksama. "Mami ngerti gak mudah hilangin rasa takut itu, tapi kalau Kakak terus-terusan kaya gini, kapan Kakak lupa sama trauma Kakak itu?"


Aruna menggeleng. "Terus aku harus gimana?" tanyanya kebingungan. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Sttt jangan nangis. Mami gak lagi marahin kamu. Mami cuma lagi cerita tentang masa lalu Mami juga hubungannya sama trauma Kakak."


"Kakak gak nangis kok." Sangat berbeda dengan ucapannya, gadis itu kini sudah mengeluarkan air matanya.


"Kakak harus lawan rasa takut Kakak. Kakak lihat? Abang main juga gak kita biarin gitu aja. Ayah masih awasin Abang. Karena apa? Karena kita gak mungkin biarin sesuatu terjadi sama kalian," ucap Syasya.


Aruna memandang ke arah Arjuna yang sedang berlarian kesana kemari. Tak jauh dari sana Vano memperhatikan Arjuna.


"Sayang Mami sama Ayah pada kalian itu sama. Gak ada orang tua yang mau anaknya kenapa-kenapa. Kejadian waktu di mall itu murni karena ketidaksengajaan, jadi lawan rasa takut Kakak itu ya." Syasya menasihati putrinya.


Perlahan Aruna mengangguk dan menghapus air matanya. "Gak boleh nangis, Kakak anak kuat." Syasya menghapus air mata yang membasahi wajah putrinya.


"Mau main sama Mami? Mami bawa bola loh," tawar Syasya.


Aruna mulai tersenyum dan mengangguk. Mungkin berada di keramaian tak sepenuhnya mengerikan karena ada Mami dan Ayahnya yang menjaganya.


Sementara itu Lita sudah menangis sesenggukan mendengar nasihat Syasya untuk Aruna.


"Kenapa kamu nangis?" tanya Tritan heran. Beberapa menit lalu dia pergi ke toilet karena tak bisa lagi menahan panggilan alam. Tapi ketika kembali, dia sudah  melihat Lita yang menangis dengan wajah memerah.


"En-enggak apa-apa," jawab gadis itu.


"Kalau gak apa-apa gak bakalan nangis." Tristan mendekati istrinya, menghapus air matanya sebelum kemudian dia memeluk istrinya dengan erat.


"Kamu bisa cerita sama aku kalau ada apa-apa. Aku kan suami kamu," ucapnya. Tangannya terangkat untuk mengelus surai Lita.


"Enggak. Aku baik-baik aja." Tristan menjauhkan badannya dan memandang Lita dengan lekat.


Tristan masih memandang istrinya dengan lekat. Berharap Lita akan mengatakan apa yang dia rasakan kini.


"Tadi Syasya nasehatin Aruna," ucap Lita.


"Gatau, sedih aja. Kok bisa ya sahabat aku nasehatnya dalam gitu," lanjut Lita.


Tristan akhirnya bisa menangkap maksud istrinya. Dia bernafas lega setelah dia paham hal apa yang membuat Lita menangis.


"Kirain ada apa. Ya syukur dong, itu artinya dia udah dewasa," ucap Tristan. Dia juga merasa bangga dengan adiknya karena bisa sedewasa itu.


"Dah ah. Mening panggil mereka, kita makan. Aku udah lapar," ucap Lita. Perutnya sedari tadi memang sudah berbunyi meminta untuk diisi.


Tristan mengangguk. Dia menghampiri Vano karena memang jarak pria itu cukup jauh dari mereka.


"Van, makan dulu!" ajak Tristan yang diangguki oleh Vano.


"Bang, makan dulu yu. Nanti kita main lagi." Vano mengajak Arjuna untuk kembali.


Vano mengangguk dan mendekati Ayahnya. Vano merangkul putranya dan berjalan beriringan menuju tempat mereka tadi


"Yang makan dulu." Vano sekalian mengajak Syasya ketika dia melewati istrinya yang diangguki oleh Syasya.


"Yuk Kak, makan dulu." Semuanya berkumpul di tempat semula dan mulai membuka makanan yang tadi mereka beli.


Mereka makan dengan tenang. Sesekali mereka bersenda gurau.


Tak terasa waktu sudah menuju sore dan tempat itu semakin sepi. Satu persatu orang pergi dari sana.


"Mau pulang sekarang?" tanya Vano karena meliha suasana yang memang sudah sangat sepi.


Syasya mengangguk. "Pulang sekarang aja. Lagian juga udah sepi. Udah sore juga," jawab Syasya.


"Abang masih pengen main," rengek Arjuna. Sedai tadi pria kecil itu memang tak henti-hentinya bermain bagai tak kelelahan sama sekali.


"Udah sore Bang. Kamu kan juga udah main seharian, istirahat, besok sekolah." Vano memperingati putranya.


Arjuna mengerucutkan bibirnya. Jujur saja dia masih belum puas bermain.


"Yo pulang. Nanti kapan-kapan Om ajak jalan-jalan lagi." Tristan juga berusaha membantu membujuk keponakannya itu agar mau pulang.


Wajah Arjuna seketika cerah kembali. "Benar Om?" Juna meminta kepastian pada Omnya itu.


Tristan mengangguk semangat. "Kita main lagi lain kali. Nanti Jo juga udah besar, jadi kamu bisa main sama dia," bujuknya.


Akhirnya dengan segala macam bujukan yang dikeluarkan Vano maupun Tristan, Arjuna berhasil diluluhkan. Dia mau pulang.


Mereka pulang dalam keadaan lelah. Semua yang ada di mobil tertidur menyisakan Vano dan Tristan.


"Gak nyangka gue sama lo bisa seakur ini," ucap Tristan tiba-tiba.


Vano mengernyitkan dahinya. "Lah emangnya kita pernah ribut?"


"Jangan pura-pura lupa lo. Atau lo mau gue sebutin orang yang bikin kita ribut?" ancam Tristan.


"Gak lah Bang. Berabe kalau Syasya denger. Gak bisa tidur di dalam gue nanti yang ada." Tristan terkekeh mendengar ucapan Vano.


"Ada apa nih? Kayanya seru banget?" tiba-tiba sebuah suara menginterupsi mereka. Vano sangat mengenali suara ini.


Syasya. Gak mungkin kan gadis itu mendengar percakapannya dengan Tristan?