
syasya berjalan mendekati Vano dengan langkah cepat. Ia ingin sekali mendapat penjelasan dari Vano.
“Vano” tanya Syasya takut ia salah orang. Orang yang dipanggil Syasya menoleh dengan wajah terkejutnya namun sedetik kemudian wajah dingin itu kembali ditampakkannya.
“Sya, kamu disini?” tanya Vano sekedar basa-basi. Sebenarnya ia tahu Syasya disini karena ia mengikutinya.
“iya. Kamu ngapain disini? Dan ini siapa? Terus kenapa pesan aku gak dibales?” runtutan pertanyaan kembali terucap dari bibir Syasya. Matanya memerah menahan sesak di dadanya.
“main. Dia Cuma teman. Dan pesan kamu? Aku sibuk” kalimat yang barusan keluar dari bibir Vano memang tidak seberapa namun itu mampu monohok hati Syasya. Vano yang notabenenya pacarnya tidak membalas pesannya karena alasan sibuk? Sementara saat ini ia sedang makan berduaan dengan wanita lain di tempat yang bisa dibilang romantis.
“kamu sibuk selingkuh maksud kamu?” Syasya benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Ia berusaha menahan amarahnya, namun ketika ia menahannya justru rasa sakit itu terus menjalar di dadanya.
“apa maksud kamu selingkuh. Dia Cuma teman aku. Bukannya kamu yang selingkuh? Nerima bucket bunga dari cowo lain” ucap Vano menyindir Syasya.
Mata Syasya membulat tidak percaya Vano akan menuduhnya seperti itu. Bukannya wajar menerima bunga dari seorang teman saat hari kelulusan?
“dia teman aku waktu SMP, dan kebetulan di sekolah kita juga ada temannya makanya dia datang” jawab Syasya. Vano berdecih mendengar jawaban Syasya.
Air mata yang Syasya tahan akhirnya turun membasahi pipinya. Ia kehabisan kata-kata untuk menghadapi Vano. Akhirnya Syasya memilih pergi dari restoran itu untuk menenangkan pikirannya.
Setelah memastikan Syasya pergi dari sana, Vano memberikan amplop coklat berisi uang pada wanita yang tadi menemaninya.
“thanks” setelah mengucapkan itu Vano segera pergi dari sana. Tak lupa ia memakai masker dan topinya.
Keluarga Syasya juga heran dengan apa yang terjadi pada Syasya. Mengapa ia berlari keluar sambil sesekali mengusap matanya. Tristan berusaha mengejar adiknya itu tapi ia kehilangan jejak dan akhirnya kembali ke restoran.
Niatnya mereka akan membatalkan perayaan kelulusan ini namun notifikasi masuk pada ponsel Tristan dan menampilkan nama Syasya di sana.
“bang jangan cari gue, gue main bentar sama teman. Nanti gue balik sendiri” itulah isi pesan dari Syasya.
Sementara Syasya terus berjalan. Ia mencari tempat nyaman untuk dijadikan istirahat. Ini baru beberapa minggu ia dan Vano menjalin hubungan, namun rasanya sakit yang dirasakan Syasya sudah terlampau banyak.
Tin tin
Bunyi klakson mobil menyadarkan Syasya dari lamunannya. Ia menoleh ke arah suara itu. Reflek ia mengangkat tangannya dan ia gunakan untuk menutup mata dari silaunya lampu mobil yang ada di depannya. Ya, hampir saja Syasya tertabrak jika sang pemilik mobil tidak segera menginjak rem.
Syasya membuka matanya saat dirasa tak ada apapun yang menyentuh tubuhnya. Perlahan ia melihat sosok yang keluar dari mobil itu dengan tergesa-gesa.
“kamu gak apa-apa?” tanyanya.
“loh Syasya?lo gak apa-apa?” lanjutnya.
“Brian? Untung aja gue gak ketabrak” ucap Syasya sambil mengusap dadanya lega.
“sorry. Gue lagi angkat telpon tadi” Brian menyengir tanpa dosa.
“lagian lo mau kemana malam-malam gini?” tanya Brian dengan alis berkerut.
“cari angin” jawab Syasya singkat.
“mau ikut gue? Gue tahu tempat yang enak” saran Brian.
Syasya memandang curiga ke arah Brian dan kemudian menyilangkan tangan di depan dadanya.
“sialan” ucap Syasya.
“jadi lo ikut ga?” Brian memastikan.
Tanpa menjawab pertanyaan Brian, Syasya segera menuju kursi penumpang di samping Brian.
“jadi dimana tempat itu?” tanya Syasya sambil memasang sabuk pengamannya.
“udah lihat aja nanti” Brian menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara Syasya ia fokus pada ponselnya berharap Vano menghubunginya. Namun nihil tak ada tanda-tanda pria itu akan menghubunginya.
“sampai” Syasya menegakkan kepalanya untuk melihat dimana dia saat ini.
Suasana di depannya terlihat begitu menyejukkan. Entahlah saat ini ia ada dimana, yang jelas saat ini ia melihat pemandangan kota yang sangat indah dengan lampu-lampu yang terlihat seperti bintang dari tempatnya saat ini.
“jadi kenapa mata lo sembap?” ya tentu saja Brian peka dengan keadaan. Wanita yang sedang bersamanya ini pasti menangis beberapa waktu lalu melihat lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas.
“gue gak kenapa-kenapa” jawab Syasya.
“lo gak perlu sungkan buat cerita sih sebenarnya. Gua gak ada maksud apa-apa sama lo. Gue Cuma gak mau apa yang gue alami dulu juga terjadi sama lo” yang Brian maksud adalah ia tak mau Syasya memendam sendiri sesuatu yang menyakitkan baginya. Ia ingin Syasya membagikan rasa sakit itu.
“gue berantem sama pacar gue” Brian tak merespon ucapan Syasya. Ia ingin mendengar semua keluh kesah Syasya sampai selesai. Ia memang tidak berhak mengetahui hal pribadi tentang Syasya. Namun yang ia khawatirkan adalah kondisi Syasya jika ia terus memendam semuanya sendiri.
Dan akhirnya Syasya menceritakan semua keluh kesah yang ia alami belakangan ini, termasuk kejadian beberapa menit di restoran.
“lo gak ada niatan buat baikan gitu sama pacar lo?” tanya Brian. Syasya hanya diam. Sebenarnya ia ingin sekali baikan dengan Vano, namun apa yang Vano lakukan padanya benar-benar sudah menyakiti hatinya.
“coba lo kasih dia kesempatan. Mungkin dia Cuma lagi ada masalah pribadi” jelas Brian.
Nasihat yang diberikan Brian agaknya sedikit masuk di otak Syasya. Apakah memang ia harus sedikit mengalah pada Vano dan menanyakan alasan Vano melakukan ini padanya?
“ya saran gue sih lo pikirin baik-baik. Gue gak mau lo nyesel akhirnya” seakan terhipnotis dengan kalimat yang diucapkan Brian, Syasya segera mengeluarkan ponselnya dan mengajak Vano bertemu besok di sekolah. Lagipula mereka memang mempunyai urusan penting di sekolah.
“iya lo bener. Besok gue bakal obrolin ini sama pacar gue”
“thanks, Bri” ucap Syasya diiringi dengan senyumannya.
Mereka tak langsung pulang. Pemandangan yang sangat menyejukkan mata ini tak pantas untuk dilewatkan. Akhirnya mereka menghabiskan waktu memandangi pemandangan kota malam beberapa jam hingga rasa kantuk menghampiri mereka berdua.
“mau pulang?” tanya Brian.
Syasya mengangguk menjawab pertanyaan Brian. Brian mengantar Syasya pulang ke rumahnya dengan selamat. Anggota keluarga Syasya sudah menunggu di ruang tamu. Walaupun Syasya mengabari mereka sebelumnya, tetap saja rasa khawatir masih ada di hati mereka.
“akhirnya kamu pulang” maminya memberikan pelukan pada Syasya.
“kemana aja lo” Tristan sedikit menaikan nada bicaranya. Bukannya apa-apa,ia sangat khawatir pada adiknya yang tiba-tiba pergi di saat perayaan kelulusan mereka.
“bang” ucap sang ayah mengingatkan Tristan agar kekesalan Tristan tidak berlanjut.