
“Ngampus jam berapa, Bang? Kok jam segini masih di rumah?” tanya Syasya saat dia baru saja melihat Bian turun dari kamarnya.
Jam sudah menunjukan pukul sembilan tapi pria itu baru saja turun. “Abang ada kelas nanti siang, Mi. Jam satu. Tapi sekarang mau antar Kia dulu, dia ada kelas jam setengah sepuluh,” jelas Bian.
Dia sudah rapi dengan kaos putih pendek, dilapisi dengan kemeja kotak hitamnya. Sangat tampan, penampilannya sangat modis.
Siapapun yang melihat pria itu pasti akan langsung mengatakan ‘tampan’ karena saking tampannya Bian.
“Emmm, ya udah. Salam buat Kia. Bilang sama dia, main ke sini kalau ada waktu,” ucap Syasya.
“Iya, Mi. Nanti Abang bilangin sama Kia. Kalau gitu Abang berangkat dulu ya.” Syasya mengangguk. Dia mengantar Bian hingga depan pintu rumahnya.
“Udah lama dia gak ganti mobil,” kekeh Syasya yang melihat mobil Bian memang terlihat sedikit sudah tua.
“Nanti aja kalau dia nikah,” lanjutnya. Bian pergi meninggalkan rumahnya dan Syasya kembali ke dalam melanjutkan kegiatannya yang tadi sedang membaca koran.
Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena memang masih ada banyak waktu. Apalagi jarak dari sana ke kampus mereka sangat dekat.
Bian tiba di rumah Kiana dia memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
"Permisi," sapa Bian dari luar. Tak lama pintu utama terbuka dan menampilkan Kiana dengan penampilan yang sudah siap.
"Udah siap?" tanya Bian pada kekasihnya.
"Udah, yuk," ajak Kiana. "Bentar, Bunda sama Ayah ada?" tanya Bian. Dia hendak menyampaikan salam dari Maminya.
"Ayah gak ada. Tapi Bunda ada lagi bikin kue di dapur," jawab Kiana.
"Aku mau ketemu Bunda dulu, boleh ya. Bentar doang kok," izinnya yang kemudian diangguki oleh Kiana.
Gadis itu kembali masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh Bian.
“Bunda, lagi apa nih?” sapa Bian saat dia sudah tiba di dapur dan melihat Bundanya ada di sana.
“Eh Bian, nih lagi bikin kue. Mau?” tawar Bundanya. Wanita paruh baya itu hanya menengok sejenak sebelum kemudian fokusnya kembali pada kuenya.
“Makasih Bunda. Nanti aja deh, takut Kia telat ke kampusnya,” jawab Bian. “Bian mau sampein salam dari Mami buat Bunda sama Ayah,” lanjut Bian.
“Oh iya, lama ya Bunda gak main ke rumah. Nanti kapan-kapan Bunda main deh biar sekalian ajak Mami kamu bikin kue,” jawab Bundanya yang diangguki oleh Bian.
“Kalau gitu kita berangkat dulu ya , Bun.” Mereka berpamitan pada Bundanya.
“Iya, hati-hati di jalan ya.” Dua sejoli itu mengangguk mengerti dengan pesan Bundanya. Akhirnya mereka pergi dari sana untuk segera berangkat ke kampus.
Bian melajukan mobilnya. Dalam perjalanan diisi dengan percakapan random mereka. “Nanti pulang jam berapa biar aku jemput,” ujar Bian.
Kiana sedikit berpikir. “Sebenarnya sih sekarang cuma satu mala kuliah, nanti dilanjut jam dua jadi paling pulang sorean,” jelasnya.
Bian mengangguk. “Oke deh, kalau gitu kayanya kita pulang bareng. Kelas aku mulai jam satu nanti dan ada dua mata kuliah. Mungkin juga sampai sore.” Kiana mengangguk.
“Kabarin aja kalau kamu udah selesai.” Kiana kembali mengangguk. Tak membutuhkan waktu lama, mereka telah tiba di parkiran kampus.
Sudah banyak mahasiswa dan mahasiswi yang datang. “Sampai jumpa nanti.” Kiana pamit pada Bian.
Pasalnya mereka memang jarang melakukan skinship, jadi sekalinya Kiana melakukannya maka Bian akan salah tingkah dibuatnya.
“Hmm, hati-hati.” Bian melambaikan tangannya membalas lambaian tangan kekasihnya.
Setelah Kiana benar-benar pergi dari sana, Bian memegangi dadanya yang berdetak dengan cepat. Selalu saja seperti ini jika Kiana melakukan hal yang tak dia duga sebelumnya.
“Kayanya aku makin sayang sama dia,” cicitnya. Bian kembali melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah.
Awalnya dia akan menunggu sampai jam satu di kampus, tapi itu masih sangat lama hingga dia memutuskan untuk pulang saja.
Setidaknya, di rumah dia bisa menemani Maminya yang sendirian ketika si kembar masih di sekolah dan Ayahnya masih di kantor.
Bian tiba di rumahnya. Saat dia masuk suasana rumah sangat sepi. “Mami!!” teriaknya mencari sang Mami.
“Iya, kenapa Bang!?” Syasya juga berteriak karena dia berada di kamarnya.
“Oh ada ternyata,” kekeh Bian. Dia mengira Maminya pergi karena rumah sangat sepi. Tak lama Syasya datang sambil mengucir rambutnya.
“Kenapa, Bang?” tanya Syasya lagi karena putranya itu tadi tak memberikan jawaban.
“Enggak kenapa-kenapa. Cuma manggil aja, lagian rumah sepi banget,” jawab Bian. “Kamu ini, kirain Mami ada apa,” ucap Syasya.
Dia memang sedikit terkejut dengan teriakan putranya tadi. Dia sedang berbaring nyaman di kasur dan tiba-tiba putranya berteriak.
“Mami lagi apa emang?” tanya Bian penasaran sampai maminya rela keluar untuk menemuinya.
“Lagi rebahan. Bosen tau Mami di rumah sendiri,” ujarnya. Syasya mendudukan dirinya di sofa ruang keluarga dan diikuti oleh Bian.
“Mami lagian kenapa gak main sih? Kaya gak punya teman aja,” ejek Bian. “Teman Mami pada jadi wanita karir, cuma Mami doang yang jadi pembantu,” sindir Syasya sambil terkekeh.
Bian tertawa mendengar jawaban Maminya. “Oh iya Mi, tadi udah disampein sama Bunda salam dari Mami. Tapi Ayah gak ada masih kerja. Kata Bunda, nanti kapan-kapan dia main ke sini sekalian ajak Mami bikin kue.”
“Iya deh. Enak banget ya bisa bikin kue. Waktu itu Mami bikin rasanya emang enak tapi tampilannya enggak banget,” ucapnya.
Dia memang senang mengulik menu baru, tapi jika sudah gagal, maka dia akan kesal sendiri dan berakhir tak akan membuatnya lagi.
“Nah, kebetulan dong nanti bisa belajar sama Bunda,” jawab Bian yang kemudian diangguki oleh Syasya.
“Eh Bang, Mami kira kamu gak akan pulang dulu,” tebak Syasya karena Bian tadi mengatakan akan mengantar Kiana ke kampus.
“Hheemm awalnya sih iya. Tapi jam satu masih lama, gabut juga kalau nunggu di kampus, Mi. Jadi Abang mening pulang aja.”
Syasya mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan putranya. “Ya udah, sekalian makan siang dulu deh. Mau makan apa?” tanya Syasya.
“Kayanya enggak deh, Mi. Nanti jam setengah dua belasan Abang berangkat lagi ke kampus, sekalian makan bareng sama Kia,” jawab Bian.
Syasya mengangguk, syukurlah sebenarnya dia sedang malas sekali memasak. “Pulang jam berapa kamu nanti?” tanya Syasya.
“Belum tau juga, tapi kalau sesuai jadwal paling jam empat udah pulang, kenapa?”
“Kalau jam empat udah pulang, sekalian jemput si kembar. Tapi bilang dulu sama Ayah kamu. Soalnya tadi dia bilang lagi sibuk jadi kayanya gak sempat jemput si kembar,” jelas Syasya.