Complicated Love

Complicated Love
Chapter 30



"masa lalu lo tuh sebenarnya emang membosankan!" dengan segera Tristan menutup pintu kamarnya. Pria itu terbahak karena berhasil menjahili adiknya. Sementara Syasya dengan kesal menghentakkan kakinya karena abangnya.


"nyebelin lo! gue sumpahin gak dapat jodoh tahu rasa lo!" ucap Syasya berteriak berharap abangnya dapat mendengar umpatan yang baru saja ia lontarkan.


Dan benar saja, seperti harapan Syasya. Pria itu mendengarnya. Buktinya saat ini ia tengah memunculkan kepalanya di balik pintu.


"eh btw Lita boleh juga tuh" dengan segera Tristan kembali menutup pintunya karena ia tahu reaksi apa yang akan diberikan Syasya.


"jangan berani-berani lo deketin sahabat gue ya!" Syasya menggedor pintu kamar Tristan.


"bang buka woyy. Lo janji mau cerita!" Syasya. Bersyukurlah karena keadaan Syasya kini telah membaik bahkan hampir pulih seperti semula.


Karena telinga Tristan terasa hampir pecah karena gedoran pintu dan teriakkan adiknya, akhirnya dia mengalah dan membuka pintu kamarnya.


Tanpa ada ajakan dari Tristan untuk masuk, Syasya langsung saja nyelonong ke dalam kamar Tristan yang menyisakan Tristan di ambang pintu dengan kekesalannya.


"jadi gimana bang? kali ini gue serius" sorot mata Syasya memang memancarkan keseriusan itu, ia benar-benar ingin mengetahui masa lalu yang belum dia ingat.


"oke lo dengar baik-baik, gue gak akan ngulang. Lo pasti udah ingat sama yang satu ini, lo orang yang ceria dan pecicilan" canda abangnya ketika ia menyebutkan kata 'pecicilan'.


Sebuah bantal melayang mengenai punggung Tristan saat Syasya merasa kesal.


"oke lanjut" ucap Syasya.


"lo tipe orang yang selalu cerita apapun sama keluarga atau teman, tapi saat lo sedih lo pasti nangis sendiri karena gue pernah mergokin lo nangis di kamar"


"ih gak sopan lu ngintip orang" lagi-lagi Syasya mengomentari cerita Tristan. Tristan tak menjawab, ia hanya memandang Syasya dengan tatapan kesal karena selalu saja mengomentari ceritanya.


"ehehheeh iya iya gue diem. Lanjut" ucap Syasya.


"tapi lu tahu, sekitar kelas tiga akhir lo benar-benar tertutup banget. Bahkan gue jarang banget dengar lo ngomel tentang teman-teman lo yang nyontek pas lagi ujian. Gue benar-benar gak tahu sejak kapan lo pacaran sama Vano, gue sadar itu pas lo di bawa ke rumah sakit karena asma lo kambuh, itu yang lo bilang sama gue" Tristan menghela nafasnya dalam.


"tapi kenyataannya bukan itu kan? oke lo dibawa ke rumah sakit karena asma, tapo sebelum itu lo disakitin sama cowok lo kan dan berakhir kondisi lo drop"


Syasya mengerutkan keningnya. Apakah benar apa yang dikatakan Tristan bahwa dirinya di bawa ke rumah sakit karena asmanya kambuh? dia hanya mengingat jika Vano menamparnya, menjambaknya dan berakhir dia di rumah sakit.


"gue tahu itu dari lo. Saat lo jenguk Vano di rumah sakit karena kecelakaan, saat dia koma tepatnya, lo bilang semua perasaan lo sama Vano dan gue dengar semuanya" apakah inu artinya tidak semua tindakan Vano yang membuatnya drop? Dan apa? Vano koma?Namun kemudian Syasya menggelengkan kepalanya, dia yakin bahwa Vano benar-benar telah menyakitinya.


"gue coba cari tahu apa penyebab Vano melakukan itu sama lo. Dan akhirnya gue dapat. Untuk yang satu itu gue bakal lewat dulu okey. Lanjut, entah di hari keberapa Vano koma, lo pergi dari rumah dengan dress. Gue aneh dong lo mau kemana. Dan di hari yang sama juga gue dapat berita kalau lo kecelakaan" Syasya berusaha memutar otaknya untuk mengingat kejadian itu. Namun nihil tak ada sedikitpun gambaran di otaknya.


"gue mau kemana ya waktu itu?" tanya Syasya pada abangnya berharap dia mendapat sedikit bantuan.


"kata mami sih lo mau main sama teman"


"teman?" Syasya mencoba mengingatnya lagi. Sekelebat bayangan saat dirinya berada di toko bunga melintas di kepalanya.


"aaakkhhh" Syasya memegang kepalanya mencoba menghilangkan rasa sakit. Rasanya kepalanya seperti mau pecah.


"oke cukup buat hari ini. Lo gak perlu maksain buat ingat semuanya kalau itu bakal nyakitin lo" ucap Tristan. Pada akhirnya Syasya mengalah dan tidak bertanya lebih lanjut tentang masa lalunya. Mungkin besok ia akan bertanya lagi pikirnya.


"ya udah sana lo keluar dari kamar gue, gue mau tidur" usir Tristan sambil menendang-nendang kaki Syasya.


"gak ada lembut-lembutnya ya lo jadi abang" Syasya meliril sinis abangnya yang kini sudah terbaring nyaman di ranjangnya dengan guling dalam pelukannya.


"terserah gue" Tristan mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Syasya agar segera keluar dari sana.


Dengan langkah kesal Syasya kembali ke ruang tv. Di sana masih ada maminya.


"mami, kapan kita pulang. Syasya rindu rumah" ucapnya sambil bermanjaan dalam pelukan maminya.


"sabar ya, satu kali lagi kamu terapi kita langsung pulang" mami Syasya mengusap surai Syasya.


"berarti minggu depan dong" tebak Syasya antusias.


Maminya hanya mengangguk mengiyakan perkataan Syasya.


"yess!" tangan Syasya mengepal di udara menandakan bahwa ia sangat bahagia saat ini.


"makasih ya mi udah sabar jagain Syasya yang gila" Ya, Syasya menyadari perilakunya saat ia depresi.


"husshh, kamu gak gila sayang. Kamu cuma lagi sedih sesedih sedihnya. Mami ngerti" jawab maminya.


"kamu harus janji sama mami, kamu gak boleh sakit lagi. Apapun itu kamu harus kuat oke?" Mami Syasya memandang putrinya dalam.


Syasya mengangguk. Ia berjanji akan selalu menjadi wanita kuat dalam keadaan apapun. Dia yakin bahwa tuhan tak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan hambanya.


Itu artinya, apapun yang ia lalui dia pasti bisa melewatinya walaupun itu berat. Dan yang menjadi sandarannya saat dia berada di titik terendah dalam hidupnya adalah keluarganya. Akan selalu seperti itu walaupun suatu saat nanti ia akan mempunyai orang yang dia sayang.


"kamu istirahat ya, abang kamu kayanya juga udah tidur" mami Syasya tersenyum mendengar dengkuran halus dari arah kamar Tristan.


"emang dasar kebo, baru nempel udah tidur aja" ucap Syasya.


"eh gak boleh gitu, gitu-gitu dia juga abang kamu Sya" mereka berdua terkekeh. Bukankah kalimat maminya seakan menyetujui ucapannya?


Tawa pecah terdengar di setiap sudut ruangan. Ini adalah hari paling bahagia setelah hari-hari kelam yang dilalui Syasya.


"ada apa nih rame-rame" pria paruh baya berjalan mendekati kedua wanita yang teramat dia sayang.


"engga kenapa-kenapa ko, pi" Syasya dan maminya saling melirik sebelum tawa mereka kembali pecah.


"kalian ini" papi Syasya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak dan istrinya.