
Vano mencoba memutar badannya untuk melihat siapa yang dengan lancang memeluk dirinya. Namun setiap kali Vano akan memutar tubuhnya maka pelukan itu akan bertambah erat. Belum puas orang itu memeluk Vano, ia juga menempelkan kepalanya pada punggung Vano.
Vano yang semakin risih dengan perlakuan orang di belakangnya ini dengan sekuat tenaga melepaskan pelukan itu dan berbalik. Namun wanita itu kembali melingkarkan tangannya di pinggang Vano tepat saat Vano berbalik.
Vano tak membalas pelukan itu. Ia membiarkan gadis itu untuk memeluknya sejenak sembari ia juga menetralkan detak jantungnya. Setiap kali melihat wajah itu, detak jantungnya selalu tak karuan. Apalagi sekarang disertai ngilu yang menusuk ulu hatinya ketika melihat plester di sudut bibir gadis itu.
Namun egonya selalu kembali ketika dia berusaha menikmati momen manis dengan kekasihnya ini. Ya, yang ada dalam pelukannya saat ini adalah Syasya. Gadis itu dengan cepat memeriksa ponselnya sesaat setelah Tristan pulang ke rumahnya.
Syasya mengecek keberadaan kekasihnya saat ini dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui Vano menuju sebuah club. Bagaimana Syasya tahu? Ia memasang pelacak pada ponsel Vano, ia takut Vano melakukan sesuatu seperti sekarang, dan terbukti pelacak itu berguna saat ini.
Syasa segera mencabut jarum infus di tangannya dan berlari sekencang mungkin. Ia mengabaikan sesak yang kembali datang. Yang ada di otaknya saat ini adalah Vano, jangan sampai ia masuk ke sana. Sementara Lita berusaha mengejar Syasya walaupun akhirnya dia kehilangan jejak, namun kekhawatirannya sedikit berkurang kala Syasya mengirim pesan padanya.
“hhhh...Van, jangan masuk..hh” mohon Syasya sambil menghirup udara sebanyak yang dia bisa.
Namun tanpa diduga, Vano mendorong tubuh rapuh Syasya dengan kuat hingga tubuh itu terhuyung ke belakang dan berakhir jatuh. Sesaat Vano tersentak dengan dorongannya sendiri, ia menatap tangan yang sudah mendorong Syasya hingga kekasihnya itu jatuh.
“Sya!” tanpa diduga ternyata Lita menyusulnya. Ya, Syasya mengatakan akan ke tempat itu di pesannya tadi agar Lita tidak cemas.
Tatapan nyalang Lita tujukan pada Vano sebelum kemudian membantu Syasya berdiri.
“Lo apa-apaan sih Van! Belom puas lo nyakitin Syasya?! Salah dia apa sama lo, hah?!” Lita berteriak frustrasi. Ia jengah dengan kelakuan Vano.
“lo gak perlu tahu” tanpa memperdulikan keadaan Syasya, Vano melanjutkan jalannya memasuki club. Akhirnya perjuangan Syasya menghentikan Vano agar tidak memasuki tempat itu sia-sia. Yang ada rasa sakitnya bertambah.
Syasya mengusap lengan Lita untuk menenangkan sahabatnya itu kemudian tersenyum. Lita memandang Syasya dengan mata berkaca sebelum tangis itu pecah begitu saja.
“hiks..lo masih bisa senyum?” Lita memeluk sahabatnya. Ia salut dengan kekuatan sahabatnya.
“kita pulang?” Syasya balik bertanya tak berniat menjawab pertanyaan Lita.
Lita mengangguk mengiyakan pertanyaan Syasya. Mereka menghubungi Tristan untuk menjemput dan memberikan alasan mengapa mereka ada disana. Tentu saja kebohongan.
***
Vano melangkahkan kakinya menuju sofa di pojok ruangan itu. Di sana sudah ada teman-temannya. Ini memang kali pertama ia menginjakan kakinya di tempat seperti ini. Tempat bising seperti ini memang bukan gaya Vano, tapi dia ingin mencoba.
“lama lo” ucap pria dengan rambut sedikit coklat.
“ada urusan bentar di luar” jawab Vano singkat.
Reza, pria dengan rambut coklat itu mengangguk dan kembali meneguk minuman yang ada di hadapannya. Sementara Vano mengeluarkan rokok dan segera menyesapnya. Senakal apapun dia, dia tak berani menyentuh minuman itu.
Pikirannya terus saja melayang. Apakah sudah benar apa yang ia lakukan ini? atau mungkin ini kesalahan yang akan menjadi bumerang untuknya? Entahlah, ia juga tidak tau. Vano mengusak rambutnya.
Netra Vano menelisik tubuh Bianca menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Vano menaikan sebelah alisnya seolah menilai penampilan Bianca saat ini. tentu saja Vano bingung.
Bianca yang ia kenal adalah gadis yang berpenampilan sopan dan polos. Namun lihatlah penampilannya saat ini. Ia hanya menggunakan hotpants dan tank top. Tak hanya itu, make up tebal di wajah Bianca juga membuat Vano mengernyitkan alisnya.
“kamu suka kesini? Kok kita gak pernah ketemu ya” tanya Bianca girang seraya bergelayut manja di pundak Vano. Vano yang risih berakhir menyingkirkan kepala Bianca dari pundaknya. Namun bukan Bianca namanya jika ia menyerah begitu saja.
Ia mencondongkan badannya hendak mencium Vano. Namun dengan segera Vano berdiri dan mendorong Bianca hingga wanita itu terjatuh di atas sofa.
“lo apa-apaan sih!” emosi Vano memuncak. Jika dulu dia menyukai manjanya Bianca, maka saat ini ia merasa jijik.
“Van, kok kamu gitu. Kamu kan masih pacar aku” dengan gilanya Bianca mengklaim bahwa Vano miliknya.
Vano berdecih. “kita udah putus dua tahun lalu!” ucap Vano.
“aku gak pernah mengiyakan kata putus kamu yah!” Bianca juga mulai meninggikan suaranya.
Dengan tidak malunya Bianca mengucapkan itu setelah apa yang ia lakukan pada Vano. Karena malas berdebat akhirnya Vano mengambil tasnya.
“gua duluan” pamitnya pada Reza. Reza sendiri bingung dengan perdebatan Vano dan Bianca. Namun ia tak ambil pusing, lagi pula itu bukan urusannya.
Setelah kepergian Vano siapa sangka Bianca malah bergelayut manja pada Reza. Reza yang sedari tadi menyaksikan perdebatan Vano dan wanita ini hanya bergidik ngeri ketika wanita ini mendekatinya. Tanpa pikir panjang ia juga lebih memilih meninggalkan club itu.
Bianca yang diperlakukan seperti itu misuh-misuh sendiri. Ia menghentak-hentakan kakinya dengan wajah sebalnya. Diambilnya botol minuman yang masih utuh disana dan segera meneguknya.
***
Vano melajukan motornya membelah keramaian ibu kota. Lagi-lagi pikirannya tidak fokus. Di satu sisi ia merasa ingin berhenti menyakiti Syasya, ia ingin memaafkan Tristan. Namu di sisi lain rasa sakit itu terus saja muncul dihatinya.
Vano tak memperhatikan jika dari arah kirinya truk melaju dengan begitu kencang.
BRUKK
Tubuh Vano terpental jauh. Tubuhnya terlentang tak berdaya di jalanan . Jangan tanya keadaan motornya karena itu tentu saja sudah hancur. Perlahan kenangan-kenangan yang ia lalui dengan temannya, Syasya bermunculan di ingatannya.
Tak hanya itu, bayangan ia menyiksa Syasya, bagaimana tangannya dengan mudah menjambak rambut Syasya, dan dengan mudahnya ia melayangkan tamparan pada pipi lembut itu semuanya melintas begitu saja.
Saat ini pintanya hanya satu. Ia ingin hidup bahkan hanya untuk sesaat, ia ingin meminta maaf pada Syasya, ia ingin memeluk tubuh yang selama ini ia sakiti, ia ingin mengusap pipi dan rambut itu. Setelah itu ia tak peduli jika dia harus mati sekalipun.
Air mata itu perlahan mengalir sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.