
Vano menoleh mencari tahu siapa yang memanggilnya. Setelah ia menemukannya, Vano menghembuskan nafasnya kesal. Wanita ini alasan ia bersikap dingin pada Syasya beberapa jam lalu, dan dengan beraninya ia menampakan diri di hadapannya saat ini.
“Van, aku mohon dengerin penjelasan aku” mohon wanita itu. Wajahnya dibuat sesedih mungkin agar Vano mau mendengarkannya.
“gak ada lagi yang perlu di jelasin, Bi” ya gadis itu adalah Bianca. Mantan kekasih Vano dua tahun lalu dan dia juga alasan mengapa Vano merubah sikapnya menjadi tak tersentuh.
“tapi Van. Aku berani sumpah dia duluan yang mulai” Vano berdecih mendengar alasan tak masuk akal Bianca.
“oke. Kamu bilang dia duluan yang mulai? Dia gak bakalan berbuat sejauh itu kalau tuan rumahnya gak buka pintu buat dia”
“ta..tapi, Van...” ucapan Bianca terbata-bata karena apa yang dikatakan Vano memang benar adanya. Dia menyukai dua pria sekaligus saat itu atau mungkin lebih?
“maaf” lanjut Bianca.
“aku udah maafin kamu. Tapi tolong jangan temuin aku lagi, aku gak mau pacar aku salah paham” ucap Vano final. Ia segera memasuki rumahnya tanpa memperdulikan Bianca.
Sementara Bianca, setelah kepergian Vano tangannya mengepal menahan amarah. Wajahnya memerah. Ia pastikan akan memiliki Vano kembali.
Vano berjalan lesu melewati satu persatu anak tangga. Sesampainya di kamar ia merebahkan badannya di atas kasur. Kepalanya seakan mau pecah. Perlahan kepingan-kepingan masa lalu yang menyesakan hatinya kembali dalam ingatannya.
Hari ini merupakan hari yang sangat penting bagi Vano. Ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Oh, dan jangan lupakan kado yang ia bawa terlihat sangat cantik tentu saja tidak secantik wanita yang ia tuju saat ini.
Setelah sampai di pekarangan rumah sang kekasih, Vano menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya. Ya, Bianca adalah kekasihnya. Dan hari ini tepat 2 tahun mereka bersama.
Vano tak memberi tahu Bianca bahwa ia akan ke rumahnya untuk merayakan hari jadi karena Vano berpikir bahwa Bianca mungkin juga akan mengingatnya. Kakinya melangkah mendekati pintu yang lebih tinggi dari tubuhnya.
Perlahan ia membuka pintu. Bukannya tidak sopan, tapi Bianca memang tinggal sendiri selama ini mengingat orang tuanya sibuk dengan pekerjaan. Dan lagi, dia ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya.
Vano melanjutkan langkahnya menuju tangga. Namun ia terheran melihat objek yang berserakan di tangga sampai kamar Bianca. Vano melihat-lihat objek tersebut. Alisnya bertaut heran melihat bahwa objek yang berserakan itu adalah pakaian, dari mulai baju, celana dan sebagainya. Ia juga dibuat lebih heran karena baju itu adalah baju pria.
Seketika hatinya merasa tak enak, ia terus berjalan hingga kakinya berada tepat di depan pintu kamar yang bertuliskan ‘personal area’, ya itu adalah kamar Bianca.
“Bi.....” suaranya gemetar, sementara suara-suara aneh di dalam sana lebih mendominasi saat ini.
Mata Vano mulai memerah, tangannya berusaha menggapai knop pintu. Sesaat setelah ia berhasil menggapainya, dibukalah pintu itu dengan pelan, nyaris tanpa suara.
Netranya yang memerah menangkap pemandangan yang sangat menjijikan baginya. Dua sejoli yang tengah memadu kasih dan itu sangat tidak senonoh. Vano memejamkan matanya dan kemudian pergi dari rumah Bianca.
“jadi inilah akhirnya...” motor Vano melaju kencang di jalanan yang sangat ramai.
Vano berteriak frustrasi. Ia bangkit dari posisinya semula, berjalan dengan cepat ke arah nakas dimana ia menyimpan fotonya dan Bianca. Sejenak ia mengusap sayang foto itu sebelum kemudian rahangnya mengeras mengingat apa yang dilakukan wanita itu padanya.
Ia mengeluarkan foto itu dari bingkai dan merobeknya menjadi bagian-bagian kecil. Dengan mudah ia membuang potongan-potongan itu ke tempat sampah yang ada di pojok kamar berharap semua kenangan buruk yang ada di kepalanya juga ikut terbuang dengan foto it.
Ia kembali ke arah ranjangnya untuk mengambil sesuatu di dalam tasnya. Ia mengambil sebuah foto dengan ukuran yang sama seperti foto sebelumnya, namun wanita yang ada dalam foto itu berbeda.
Senyum Vano terukir melihat senyum Syasya terukir di bibirnya. Ya, itu foto Syasya yang Vano ambil diam-diam. Vano mengusapnya sebelum kemudian memasang foto itu di bingkai.
Jika foto sebelumnya ia letakan terbalik dan menyimpannya di atas nakas yang jauh dari ranjangnya, maka berbeda dengan foto Syasya. Ia menyimpan foto Syasya di atas nakas di samping ranjangnya berharap senyum itulah yang akan menyambutnya setiap ia terjaga dari tidurnya.
Vano kembali merebahkan tubuhnya sebelum akhirnya ia masuk ke alam mimpi.
Keadaan berbanding terbalik di rumah Syasya. Jika Vano dengan tenang masuk ke alam mimpi, maka saat ini Syasya sedang mendengarkan ceramah panjang dari masing-masing anggota keluarganya karena ia pulang sangat terlambat hari ini.
“sebenarnya lo dari mana sih, Sya. Astaga hampir gila gue nyari lo” abangnya berjalan mondar mandir ketika melontarkan pertanyaan itu. Sungguh saat ini ia sangat kesal pada adiknya.
“itu bang”
“itu apa hah?” tanya Tristan menyela jawaban yang baru saja akan terlontar dari bibir Syasya.
“ya dengerin dulu sih kenapa nyela orang lagi ngomong” kesal Syasya.
“oh iya. Yaudah lanjut” Tristan sedikit berdehem agar tak mengurangi kesan kerennya.
“jadi tadi pulang sekolah di ajak jalan-jalan sama anak-anak. Pas pulang Syasya di tinggal sendiri, jadi jalan kaki deh. Terus kebetulan ada teman SMP Syasya lewat, di anterin deh tuh sama dia. Udah selesai” ya kaliah tahu dengan jelas, ada sedikit kebohongan dalam ucapan Syasya, namun hampir sebagian besarnya adalah kebenaran.
“kenapa gak kabarin kita?” tanya maminya pelan.
“tadi lupa, mi. Maaf “ Syasya menundukan kepalanya menyesal.
“yaudah jangan diulang lagi ya. Kita khawatir. Sekarang pergi ke kamar, istirahat” mami Tania mengelis kepala Syasya.
Syasya menegakan kepalanya dan tersenyum. Kemudian ia memandangi seluruh anggota keluarganya termasuk papinya untuk pamitan.
***
Ini hari terakhir mereka melaksanakan ujian. Syasya berjalan dengan santai memasuki kelasnya. Netranya mencari sosok yang ia rindukan. Ya Vano, akhirnya ia menemukan Vano sedang menelungkupkan kepalanya di meja, sepertinya ia tertidur.
Syasya mengahampiri Vano dengan kotak bekal yang ia pegang.
“Van, Vano bangun” bisiknya tepat di samping pria itu.
Teman-temannya yang masih belum tahu tentang status keduanya hanya memandang aneh pada dua sejoli yang dulunya selalu bertengkar.
Vano menegakan kepalanya dengan mata yang sedikit sayu. Kemudian ia tersenyum dan dengan spontan tangannya mengelus surai indah Syasya.
“oh my god! Mata gue. Van lo sakit!?” heboh Dina. Ia terkejut melihat adegan manis di hadapannya. Tak ada lagi baku hantam antara mereka.
“kalian berdua pacaran kan? Ngaku lo!” Rian bertanya dengan nada yang luar biasa.
Sementara Vano dan Syasya tak ada niat untuk menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu. Vano memandang teman-temannya aneh sebelum kemudian tersenyum dan mengecup pucuk kepala Syasya. Sontak seisi kelas berteriak.
“mampuus! Beneran pacaran ternyata” ucap Lita pelan dengan pandangan kosongnya.
“baik anak-anak kita mulai ujian hari terakhir ya” seketika kelas menjadi sepi sejak kedatangan sang pengawas.
Mereka melaksanakan ujian dengan sungguh-sungguh? Atau mungkin tidak.
Akhirnya mereka selesai dengan ujian yang sangat memusingkan.
“aku ke rumah kamu ya” ijin Vano. Syasya sontak membulatkan matanya mendengar pernyataan Vano. Bukannya ia tidak mau, tapi apa yang akan dikatakan orang tuanya nanti.
“mau apa?” tanya Syasya ragu.
“minta ijin sama calon mertua buat macarin anaknya” bisik Vano kemudian berdiri dari duduknya. Ia menarik tangan Syasya untuk berdiri. Syasya sendiri tidak tega menolak permintaan Vano. Ia takut menghancurkan harapan Vano jika ia menolak pergi ke rumahnya.
“ayo”
Akhirnya mereka meninggalkan sekolah. Jantung Vano berdebar memikirkan ia akan bertemu dengan keluarga Syasya.
Mengingat jarak dari sekolah ke rumah Syasya tidak terlalu jauh saat ini mereka sudah sampai di rumah Syasya. Syasya mempersilahkan Vano untuk masuk, ini pertama kalinya ia masuk ke rumah Syasya.
“mamiii, Syasya pulang” Vano hanya tersenyum melihat kelakuan kekasihnya.
“jangan teriak-teriak sayang, mami dengar kok”
“loh ini siapa?” lanjut maminya saat melihat Vano.
“halo tante. Saya Vano” Vano mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Mami Tania membalasnya dan menarik Vano untuk duduk.
“yu duduk dulu sayang”
“Syasya gak di ajak?” protes Syasya.
“yaudah sini. Lagian kamu tuh tinggal duduk aja” ucap maminya sedikit menggoda Syasya.
“jadi kamu..?” tanya mami Tania menggantungkan ucapanya. Ia sengaja melakukannya untuk memancing jawaban dari Vano.
“saya teman Syasya tante” jawab Vano.
“yakin Cuma teman?” bagaimanapun ia seorang ibu. Ia pasti peka dengan tingkah laku dari anak muda ini.
“saya pacarnya” ucap Vano seraya menggaruk belakag kepalanya yang tak gatal.
“Sya, kamu kok gak bilang. Calon mantu mami ganteng banget” ucap mami Tania girang.
Syasya memutar bola matanya melihat kelakuan maminya.
“lagian mami kenapa udah ada di rumah, tumben”
“emang kalau mami gak ada di rumah kamu mau ngapain?” tanya maminya.
“ituu mi....”