Complicated Love

Complicated Love
S2 - Kedatangan Dua Anak Dakjal



“Makasih, Yah.” Bian berpamitan setelah dia sampai di sekolahnya. Sementara Vano mengangguk dan pergi dari sana untuk lanjut ke kantornya.


Sesampainya di kantor, dia masuk ke ruangannya. Ponsel adalah hal pertama yang dia cari. Vano segera mengetikan nama ‘Bunda’ di ponselnya.


“Halo Bun,” sapa Vano saat telpon sudah tersambung. Di seberang sana sangat ramai, mungkin saat ini bundanya sedang ada di luar.


“Iya, Al ada apa?” tanya wanita di seberang sana.


“Bunda sama Ayah minggu ini kosong gak? Kita mau kumpul. Anak yang Al adopsi juga Al ajak,” ujar Vano. Panggilan Al dari bundanya memang tak berubah sejak dulu.


“Kita kosong. Malah awalnya kita mau main ke rumah kalian.” Vano terkekeh, dia lebih baik sekarang. Jika dulu dia sangat malas jika berinteraksi dengan orang tuanya, maka setelah menikah hal itu hilang begitu saja.


“Gak usah Bun, kita yang ke rumah Bunda aja. Nanti Al sekalian ajak Mami sama Papi,” ucap Vano.


“Baguslah kalau kalian yang mau ke sini. Bunda jadi gak usah cari baju bagus buat nyamperin kalian,” kekehnya. Vano juga ikut terkekeh ketika Bundanya berucap demikian.


“Baju bagus apaan, orang cuma main ke rumah, kanapa harus pakai baju bagus segala. Bunda ingat ya, baju Bunda itu udah melebihi kapasitas lemari di rumah tau,” sindir Vano. 


Itu memang benar adanya. Setelah Vano menikah, Bundanya lebih sering membeli baju dengan alasan, “Astaga, Al. Baju ini lucu banget. Bunda mau beli satu, kalau gak kepake nanti buat orang yang lebih membutuhkan aja.”


Kalimat keramat yang sudah sering Vano dengar dan pada akhirnya baju-baju itu memang sebagian menjadi milik orang lain karena Bundanya itu gampang bosan.


“Iya Al. Sekarang Bunda udah gak beli baju lagi kok. Malah Bunda maunya beli baju buat cucu Bunda,” ucapnya.


“Gak usah Bun. Al masih bisa beli baju buat Si Kembar dan Abangnya. Uang Bunda simpan aja buat tabungan Bunda ya.” Memang kadang Bundanya itu jika tidak diingatkan akan lupa diri.


Malah Vano yang sering mengingatkan karena Ayahnya sibuk bekerja dan jarang ada di rumah.


“Iya nanti kalau gak khilaf,” kekehnya. Vano menggelengkan kepalanya mendengar penuturan sang bunda.


“Ya udah ya Bun, Al cuma mau kasih tau itu aja. Hari minggu nanti Al ke rumah sama yang lainnya.” Vano mengakhiri percakapannya.


“Iya.” Setelah percakapan berakhir, Vano mematikan sambungan telponnya. Dia memang jarang menelpon orang tuanya, itulah mengapa sebagai gantinya dia rutin ke rumah orang tuanya seminggu sekali.


Dan kebetulan sekali kunjungan minggu ini dia datang bersama dengan anak barunya. Vano menyimpan ponselnya dan kembali pada pekerjaannya.


Jika di sini Vano banting tulang mencari uang untuk menafkahi anak istrinya, maka lain halnya dengan Syasya.


Seperti yang gadis itu katakan tadi, dia akan bermain dengan temannya. Kalian tahu teman mana yang Syasya maksud karena memang gadis itu tak memiliki teman lain selain kedua temannya itu.


“Jadinya kita main di mana?” Dina baru saja tiba di rumah Syasya. Tanpa turun dari mobilnya mereka segera melajukannya kembali.


“Rumah Abang gue aja. Lita gak mungkin keluar karena dia jagain anaknya,” jawab Syasya.


Dina adalah salah satu teman Syasya ketika dia SMA. Saat ini gadis itu sangat sibuk karena bekerja di salah satu stasiun televisi. Ya, dia adalah seorang aktris.


“Oke deh.” Penampilannya sangat jauh dari ketika dia SMA dulu. Dia semakin cantik dan lihatlah sekarang, semua pakaian yang menempel di badannya merupakan barang-barang malah.


Tapi meskipun dia sudah punya segalanya, satu yang belum dia miliki. Seorang suami. Dina adalah satu-satunya yang belum menikah di antara mereka.


Mereka sampai di rumah Lita. Halaman rumah mereka terlihat ada mobil dan juga motor. “Lagi ada tamu?” tanya Dina yang melihat itu.


Syasya menggedikkan bahunya. Dia juga tak tahu jika rumah Abangnya sedang kedatangan tamu. “Gak tau. Lita sama Abang gue juga gak ngomong apa-apa.”


Tanggung sudah berada di sana, Syasya dan Dina keluar dari mobil. Ingin kembalipun mereka sudah sejauh ini.


Syasya mengetuk pintu yang agak terbuka. “Kayanya emang lagi ada tamu deh.” Dina memandang Syasya ragu.


“Udahlah gak apa-apa.” Setelah beberapa kali mereka mengetuk pintu, akhirnya Tristan datang dari dalam.


“Loh ngapain lo di sini?” tanya Tristan. “Gitu lo ngadepin tamu?” sindir Syasya yang kesal.


“Oh iya. Masuk-masuk.” Akhirnya mereka masuk seperti yang dikatakan Tristan.


“Ada siapa Bang? Kok rame banget?” tanya Syasya sepanjang menuju ke ruang tamu yang memang agak jauh dari pintu mengingat rumah mereka yang bisa dikatakan besar.


Belum sempat Tristan menjawab, mereka sudah tiba di ruang tamu. Benar saja, ada tamu di sana.


Mata Syasya membulat melihat siapa orang-orang itu. “Lah, kalian ngapain di sini?!” teriak Syasya. Bukan hanya Syasya yang terkejut, tapi Dina juga terbelalak.


“Eh Sya, gimana kabar lo?” Seorang pria yang sangat Syasya kenali. Temannya saat sekolah dulu, lebih tepatnya teman Vano.


“Kok lo bisa ada di sini?” Bukannya menjawab pertanyaan satu sama lain, mereka malah terus saja melempar pertanyaan.


“Lah, Bang Tristan kan bos gue di kantor. Dia punya anak masa gue gak datang sih.” Ya orang itu adalah Hans dan Rian.


“Sejak kapan Bang Tristan jadi bos kalian? Kenapa gue gak pernah tau?!” Tristan merotasikan bola matanya.


“Emang gue harus selalu lapor apa yang gue lakuin?” sindir Tristan. Syasya hanya diam tak berniat menjawab karena kesal dengan jawaban Abangnya barusan.


“Duduk dulu, Din.” Sebelum melanjutkan hal itu, Lita yang juga ada di sana mempersilahkan Dina duduk terlebih dahulu.


Dia tak peduli dengan Syasya, mau dia berdiri atau duduk. “Mainnya sama Bang Tristan, yang sahabat lo kan Vano,” ucap Syasya.


Dua orang yang sedang berada di rumah Tristan itu adalah Rian dan Hans. Dua orang yang sangat dekat dengan Vano.


“Ya kitamah nyamperin duit lah. Duitnya Bang Tristan lebih banyak daripada duit Vano. Jadi kita datangnya ke sini,” ucap Hans bergurau.


“Lo bilangin suami gue mampus lo,” kesal Syasya.


Semua terbahak kecuali Syasya dan Dina. Hanya dua gadis itu yang masih bingung dengan keadaan sekarang.


Syasya memang sudah lama tak melihat Rian dan Hans. Sekitar satu tahun kedua orang itu menghilang.


“Eh, Bang Tristan kan gak pernah kerja, terus kalian kerja di mana?” tanya Syasya baru sadar.


Tristan memang tak memiliki kantor di dalam negeri. Tapi dia memilikinya di luar negeri, itu sebabnya dia mengutus Rian dan Hans untuk mengurus kantornya di luar negeri karena dia tak mungkin meninggalkan anak istrinya di sini.