Complicated Love

Complicated Love
Chapter 39



Beruntunglah ayah Dina datang tepat waktu. Bianca langsung di bawa pergi oleh polisi setelah mendapat beberapa keterangan dari sahabat-sahabat Syasya dan juga abangnya.


Sementara Syasya di sana berusaha mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.


Vano yang melihat keadaan kekasihnya panik bukan main.


"Sya" lirih Vano. Syasya yang merasa keadaannya sudah lebih baik segera mengusap rambut Vano.


"aku baik-baik aja" senyum manis terukir di bibir Syasya. Entah mengapa hatinya menghangat melihat raut khawatir Vano.


"Sya, udah mendingan?!" teriak Tristan. Pria itu segera berlari setelah polisi membawa Bianca.


"gak apa-apa bang. Gue baik-baik aja" Tristan menghela nafas lega setelah dirasa keadaan Syasya memang sudah membaik.


"jadi siapa bang yang tarik kaki gue? Gue kaget bukan main. Bukan setan kan?" sungguh pertanyaan konyol.


"emang setan yang narik lo!" Tristan kesal dengan imajinasi adiknya ini.


Syasya cemberut mendengar ucapan abangnya. Lagi-lagi Vano membelai rambut Syasya.


"enggak Sya. Bianca yang narik kamu" ujar Vano tenang. Entah bagaimana pria itu bisa dengan mudah mengatakan orang yang akan menyakiti Syasya.


Syasya yang mendengar itu justru membelalakkan matanya.


"dia lagi? Sekarang kemana orangnya?" tanya Syasya.


"udah dibawa sama bokap gue. Lo tenang aja sekarang lo udah aman" Dina mendudukkan dirinya di samping Syasya.


"jadi sesuai rencana kita pulang sekarang kan?" Tanya Tristan.


"iya, kita juga perlu istirahat buat kuliah lusa" jawab Lita. Yang lain mengangguk menyetujui kehendak Lita.


"sorry, gara-gara gue liburan kita gagal" Syasya menundukkan kepalanya. Penyesalan muncul di hatinya. Andai saja dia tidak berenang semuanya pasti baik-baik saja.


"lo ngomong apa sih? Lagi pula kemarin kita juga udah main, ditambah volly tadi udah cukup. Kita juga bisa liburan lagi lain kali" ucao Lita.


"ya udah kalian siap-siap. Kita pulang sekarang" Tristan beranjak untuk packing. Begitupun yang lainnya. Namun sebelum mereka benar-benar bubar, sebuah suara membuat langkah merwka terhenti.


"Sya, emang lo udah gak apa-apa kalau langsung pulang sekarang?" tanya Hans.


***


Setelah pertanyaan yang dilontarkan Hans, mereka berpikir ulang untuk pulang begitu saja.


Akhirnya mereka memutuskan untuk memeriksa Syasya ke rumah sakit terdekat. Dengan begitu setidaknya mereka akan tahu bagaimana keadaan Syasya.


Pintu ruang periksa terbuka menampilkan Syasya dengan senyumnya dan juga Tristan yang mengekor di belakang Syasya.


"gimana?" tanya Vano begitu mereka keluar dari sana.


"aku gak kenapa-kenapa Van. Kata dokternya tadi aku cuma kaget aja. Dan soal asma aku yang kambuh, itu karena aku terlalu lama tahan nafas di dalam air. Tapi sekarang aku udah baik-baik aja" jelas Syasya.


Vano menghembuskan nafas lega setelah mendengar penjelasan Syasya. Yang lainnya pun juga merasa lega.


"oke, karena Syasya udah baik-baik aja, sekarang kita pulang!" seru Dina.


Yang lain merasa aneh pada gadis satu itu. Bukannya harusnya mereka sedih karena sesi berlibur mereka sudah berakhir? Namun mengapa gadis satu ini berbeda?


"kenapa pada liatin gue?" heran Dina setelah dirasa semua perhatian tertuju padanya.


Mereka semua hanya tersenyum canggung melihat kelakuan Dina.


"enggak, enggak kenapa-kenapa. Yuk kita pulang" ucap Rian mencoba mencairkan suasana.


***


Syasya merasa sepi karena tidak berangkat dengan Lita. Kini jam kuliah mereka benar-benar berbeda. Namun baiknya adalah, saat ini tepat di depan fakultasnya berdiri sosok tampan yang menjadi kekasihnya.


Syasya segera berlari ke arah pria itu dan langsung berhambur ke dalam pelukannya.


Mereka tak memperdulikan bahkan jika saat ini mereka menjadi pusat perhatian.


Lama sekali mereka berpelukan seakan benar-benar tak ingin melepaskan.


"aku kangen" bisik Vano. Syasya yang mendengar itu sontak memukul pelan punggung Vano. Kesal? Tidak. Dia hanya malu karena tak biasanya Vano blak-blakan seperti ini.


"ih apaan sih. Baru juga kemarin ketemu" balas Syasya. Kini pipinya sudah memerah layaknya kepiting rebus.


"ya tapi kan kangen" manja Vano.


Syasya berusaha melepaskan pelukannya untuk melihat raut wajah Vano saat berkata dengan nada manja seperti itu. Namun pelukan Vano mengerat. Tentu saja dia malu jika sampai Syasya melihat wajahnya saat ini. Dia tak pernah bersikap manja pada siapapun kecuali Syasya.


"Van kamu sakit? Kenapa jadi manja sih?" heran Syasya. Vano menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan perkataan Syasya.


"emang gak boleh manja sama pacar sendiri?" Vano sedikit menjauhkan tubuhnya dari Syasya untuk melihat wajah gadis itu.


"bukan gitu. Aneh aja seorang Vano bisa manja kaya tadi" Syasya terkekeh saat sifat manja Vano kembali melintas di kepalanya.


"kenapa ketawa sendiri?" tanya Vano heran.


"enggak, gak apa-apa. Ya udah ke kelas gih aku juga kayanya mau masuk bentar lagi" ujar Syasya.


"iya. Kamu hati-hati. Nanti aku ke sini jemput kamu" Vano menggenggam tangan Syasya. Wajahnya semakin mendekat ke arah Syasya dan sebuah kecupan singkat mendarat di kening Syasya.


"aku pergi" Vano melambaikan tangannya pada Syasya. Sementara gadis itu masih berusaha menetralkan detak jantungnya.


Sudag hampir dua tahun, namun detak jantungnya saat berhadapan dengan Vano masih sama.


"tenang, gak boleh berisik" ucap Syasya ke araj dadanya. Dia bingung bagaimana cara menenangkan detak jantungnya yang malah semakin cepat.


"oke. Ayo belajar!" bukan kalimat menyemangati, hanya saja Syasya berusaha melupakan kejadian beberapa saat lalu agar jantungnya kembali normal.


Gadia itu melangkahkan kakinya menuju kelas yang terlihat sudah ada dosen di sana.


Jadi gadis itu telat?


"maaf saya telat bu" ucao Syasya.


"silahkan duduk" untung saja dosennya baik hati dan tidak sombong. Mungkin jika kini dosen killer yang ada di hadapannya, Syasya sudah tidak diperbolehkan mengikuti kelas.


Sementara Vano, pria itu sebenarnya tak ada kelas hari ini. Namun pria itu mengetahui dengan pasti jadwal kelas Syasya sehingga dia memutuskan untuk datang ke kampus dan bertemu kekasihnya.


Cafetaria adalah tujuan utamanya saat ini. Ke mana lagi dia akan pergi jika tidak ke sini.


Vano mengeluarkan ponselnya dan memainkan game di sana setelah dia memesan makanan.


Di luar sana para wanita tengah sibuk memandang pemandangan yang menurut mereka sangat indah.


Seorang pria dengan jas biru dongker dan dua kancing kemeja yang dilepaskan menambah kesan menawan pada pria itu.


Vano yang risih mendengan teriakan dari mahasiswi-mahasiswi itu mencoba menengok ke belakang untuk mengetahui apa yang tengah terjadi.


Pandangan Vano terhenti pada sosok pria yang terlihat lebih dewasa darinya dan dia berjalan ke arah Vano.