
Syasya meregangkan ototnya setelah beberapa menit lalu ia mendarat di tanah kelahirannya. Dia tidak sendiri, keluarga Syasya akhirnya kembali berkumpul di rumah mereka, rumah yang sebenarnya.
"aduh takut gagap bahasa Indonesia gue" ucap Tristan dengan sombongnya.
"eh bambang, lu di sana juga ngomong pake bahasa Indonesia. Sekalinya ngomong bahasa Inggris juga cuma 'thank you' sama 'sorry'" ejek Syasya.
Tristan yang mengakui kebenaran perkataan Syasya hanya tersenyum.
"udah ngobrolnya? jadi kita mau pulang atau tidur di sini?" tanya maminya sedikit menyindir.
"eheheeh iya mi, kita pulang ayo!" dengan semangat Syasya dan Tristan menggeret koper masing-masing. Sementara koper maminya, papi yang bawa.
Rumah yang sudah selama setahun ia tinggalkan. Masih sama, tak ada yang berubah. Namun bunga-bunga di halaman rumah Syasya kini mekar begitu indah seakan menyambut kedatangan sang tuan.
Tentu saja rumah ini terawat dengan baik karena mami Syasya menyuruh orang untuk merawatnya selama ia tak di rumah.
Kaki Syasya melangkah melewati satu peraatu tangga yang kini terasa lebih tinggi, mungkin karena sudah lama ia tidak menjumpai tangga.
Pintu kamarnya sudah ada di depan mata, Syasya seger membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya.
Suasana yang sama, namun ada sedikit debu-debu kecil di atas meja dan bukunya. Ah apakah sekarang dia akan menjadi juniornya Lita mengingat ia cuti kuliah selama setahun?
Syasya terkekeh kecil membayangkannya.
Setelah pulang ke rumahnya Syasya baru memegang ponsel lagi. Waktu kecelakaan ponselnya hilang dan saat ini dia memiliki yang baru. Hanya ada kontak Dina dan Lita di ponselnya, itupun ia dapatkan dari abangnya.
"Lit gue udah di rumah, lo main ya ke sini" ketik Syasya di ponselnya sebelum kemudian mengirimkan pesan itu.
"Siapa ya?" balas Lita.
"Syasya. Sekalian ajak Dina, kita makan bareng di rumah gue" ajak Syasya.
"oke gue berangkat" Siang-siang seperti ini terjadi kekacauan di kamar Lita. Pasalnya ia terburu-buru mencari baju dan juga sibuk menelpon Dina.
"Din, siap-siap ya gue jemput sekarang, gak pake nanya" Sambungan telepon ia putuskan setelah mengucapkan itu.
Lita melempar asal ponselnya, ia sibuk memaki baju. Bukan apa-apa, sudah satu tahun lamanya ia tak berjumpa atau berkomunikasi dengan sahabatnya itu. Jadi disaat Syasya mengabarinya ia benar-benar tidak sabar bertemu Syasya, terutama ia ingin tahu semua cerita Syasya selama satu tahun mereka tidak bertemu.
Saat ini Lita dan Dina sedang dalam perjalanan menuju rumah Syasya. Setelah sampai di depan rumah Syasya, mereka ragu untuk masuk atau tidak. Sudah satu tahun mereka tidak ke sini.
Sementara Syasya yang mendengar suara deru mobil segera melangkahkan kakinya menuju pintu masuk.
Tepat setelah Syasya membuka pintu masuk, kedua sahabatnya juga tengah berdiri di hadapan pintu. Dengan perasaan bahagia dan terharu mereka saling memeluk dan menumpahkan segala kerinduan yang mendalam.
"Sya...." kalimat yang hendak diucapkan Dina menggantung karena ia bingung apa yang harus ia katakan pada sahabatnya ini. Tanpa ada kabar sedikitpun, kini Syasya tengah berdiri di hadapannya.
"gue baik-baik aja" ujar Syasya mengerti dengan apa yang dilakukan Dina.
"syukurlah. Akhirnya kita bisa ketemu lagi setelah satu tahun lo gak ada kabar" Syasya tersenyum menanggapi ucapan Lita.
"ayo masuk" Syasya mengajak kedua sahabatnya masuk ke dalam rumah menuju meja makan karena memang itu perjanjian mereka.
"Lita, Dina kalian apa kabar?" tanya mami reflek memeluk kedua sahabat Syasya itu. Mereka sudah seperti anaknya sendiri mengingat bagaimana mereka sangat dekat dengan Syasya layaknya saudara.
"baik mami, mami apa kabar? Kita kangen banget" jawab Lita yang kemudian dianggukki oleh Dina.
"baik juga. Ya udah yu kita makan bareng. Sya kamu panggil abang kamu ya, mami mau panggil papi" setelah berucap demikian, Syasya segera menuju kamar abangnya untuk memanggilnya makan.
***
Setelah acara makan mereka selesai, kamar Syasya menjadi tujuan utama mereka. Sementara orang tua dan abang Syasya kembali ke kamar masing-masing mengingat mereka memang belum istirahat.
"jadi Sya, kapan lo mau cerita. Bukannya terakhir kali saat kita ketemu lo amnesia ya?" tanya Dina. Dia sangat penasaran dengan kehidupan Syasya setahun belakangan ini pasalnya mereka berdua tak mendapatkan kabar sedikitpun dari Syasya.
"sebelum itu, gue dengar kalian yang urus kasus tabrakan gue?" tanya Syasya.
"dari mana lo tahu soal itu?" Dina sangat penasaran. Bukannya dia hilang ingatan?
"abang gue cerita. Tentang kecelakaan itu gue gak ingat sama sekali, tapi yang gue tahu dalang di balik kecelakaan gue adalah Brian sama Bianca. Yang mau gue tanya, mereka udah di tangkap?" pertanyaan Syasya membuat keduanya terpaku. Mereka tak menyangka Syasya akan menanyakan hal ini, karena Syasya yang dulu mereka kenal adalah seorang pemaaf sekeras manapun dia disakiti.
"sorry Sya. Kita udah berusaha buat cari mereka. Tapi beberapa hari setelah abang lo balik ke Jerman, Bianca sama Brian juga pergi ke luar negeri. Dan sekarang gue gak tahu keadaan mereka" Lita dan Dina sangat menyesal karena tidak bisa menangkap orang yang telah menyakiti sahabatnya.
"tapi lo tenang aja, bokap gue belum nyerah buat nyari mereka dan gue juga bakal berusaha buat dapetin kabar mereka" tambah Dina.
"iya gak apa-apa, justru gue berterimakasih banget sama kalian karena udah peduli sama gue" ucap Syasya.
"Sya, lo belum putus kan sama Vano?" tanya Lita hati-hati karena mengetahui trauma Syasya kepada pria itu.
"gue gak tahu" ucap Syasya singkat. Raut wajahnya berubah sendu, dia mengingat bagaimana perlakuan Vano dulu padanya.
"tapi sekarang lo udah bisa ketemu Vano?" kali ini Dina yang bertanya.
"emangnya kenapa?" Syasya merasa aneh saja. Sejak kapan kedua sahabatnya ini mulai tertarik dengan kehidupan cintanya?
"setelah tahu lo takut sama dia, Vano berubah Sya. Dia lebih sering ngabisin waktunya di club. Dia juga udah mulai minum alkohol. Dia berubah drastis" Kedua mata Syasya terbelalak mendengar hal itu. Munafik jika Syasya mengatakan ia sudah tak peduli dengan Vano, buktinya saat ini jantungnya berdetak dengan cepat mendengar kabar Vano yang sepertinya jauh dari kata baik-baik saja.
"gu...gue mau ketemu sama dia, tapi...gue gak tahu apakah gue bisa atau engga. Gue takut bakal gila lagi saat ketemu dia" tatapan Syasya berubah sendu. Dari tatapannya itu Lita dan Dina sudah bisa menangkap bahwa Syasya masih peduli dengan Vano.
"siapa yang lo bilang gila!?" bentak Lita. Kesal sekali rasanya mendengar kata 'gila' dari mulut sahabatnya itu.