Complicated Love

Complicated Love
S2 - Pamit



Aruna, Arjuna dan Kiana berlari sepanjang koridor rumah sakit. Aruna menangis dengan sebuah piala yang dia pegang.


Ya, dia berhasil menjadi kebanggaan. Dia berhasil memenangkan olimpiade. Dia berhasil membuktikan pada semuanya jika dia bisa.


“Ayah,” lirihnya. Entah mengapa, dia merasa rumah sakit ini sangat besar karena dia tak kunjung sampai ke ruangan Ayahnya.


Cukup lama mereka berlari hingga akhirnya mereka melihat keberadaan Bian dan Syasya di sana. Bian masih berusaha tenang, sementara Syasya sudah berlinang air mata.


“Sayang,” panggil Syasay sambil merentangkan tangannya untuk memeluk Aruna. Hanya gadis itu yang dia peluk karena dia yakin Arjuna lebih kuat dari pada yang dia bayangkan.


“Ayah gimana, Mi?” tanya Aruna dengan air mata yang mengalir semakin deras. Syasya berusaha tersenyum walau tak bisa dipungkiri jika wajahnya masih menggambarkan sebuah kekhawatiran.


“Ayah pasti baik-baik aja. Dokter lagi periksa dia,” jawab Syasya. Sementara itu Bian menghampiri Arjuna dan Kiana. 


Bian menepuk pelan bahu Arjuna mencoba menguatkan pria itu. “Ayah pasti baik-baik aja,” lanjutnya yang diangguki oleh Arjuna.


Arjuna juga sebenarnya takut terjadi apa-apa dengan Ayahnya. Semua orang di sana tak ada yang tenang sama sekali. Mereka semua takut akan kemungkinan buruk yang terjadi.


“Keluarga Tuan Vano?” Dokter akhirnya keluar. Syasya spontan berdiri begitu juga dengan yang lainnya yang memfokuskan pandangannya pada dokter itu.


“Bisa ikut saya sebentar,” ucapnya. Syasya mengangguk. “Tunggu sebentar ya,” ucapnya pada anak-anaknya. 


“Bian boleh ikut?” tanya Bian karena dia juga merasa bertanggung jawab di sini. Syasya mengangguk. 


Setelah kepergian dua orang itu, si kembar dan Kiana duduk di kursi tunggu dengan cemas. Sementara itu Syasya dan Bian tiba di ruangan dokter itu.


“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Syasya tak sabar. Bian langsung mengelus punggung Maminya berusaha menenangkannya.


“Tuan Vano dinyatakan menderita gagal jantung stadium akhir. Itulah kenapa dia mengalami sesak nafas. Apa belakangan ini dia juga sering batuk dan mengeluh lelah?” tanya Dokter itu.


Tangisan Syasya pecah. Dia tak sanggup lagi menjawab pertanyaan Dokter. Tapi, selama ini Vano terlihat baik-baik saja walau memang apa yang dikatakan Dokter itu benar.


“Iya Dok, dia sering mengeluh lelah.” Kali ini Bian yang menjawab menggantikan Maminya.


“Apa ada cara untuk mengobatinya, Dok,” tanya Bian. Dokter itu menghela nafas merasa iba dengan keluarga ini.


“Transplantasi jantung. Itu yang sering dilakukan pada penderita gagal jantung stadium akhir. Kita melakukan ganti jantung dari pendonor dengan jantung yang sehat.” Dokter itu menjelaskan.


“Kalau gitu lakukan, Dok. Ambil jantung saya.” Syasya menjawab dengan yakin. Hal itu membuat Bian spontan melihat marah ke arah Maminya.


“Mi!!” sentaknya. “Tapi gak ada cara lain lagi, Bang. Ayah kalian harus tetap hidup,” ucap Syasya putus asa.


“Ayah emang harus hidup, tapi bukan berarti Mami yang harus hilang,” ucap Bian. Tangis Syasya kembali pecah.


“Terus gimana?” tanyanya putus asa. “Dok, apa tingkat keberhasilan operasi ini tinggi?” Bian kembali bertanya.


“Ya, tingkat keberhasilan operasi ini cukup tinggi. Tapi hal ini juga tentu saja memiliki resiko seperti penolakan tubuh terhadap jantung yang baru. Tapi hal itu bisa kita minimalisir dengan obat imunosupresan,” jawab Dokter.


Bian mengangguk. “Baiklah, terima kasih, Dok. Berikan kami waktu untuk berfikir,” jawab Bian.


Dokter itu mengangguk. Mereka kemudian kelur dari sana dengan Bian yang menggandeng Maminya.


“Mami, gimana?” tanya Aruna panik. “Tenang ya.” Bukan Syasya yang menjawab melainkan Bian.


Bian akhirnya menjelaskan semua yang terjadi pada si kembar dan kekasihnya. Setelah dia menceritakannya, tak ada satupun dari mereka yang tidak menangis. Semuanya menangis histeris apalagi Aruna.


“Boleh Kakak liat Ayah?” tanya gadis itu masih dengan tangisannya. “Hhmm, kalian duluan ke ruangan Ayah. Abang mau ke toilet bentar,” ucap Bian.


Semuanya masuk ke ruangan di mana Vano dirawat selain Bian. “Ayah,” lirih Aruna sambil mendekat pada pria yang sedang berbaring di brankar itu.


Tak lama, mata Vano mengerjab. Dia sadar dan melihat orang-orang yang dia sayang ada di hadapannya.


“Ayah udah bangun?” tanya Aruna. Vano mengangguk. Dia mengangkat tangannya untuk menghapus air mata di pipi Aruna.


“Kakak gak boleh nangis. Ayah gak apa-apa,” lirih Vano. Dia berusaha menahan air matanya.


Sepertinya semuanya sudah tahu tentang penyakitnya. Awalnya dia akan menyembunyikannya hingga tuhan menjemputnya. Tapi siap sangka semuanya malah terbuka begitu saja.


“Kamu menang?” tanya Vano berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Aruna mengangguk sambil memperlihatkan piala yang dia dapatkan.


“Anak Ayah emang hebat. Abang juga hebat. Tetap jadi pelindung buat Kakak ya,” ucap Vano yang membuat Arjuna tak bisa lagi menahan air matanya.


Dia menangis dalam diam tapi air matanya tak bisa berhenti. “Ayah juga harus sembuh biar bisa bantuin Abang buat jagain Kakak,” jawab pria itu.


Vano mengangguk sambil tersenyum lembut. “Van,” lirih Syasya. Tangisnya kembali pecah.


Syasya segera berhambur dalam pelukan Vano. Demi Tuha, dia tak ingin kehilangan Vano. Jika boleh, biarkan dia yang menggantikan Vano saja.


“Jangan nangis, kamu gak malu sama anak-anak,” kekehnya. Syasya menggeleng, di saat seperti ini siapa yang akan merasa malu karena menangis.


“Aku bakal sembuh kok.” Vano mencoba menghibur istrinya walau dia tahu hidupnya tak akan lama lagi.


“Bian mana?” tanya Vano. “Abang di sini, Yah.” Bian datang tepat saat Vano menanyakannya.


“Boleh Ayah bicara sebentar sama Bang Bian?” tanya Vano meminta persetujuan semuanya. Hal itu diangguki oleh semuanya.


Akhirnya mereka yang ada di sana kembali keluar dari ruangan itu hingga di dalam hanya menyisakan Vano dan Bian.


Bian memandang Vano dengan sendu. Dia tak pernah melihat pria itu selemah sekarang. Hatinya hancur saat mengetahui semuanya.


“Ayah udah tau dari lama kan?” tanya Bian. Entahlah, hanya saja perasaannya mengatakan demikian.


Vano tak menjawab, dia hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Bian. “Bang, Ayah titip semuanya ya. Jaga Mami, jangan biarin dia makan telat atau magh-nya akan kambuh. Jangan ganggu Aruna kalau dia lagi berhadapan sama buku, buat Arjuna, jangan biarin dia asik sama game-nya. Ingetin dia, kalau enggak, dia gak bakal berhenti,” kekeh Vano.


“Oh iya, buat Kia, jangan sekali-kali kamu sakitin dia. Dia gadis baik, Ayah suka banget sama dia. Nikahin dia kalau kamu udah siap, jangan lama-lama, kasian dia.” Vano melanjutkan kalimatnya.


“Stop Yah. Ayah emang mau ke mana? Ayah bakal terus ada sama mereka, kenapa Ayah bilang gitu?” tanya Bian tak kuat dengan apa yang dikatakan Ayahnya.


“Umur gak ada yang tau Bang. Kalau nanti Ayah udah gak bisa jaga mereka, Ayah titip mereka sama kamu ya,” ucapnya.


Tangis Bian pecah. Dia tak bisa lagi menahannya. Dia memeluk Ayahnya dengan erat.