Complicated Love

Complicated Love
S2 - Lupa



Vano mengajarkan hal dasar yang tentunya harus dimiliki oleh anaknya. 


Kesopanan. Vano mengatakan pada Si Kembar, jika ada tamu temani dia bukan malah meninggalkannya. 


Dan terbukti, saat ini Si Kembar berada di ruang tamu bersama dengan kedua orang tuanya dan juga Hans. 


Ketika orang-orang dewasa itu berbicara, Si Kembar hanya menyimak walau ada beberapa pembicaraan yang tak mereka mengerti. 


"Kelas berapa sekarang?" Hans bertanya pada kedua anak itu untuk menghilangkan rasa bosan mereka. 


"Kita kelas tiga, Om." Arjuna yang menjawab. 


"Bagus dong udah gede. Inget gak sama Om?" Arjuna dan Aruna tambah besar sedangkan Hans masih stuck dengan otaknya yang hanya sebesar biji wijen. 


Arjuna dan Aruna menggeleng dengan kompak. 


Tentu saja kedua anak itu tak akan mengingat Hans. Mereka saja terakhir bertemu ketika Si Kembar masih bayi. 


"Minim banget otak lo!" kesal Vano. "Sayang percakapan Ayah sama Om Hans gak boleh ditiru ya. Ini jelek." Vano memperingati dua anaknya. 


Sebenarnya sedari tadi dia sudah menahan agar tak berbicara sembarangan pada temannya itu. 


Tapi kelakuan Hans membuat Vano tak kuat untuk mengeluarkan kata-kata mutiaranya. 


"Iya Ayah." Vano tersenyum dan mengusap kepala mereka secara bergantian. 


"Diminum dulu." Syasya datang dari arah dapur dengan nampan di tangannya. 


Dia membawa minuman dan beberapa camilan. 


"Thank's Sya," ucap Hans yang dianggukki oleh Syasya. 


Syasya ikut duduk di sana dan ikut masuk dalam topik yang sedang mereka bicarakan. 


"Jadi, lo kerja di mana?" Vano penasaran karena sudah lama Hans tak menghubunginya dan sekarang dia datang mengantar istrinya yang dia tahu sedang main ke rumah Abangnya. 


"Luar negeri. Gue jadi kaki tangan Bang Tristan," jawab Hans. 


Vano agak terkejut dengan jawaban Hans. 


"Serius Bro. Bang Tristan gak kerja, ngapain lo jadi kaki tangan dia?" Tanggapan Vano sama dengan Syasya ketika dia baru tahu jika Tristan ternyata memiliki pekerjaan. 


"Tuh kan, apa aku bilang. Tadi aku juga gak percaya kalau Bang Tristan punya perusahaan." Ucapan Syasya semakin membuat Vano tercengang. 


"Di luar negeri?" tanya Vano. Syasya mengangguk sebagai jawaban. 


"Iya. Dia gak pernah pergi karena gak mau ninggalin anak sama istrinya. Jadi dia ngutus gue sama Rian buat ke sana." Entah untuk keberapa kalinya Vano dibuat terkejut. 


"Jadi, Rian juga ada di sini?" Vano kembali bertanya. 


"Hhmm dia sekarang lagi di rumah Bang Tristan. Ada Dina juga," lanjut Syasya. 


"Pantesan kamu betah banget di sana. Ternyata lagi pada ngumpul," tebak Vano. 


"Yaudah ayo ke sana. Sekalian ketemu Rian," ajak Hans. 


"Aduh, sorry bukannya gue gak mau. Tapi kerjaan gue lagi banyak banget. Kalau nanti malam gimana?" 


Tak bisa Vano pungkiri jika dia juga sangat merindukan teman-temannya. Dia ingin ikut berkumpul, tapi pekerjaannya tak bisa ditinggalkan. 


"Nanti gue kabarin lagi deh. Gue juga mesti tanya Rian dulu." 


Vano mengangguk. "Kalau mau nanti malam ke sini aja. Sekalian gue mau kenalin satu orang lagi sama lo." 


Vano berusaha terlihat misterius. "Siapa? Lo punya bocah lagi?" Hans menebak jika Syasya sedang hamil lagi. 


"Kalau penasaran nanti lo datang aja." 


Hal itu sekalian sebagai penarik agar kedua temannya kembali ke rumahnya. 


"Oke deh. Kalau gitu gue cabut dulu. Anak-anak udah pada nunggu di rumah Bang Tristan," pamit Hans. 


Dia tak bisa lama di rumah Vano karena dia cukup tahu diri. Dia yakin Vano harus segera kembali ke kantornya. 


"Oke. Hati-hati di jalan. Jangan lupa datang."


Setelah mengantar Hans ke depan, dan pria itu sudah pergi dari sana, Vano juga pamit pada istri dan anaknya. 


"Ayah berangkat lagi ya," pamitnya. Syasya dan kedua anaknya mengangguk dan membiarkan Vano pergi dari sana. 


"Mau!" seru keduanya. Mereka berjalan ke dapur untuk mempersiapkannya.


Sebuah kue berwarna merah yang sangat menggugah selera. 


Mereka makan dengan lahap hingga perut mereka terasa kenyang. 


"Ahh Abang kenyang. Kalau gini Abang bakal ngantuk lagi," guraunya. 


Entah hanya sebuah perasaan atau memang pada kenyataannya seperti ini, setiap habis makan pasti matanya terasa sangat berat. 


"Boleh tidur, tapi kasih jarak ya. Jangan habis makan langsung tidur. Gak sehat." Syasya memperingati anak-anaknya. 


Mereka mengangguk patuh.


Habis sudah makanan mereka. Tapi tenang saja, Syasya juga membelikan satu untuk Vano dan satu untuk Bian. 


"Abang mau ke kamar dulu, Mi. Main game abis itu tidur," pamitnya. 


"Kakak juga. Kayanya mau kerjain tugas tadi deh."


Syasya mengangguk. Dia tak pernah melarang anaknya untuk melakukan sesuatu selama itu masih di batas wajarnya. 


"Iya boleh."


Setelah mendapatkan izin dari Maminya, mereka kembali ke kamar. 


Sementara itu, Syasya mengambil ponselnya. Dia sedang belajar membuat kue saat ini. 


Itulah kenapa dia sering membeli kue belakangan ini. 


"Kayanya kalau di depan cocok," ucapnya. 


"Mungkin nanti bilang dulu Vano deh." Dia pergi ke kamarnya setelah selesai melihat ponselnya. 


**** 


Buka  Vano jika tak fokus dengan kerjaannya. Sedari tadi dia menunduk membaca beberapa dokumen dan menandatanganinya. 


Hingga sore tiba bahkan pria itu melupakan kewajibannya. 


"Permisi Pak. Udah jam empat, belum pulang?" Neta datang ke ruangannya untuk memperingati pria itu. 


Vano terlonjak saat dia mendengar hal itu. "Jam empat?" tanyanya sambil berteriak. 


Neta yang ikut terkejut hanya mengangguk. Dengan cepat Vano mengambil jas dan kunci mobilnya. 


Dia segera mengecek ponselnya. Benar saja ada beberapa panggilan tak terjawan dari Bian dan juga Syasya. 


Vano mencoba kembali menelpon Bian. 


"Bang, udah pulang?" tanyanya panik saat panggilan sudah tersambung. 


"Udah Yah. Setengah jam yang lalu," jawabnya. 


"Maaf Bang. Ayah tadi asik kerja sampai lupa. Tunggu bentar ya, ini Ayah baru mau berangkat dari kantor."


Hal itu tak menjadi alasan bagi Bian untuk marah karena menunggu baginya adalah hal biasa. 


"Iya Yah gak apa-apa. Jangan buru-buru ini masih banyak teman juga kok."


"Oke." Vano mengangguk dan mematika  sambungan saat selesai dengan percakapannya.


Dia tahu orang di seberang sana tak akan melihat jika dirinya mengangguk. 


Tapi dia tak peduli, Vano segera melajukan mobilnya menuju sekokah Bian.


Untung saja Neta mengingatkannya. Jika tidak, dia akan benar-benar menjadi Ayah yang kurang ajar.


Sesampainya di sana, benar saja apa yang dikatakan Bian. Masih ramai.


Putranya itu duduk santai di halte seberang sekolahnya sambil memainkan ponsel.


"Bang!" teriak Vano dari dalam mobil.


Bian yang merasa terpanggil segera mendongakkan kepalanya dan tersenyum saat melihat siapa yang memanggilnya.


"Ayo!"