
Itulah pesan yang tertera di ponselnya. Syasya sudah paham maksud Vano menyuruhnya ‘ke sini’ itu menghampirinya ke fakultas Vano, ya fakultas teknik. Lebih tepatnya menuju gudang kotor yang tak terpakai lagi. Vano sengaja menggunakan tempat itu untuk berkumpul dengan teman-teman barunya.
Mengingat Hans dan Rian, mereka memang satu kampus dengan Vano, namun Hans dan Rian berada di Fakultas Bahasa. Hans mengambil jurusan Bahasa inggris, sementara Rian dengan Bahasa Jepangnya. Itulah mengapa Vano juga jarang bertemu dengan kedua temannya itu.
Dengan cepat Syasya berlari ke fakultas teknik. Ia tahu jika ia terlambat maka ia akan mendapatkan hukuman dari Vano. Kalian tak melupakan jika Syasya mempunyai penyakit asma kan? Ya. Saat ini ia tengah merogoh tasnya untuk mengambil inhaler. Syasya kembali menggunakan benda itu sekitar dua bulan yang lalu.
Tepat sebelum memasuki ruangan dimana Vano berada, Syasya menyemprotkan inhaler ke dalam mulutnya kemudian menghela nafas dalam untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya. Syasya membuka pintu dan tersenyum manis seperti tak terjadi apapun.
“telah dua menit” ucap Vano. Syasya masih tersenyum. Tentu saja ia telat, dua menit itu ia gunakan untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya.
“maaf” kata itu yang keluar dari bibir Syasya. Air sudah menggenang di matanya, namun ia berusaha dengan keras agar air mata itu tidak terjatuh, tidak saat ia berada di hadapan Vano. Pikirannya melayang pada saat vano membela Bianca padahal di sana dia lah yang menjadi korban. Entah bagaimana hubungan Vano dengan Bianca setelah kejadian itu.
“beliin gue kopi ke minimarket depan, nih uangnya” dengan mudahnya Vano melempar uang berwarna biru ke hadapan Syasya. Entah kenapa Syasya masih ingin mempertahankan hubungan ini, padahal hatinya sudah tersakiti begitu dalam.
Tanpa menjawab Vano, Syasya segera memungut uang itu dan segera berlari menuju minimarket yang ada di depan gedung universitas. Ya memang di depan gedung, namun kalian pasti tahu sebesar apa gedung universitas dan Fakultas teknik terletak di gedung paling belakang universitas ini.
Syasya berlari memasuki minimarket dan memilih kopi yang akan ia beli. Namun dengan bodohnya ia tak menanyakan kopi apa yang Vano suka mengingat ini kali pertama Vano menyuruhnya membeli kopi. Biasanya pria itu selalu menyuruhnya membeli susu rasa pisang.
Tanpa memperdulikannya Syasya segera mengambil random kopi yang ada di hadapannya. Ia harus mempersiapkan diri untuk dimarahi oleh Vano. Syasya membayar ke kasir dan segera kembali ke tempat dimana Vano berada.
“ini Van” Syasya berusaha menampilkan senyumnya. Bibir yang dulu sangat ranum kini hilang. Pucat, hanya itu kata yang mampu menggambarkan wajah Syasya saat ini.
“siapa yang suruh beli varian cappuccino?” Vano bangun dari duduknya menghampiri Syasya. Rahangnya mengeras dan tanpa aba-aba Vano melayangkan tangannya ke pipi Syasya. Ya, Vano menampar Syasya hingga ujung bibir Syasya berdarah.
“maaf, aku gak tau” jawab Syasya dengan wajah menunduk. Beruntunglah rambutnya ia gerai sehingga bekas tamparan Vano tak terlihat. Namun sedetik kemudian ia menyesal telah menggerai rambutnya, karena saat ini Vano dengan mudahnya menjambak rambut Syasya.
“makanya lain kali tanya dulu!” bentah Vano dengan mata menyalang. Air mata Syasya mengalir membasahi pipinya. Isakan kecil yang keluar dari bibirnya ia tahan sekuat mungkin. Dadanya naik turun karena sesaknya kambuh.
Setelah itu Vano melepaskan jambakannya pada Syasya dan pergi dari sana tanpa memperdulikan keadaan Syasya. Jauh di lubuk hati Vano, hatinya sakit saat ini. Namun ketika rasa sakit itu muncul ia mengingatkan dirinya bahwa dulu Bianca melakukan hal menjijikan itu dengan Tristan yang tak lain adalah abangnya Syasya.
Vano sedang berjalan mengitari sebuah mall, sebenarnya tujuannya adalah sebuah caffe yang ada di mall tersebut tapi saat ini dia sedang mengulur waktu agar dia tak perlu menunggu teman-temannya.
Tapi netranya menangkap sosok yang sangat ia kenali. Ya, Pacarnya. Bisakan dia berkata begitu mengingat di antara mereka memang belum ada kata putus. Tapi satu hal yang membuatnya geram. Bianca, wanita itu tengah menggandeng tangan seorang laki-laki yang dia ketahui sosoknya.
Tangannya mengepal dan giginya bergemeletuk. Langkah lebarnya mencoba mencapai dua insan yang sedang dimabuk asmara itu. Setelah sampai pada objek yang ditujunya, tangan Vano menarik bahu sang pria berusaha membalikan badannya sebelum kemudian meninju wajah tampannya.
“oohhh jadi yang semalam lo?” seringaian muncul di wajahnya. Jadi pria yang semalam melakukan hal menjijikan dengan pacarnya adalah Tristan?. Sementara Tristan, pria itu hanya menaikan alisnya berusaha mencerna maksud dari perkataan Vano.
“maksud lo?” tangan Tristan meraih kerah baju Vano dan menariknya hingga wajah Vano mendekat ke arahnya.
Hanya helaan nafas yang dikeluarkan Vano. Dia enggan berdebat, lagi pula dia sudah mengetahui jawaban dari pertanyaannya. Vano berusaha melepaskan cengkraman Tristan dan menghempaskan tangannya.
Di langkah ketiganya, Vano membalikan badan. Netranya tertuju pada Bianca.
“kita putus” kalimat yang membuat mata Bianca terbuka lebar.
“enggak, Van. Dengerin dulu penjelasan aku” Bianca berlari berusaha menggapai tangan Vano. Tapi sebelum itu terjadi Vano sudah terlebih dahulu menyingkirkan tangannya.
“Bi, kok kamu kejar dia. Kalian ada hubungan apa?” Tristan yang heran karena kekasihnya mengejar Vano. Dan lagi ucapan Vano terdengar aneh di telinga Tristan
“ka...kalian pacaran?” Tristan tergagap menyadari bahwa kalimat yang diucapkan Vano beberapa detik lalu merupakan jawaban dari pertanyaannya. Pada akhirnya kedua pria itu meninggalkan Bianca yang kebingungan untuk mengejar siapa yang akan ia pilih.
Dan itulah akhir hubungan Bianca dengan Vano, dan juga akhir hubungan Tristan dengan Bianca.
Di kelas, Vano terhanyut dalam lamunannya. sementara Syasya ia kembali ke kelas mengingat sebentar lagi dosennya masuk. Namun baru saja ia melangkahkan kakinya ke dalam kelas, kepalanya terasa berdenyut hebat, dadanya mulai sesak. Tak sempat ia merogoh inhaler di dalam tasnya tiba-tiba semuanya gelap.
Lita yang melihat ada gelagat aneh pada Syasya segera menghampirinya. Namun, belum juga pertanyaannya ia ajukan Syasya pingsan dan dengan sigap Lita menangkap tubuh sahabatnya.
“bantuin woy!” panik Lita. Teman-teman mereka yang ada di kelas segera membantu mengangkat Syasya dan membawanya ke rumah sakit. Lita akan merelakan kuliahnya untuk Syasya saat ini.
Tak ada pilihan lain karena Tristan yang dihubunginya tak menjawab telpon, jadi dia yang harus menjaga Syasya di rumah sakit saat ini. Dokter yang memeriksa Syasya keluar dari ruangan, dengan segera Lita menanyakan keadaan Syasya. Jawaban pria bersnelly putih itu cukup mengejutkan Lita.