Complicated Love

Complicated Love
S2 - Jalan-Jalan Malam



Sembari menunggu Vano, Aruna dan Bian bersiap, Syasya berusaha kembali membangunkan Arjuna yang tertidur sangat lelap.


“Abang, bangun yuk. Katanya kita mau jalan-jalan. Abang kan suka jalan-jalan,” bujuk Syasya.


“Eunngg, Mami~” rengek Arjuna sambil merentangkan tangannya. Meskipun kadang sifatnya dewasa, anak itu tetaplah anak-anak yang memiliki sisi manja.


“Mau di gendong?” tawar Syasya. Arjuna mengangguk dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.


Dengan sigap, Syasya segera menggendong putranya kemudian mengelus kepalanya dengan lembut.


“Bang Bian, Kakak sama Ayah udah siap-siap loh. Kamu gak mau siap-siap juga?” tanya Syasya.


Arjuna mengangguk. “Bentar ya Mi. Abang masih ngantuk dikit.” Posisi anak itu sekarang masih ada dalam gendongan Syasya yang sedang duduk di tepi ranjang.


Syasya berusaha mengerti dan menunggu beberapa menit lagi. Setelah sepuluh menit lewat, tanpa dibangunkan, Arjuna kembali membuka matanya dan menjauhkan badannya dari dekapan Syasya.


“Udah bobonya?” goda Syasya karena anaknya itu tidur sangat lama. Tak biasanya Arjuna tidur selama itu.


Arjuna mengangguk lalu meminta turun dari gendongan Maminya. “Mau mandi sendiri atau Mami mandiin?” tanya Syasya.


“Mandi sendiri aja Mi.” Setelah menjawab Maminya, Arjuna segera pergi ke kamar mandi untuk membilas badannya.


Beruntunglah Aruna sudah selesai mandi hingga kamar mandi kosong. Sementara Bian dan Vano mandi di kamar mandi masing-masing yang ada di kamar.


Sementara Arjuna mandi, Syasya menyiapkan pakaian untuk putra dan putrinya itu. “Kakak pake baju ini mau?” tanya Syasya. Jika pada putrinya itu dia harus selalu bertanya karena Aruna merupakan tipe yang pemilih sehingga dia harus menentukan apapun sendiri.


“Boleh Mi. Lagian juga mau pake jaket, di luar dingin,” jawabnya. Syasya membantu Aruna memakai pakaian.


Biasanya gadis itu tak ingin dibantu. Tapi mungkin sekarang dia sedang ada di mode manja sehingga ingin dibantu oleh Syasya.


Selesai dengan pakaian Aruna, Syasya mencoba menyisir rambut putrinya. Salah satu tahap yang paling menyenangkan karena Syasya bisa berkreasi dengan rambut Aruna.


“Mi, kali ini gak usah ditata ya. Kepala Kakak suka sakit. Ditatanya kalau mau sekolah aja biar rapi,” tawar gadis kecil itu.


Syasya yang baru sadar akan hal itu akhirnya meminta maaf. “Astaga Kak. Kenapa gak bilang dari dulu kalau gitu,” sesal Syasya.


“Gak apa-apa Mi. Kakak juga suka, tapi ya kadang kepalanya suka sakit,” adunya. Syasya mengangguk.


“Diikat satu aja ya di belakang biar rambutnya gak kemana-mana,” ucap Syasya meminta pendapat putrinya.


Aruna mengangguk dan mengambil posisi membelakangi Syasya. Syasya mulai menyisir dan mengikat rambut panjang Aruna.


Rambut panjangnya itu sangat indah. Sudah beberapa kali Aruna meminta untuk dipotong saja, tapi Syasya selalu mengatakan ‘sayang kalau dipotong’, yang pada akhirnya Aruna tak pernah memotong rambutnya.


Tapi dia tak terlalu keberatak karena memang juga tak terlalu mengganggu. “Nah selesai.” Aruna berbalik menatap Maminya. “Makasih, Mi. Kakak tunggu di bawah ya,” pamitnya yang kemudian dianggukki oleh Syasya.


Sementara itu Syasya masih di kamar Si Kembar untuk menunggu Arjuna yang masih mandi. Walaupun dia pria, tapi mandinya sangat lama.


Tak lama, Arjuna keluar dari kamar mandi dengan badan yang terlilit handuk. “Mau pakai baju yang mana Bang?” tanya Syasya.


Walaupun Arjuna tak sepemilih Aruna, tetap saja dia harus bertanya pada putranya apa yang dia inginkan.


“Yang mana aja Mi asal hangat,” ucapnya. Akhirnya Syasya memilih sendiri baju yang akan dikenakan putranya itu.


Dia memilih sebuah kaos pendek berwarna putih dan sebuah sweater hitam. Tak lupa jeans dengan warna senada.


“Gak apa-apa kalau Mami tunggu di bawah?” tanyanyaa lagi.


“Gak apa-apa. Abang gak lama lagi kok,” jawab anak itu. Syasya mengangguk setelah menadapatkan persetujuan dari putranya itu.


Syasya akhirnya menunggu di lantai bawah dengan yang lainnya yang juga sudah siap untuk berangkat.


Bian terlihat semakin dewasa dengan sweater hitamnya. “Tunggu sebentar ya. Bang Juna lagi pakai baju,” ujar Syasya yang diangguki oleh semuanya.


Syasya mengambil tasnya yang masih ada di dalam kamar. Dia kemudian kembali ke luar dan rupanya di sana Arjuna juga sudah siap berangkat.


“Ayo kita berangkat!” seru Vano. Mereka beriringan keluar rumah dan satu persatu memasuki mobil.


Mobil mereka terlihat lebih penuh dari biasanya karena di jok belakang bertambah Bian.


Ya, Syasya mendampingi Vano di depan dan di jok belakang ada ketika bersaudara yang saling bersebelahan.


Si kembar memperebutkan siapa yang duduk di tengah karena keduanya sama-sama ingin duduk dekat dengan Bian.


“Udah, Bang Bian aja yang duduk di tengah kalau gitu. Jadi kalian berdua sama-sama dekat dia,” saran Vano. 


Akhirnya mereka mengikuti saran itu daripada mereka tak berangkat-berangkat.


Suasana malam ibukota terlihat sangat ramai, padahal ini bukan malam minggu. “Mau main ke mana Yah?” tanya Aruna.


“Kita makan dulu aja ya. Abis itu baru jalan-jalan,” saran Ayahnya. Mereka semua mengangguk.


Hingga Vano menghentikan mobilnya di salah satu restoran yang sepertinya sangat mewah. Pertama kali bagi seorang Bian datang ke tempat seperti ini.


“Ayo masuk.” Mereka memesan makanan dan makan dengan tenang. “Yah, mau es krim,” pinta Arjuna.


Putranya itu memang agak lain. Di cuaca yang dingin seperti ini ketika kebanyakan orang menginginkan makanan hangat dan berkuah, maka putranya itu malah menginginkan es krim yang kalian tahu sendiri sedingin apa makanan itu.


“Iya pesan aja. Tapi jangan banyak-banyak. Cuaca lagi dingin.” Vano memang jarang melarang keinginan putranya jika itu masih dalam batas wajar.


Kecuali jika itu tidak masuk akal maka Vano akan melarangnya dilengkapi dengan alasannya yang masuk akal.


Syasya yang peka akhrinya memesankan es krim untuk putranya. Setelah makan, mereka membayar makanannya dan pergi dari sana.


“Kalian mau ke mana?” tanya Vano. Dia mengajak jalan-jalan sebenarnya juga tak memiliki tujuan.


Dia hanya ingin mengantar anak-anaknya bermain dan mengunjungi sebuah tempat yang memang ingin dikunjungi anaknya.


“Bingung,” jawab Aruna. Tentu saja, malam-malam begini jarang tempat main yang masih buka.


Yang lainnya juga tak menjawab karena mereka semua setuju dengan apa yang dikatakan Aruna.


“Eh lihat. Ada pasar malam,” ucap Bian saat matanya melihat ada bianglala dan juga lampu kerlap-kerlip dari arah kanannya.


“Wah iya!!” Kedua adiknya bersorak setelah melihat apa yang ditunjuk oleh Abangnya.


“Ayah mau ke sana!” seru Arjuna. Dia sepertinya sangat semangat. Akhirnya Vano memutar balikkan mobilnya untuk menuju pasar malam yang dikatakan oleh Bian.


Ramai, sangat ramai di sana. Tapi hal itu sama sekali tak membuat niat mereka batal. Arjuna sangat ingin ke sana begitu juga Aruna yang terlihat bahagia.