Complicated Love

Complicated Love
S2 - Aku Gak Suka Aroma Kamu



“Yang, minggu depan itu ulang tahun Si Kembar kan?” Vano bertanya pada Syasya karena dia lupa-lupa ingat dengan tanggal ulang tahun anaknya.


Syasya menyalakan ponselnya untuk melihat tanggal, dia juga tak mengingat sekarang tanggal berapa.


“La iya. Kenapa aku lupa.” Syasya menepuk jidatnya pelan. Malam ini sudah larut hingga tak memungkinkan bagi mereka untuk mengurus semuanya.


“Ya udah besok aja lah. Lagian masih seminggu lagi,” ucap Vano menenangakan. Mereka memang selalu mempersiapkan hari ulang tahun dari jauh-jauh hari karena memang begitu banyak persiapan yang harus mereka lakukan.


Mulai dari sewa gedung, desain kue ulang tahun, gaun dan pakaian yang harus mereka gunakan dan peralatan lainnya.


“Besok kita cari baju dulu deh, terutama buat Si Kembar,” saran Syasya.


“Tapi Yang, bukannya aku gak mau bantu kamu. Tapi kamu tau kan gimana sibuknya aku belakangan ini. Kalau kamu urus semua sama Bian gak apa-apa? Aku yang tanggung semuanya deh,” pinta Vano.


Dia tak bohong ketika mengatakan dia sibuk di kantor. Pekerjaannya saat ini memang sangat banyak hingga dia tak bisa membagi fokusnya.


“Ya udah gak apa-apa. Kamu fokus aja kerja. Tapi ingat, jangan sampai maksain. Kalau udah cape ya berhenti dulu.” Syasya mengingatkan suaminya.


Sebenarnya Syasya yakin jika suaminya itu ingat dan tahu apa yang selalu dia katakana, tapi dia lebih mengabaikannya hanya agar pekerjaannya cepat selesai.


“Iya Sayang, kamu udah bilang gini ribuan kali.”


“Aku gak akan bosen ingetin kamu ya. Soalnya aku tau kamu gimana. Sekali aja aku lupa ingetin kamu, kamu pasti bakal tabrak semua waktu dan fokus di depan dokumen sama laptop.”


Vano terkekeh mendengar penuturan istrinya. Rupanya lama hidup Bersama membuat Syasya semakin mengenal Vano luar dan dalam.


“Iya aku kali ini gak bakal maksain. Janji.” Vano mengangkat kelingkingnya untuk melakukan janji.


Namun Syasya menghempaskan tangan Vano. “Inget umur, kamu itu udah tua,” ucap Syasya setelahnya.


Dia memilih membaringkan badannya di ranjang dan menarik selimutnya hingga batas dada kemudian memejamkan matanya.


“Ih kok gitu sih? Dulu perasaan kamu deh yang suka lakuin ini ke aku. Kan kamu juga yang ngajarin,” ucap Vano mengganggu Syasya yang sudah memejamkan matanya.


Pria itu mencubit pipi istrinya. “Aw kamu ini kenapa? Aku mau tidur, diem deh,” protes Syasya.


Bukannya berhenti, Vano malah mengulang aksinya. Menurutnya Syasya yang sedang marah terlihat sangat lucu sekali.


“Van!!” teriak Syasya sambil menyingkirkan Vano dari atasnya.


“Gak mau, janji dulu.” Pria itu memaksa dan memperlihatkan jari kelingkingnya pada Syasya.


“Mau janji atau aku cium?” Vano memberikan pilihan. Syasya tak menjawab, rasanya ciuman Vano akan terasa lebih enak daripada dia harus menautkan jari kelingkingnya dengan suaminya itu.


Vano mendekatkan wajahnya ke wajah Syasya. Jarak mereka semakin terkikis sebelum kemudian Syasya mendorong dada Vano sedikit keras hingga suaminya itu menyingkir dari atasnya.


Gadis itu berlari menuju kamar mandi. “Oeekk oeekk.” Perutnya terasa sangat mual dan dia muntah.


Sebenarnya tak ada yang keluar dari mulutnya. Hanya air bening saja. Namun perutnya terasa tak enak.


“Yang kamu kenapa?” Vano menyusul istrinya karena dia sangat khawatir. Syasya menggelengkan kepalanya seraya mengangkat tangannya kea rah Vano sebagai kode jika pria itu tak boleh mendekat.


“Kenapa?” tanya Vano lagi karena dia tak mengerti dengan keadaan sekarang.


“Jangan deket-deket sama aku. Aku gak suka aroma kamu,” ucap Syasya. Vano mengernyit heran.


“Kok gak suka sih? Dulu kan kamu yang selalu mau nempel sama aku,” protes Vano keberatan.


“Pokonya aku gak suka!! Kamu mala mini tidur di luar ya, atau sama Bian. Aku gak mau deket-deket sama kamu!” Lagi-lagi Syasya berkata seperti itu.


“Sekarang kamu keluar,” perintah Syasya. Dia juga mendorong suaminya itu agar segera keluar dari kamar mereka.


“Kamu ini kenapa sih? Gak ada hujan gak ada angin tiba-tiba gini?” tanya Vano masih heran.


“Aku juga gak tau, sekarang kamu keluar dulu.” Syasya menutup pintu kamarnya setelah dia berhasil mengeluarkan Vano.


Rupanya benar, rasa mualnya itu memang berasal dari aroma Vano yang sangat tak enak menurut Syasya.


Lain halnya dengan Syasya yang tertidur nyenyak, Vano berjalan gontai ke arah kamar Bian.


Tok tok


“Bang, udah tidur?” tanya Vano dari luar. Vano menunggu agak lama karena tak ada jawaban dari dalam.


Ceklek


Pintu terbuka yang membuat Vano tersenyum senang. "Aahh Abang, untung belum tidur," ucap Vano sambil memeluk anaknya.


"Kenapa Yah? Ada apa?" tanya anak itu heran. Tak biasanya Ayahnya itu menemuinya selarut ini.


"Ayah boleh tidur sama kamu malam ini?" tanya Vano.


"Kenapa?" Bukannya tak boleh, tapi Bian hanya ingin tahu alasan kenapa Ayahnya mau tidur bersamanya.


"Mami kamu gak mau tidur sama Ayah malam ini. Katanya dia gak suka aroma Ayah," lirih Vano.


Bian terkekeh mendengar jawaban dari Ayahnya. Dia kira ada hal genting apa hingga membuat Ayahnya terusir dari kamarnya sendiri.


"Ya udah ayo masuk." Kekehan Bian masih belum berhenti. Entahlah sangat lucu keluarganya ini.


Akhirnya Vano masuk ke kamar Bian. "Yah, menurut Ayah kenapa Mami gak suka aroma Ayah?" goda Bian.


"Udah ah Bang. Kamu mah sengaja kan bahas itu. Ayah gak mau ah." Ayahnya itu merajuk seperti anak kecil.


"Gak gitu Yah. Emang Ayah gak penasaran kenapa Mami kaya gitu?" Setelah mendengar ucapan Bian barusan Vano menjadi berfikir. Benar juga, kenapa Syasya menjadi seperti itu?


"Gak tau juga Bang. Awalnya sih biasa aja, eh tau-tau dia malah dorong Ayah dan bilang aroma Ayah gak enak."


"Ahahahahha ada-ada aja." Bian kembali tertawa. 


"Udahlah jangan bahas itu lagi. Biar besok aja Ayah tanya sama Mami."


Bian mengangguk. Mereka berbaring dan akhirnya tidur.


**** 


Syasya terbangun dari tidurnya. Dia merasa ada yang kurang. Vano, suaminya tak ada di sampingnya. 


Dia baru ingat jika semalam dia juga yang mengusir suaminya. Karena merasa tak nyaman, Syasya bangkit dari posisinya untuk mencari suaminya.


Dia berjalan ke arah ruang tamu yang ada di bawah. Setelah tiba di sana dia tak melihat ada suaminya. Itu berarti suaminya tak tidur di sana.


"Ke mana dia pergi?" tanyanya. Syasya kembali ke atas dan masuk ke kamar Bian.


Ya, dia menemukan suaminya di sana. Dia tengah tertidur dengan lelap begitu pula dengan Bian yang ada di sampingnya. 


Ada rasa sesal ketika dia melihat suaminya itu. 


"Yang, bangun," bisik Syasya. Dia berusaha memanggil suaminya sepelan mungkin agar tak membangunkan Bian.


Vano mengerjapkan matanya ketika dia mendengar ada yang memanggilnya.


"Hhmm," gumamnya. Dia sepenuhnya terbangun ketika melihat Syasya.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Vano pada istrinya.


"Cari kamu, ayo balik ke kamar," ajak Syasya. Vano mengernyit heran.


Malam tadi saat hendak tidur, istrinya itu mengusirnya. Tapi sekarang bahkan pagi belum menyingsing istrinya itu mencari dan menjemputnya.