Complicated Love

Complicated Love
S2 - Menggoda Bian



Benar sekali, seperti yang kalian tebak, Vano memang sudah berada di sekolah Bian sejak beberapa jam lalu.


Setelah dia menerima pesan dari anaknya, dia segera pergi ke sekokalah karena itu adalah kesempatan yang bagus baginya.


"Permisi."


"Oh iya silakan masuk."


"Permisi, Pak. Saya orang tua Bian."


"Oh iya silakan duduk." 


Kepala sekolah mempersilakan untuk duduk. Kebetulan sekali di sana sedang ada beberapa guru yang berbicara dengan kepala sekolah termasuk guru keamanan.


"Bian yang murid baru itu ya?" Guru keamanan tiba-tiba mengambil alih pembicaraan mereka. Vano mengangguk mengiyakan pertanyaan guru keamanan itu.


"Bagaimana, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya kepada sekolah sesaat setelah Vano duduk.


"Begini Pak. Sebagai seorang orang tua wajarlah ya kalau kita punya rasa khawatir sama anak kita sendiri. Jadi belakangan ini saya ngerasa kalau anak saya itu agak beda. Apa di sekolah dia ngalamin sesuatu?" tanya Vano pada kepala sekolah.


"Baik Pak untuk keamanan siswa di sekolah saya sangat menjaminnya sekali karena setiap siswa yang ada di sekolah ini sudah menjadi tanggung jawab kami semua sebagai guru. Terkait keamanan sendiri, mungkin Pak Ridwan bisa langsung menjelaskannya." Kepala sekolah meminta guru keamanan untuk menjelaskan terkait keamanan sekolah.


"Pertama-tama perkenalkan Pak, saya guru keamanan di sini. Nama saya Ridwan. Belakangan ini emang lagi marak ya kasus pembully-an yang terjadi di sekolah. Tapi sejauh yang saya telusuri, di sekolah kita itu sangat minim karena kita juga sangat memprioritaskan keamanan setiap siswa. Bian sendiri, tadi siang sih saya juga merasa ada yang janggal. Ada seorang siswi yang melapor kepada saya kalau Bian menjadi korban pembully-an. Tapi ketika saya menanyakan hal tersebut kepada Bian dan kepada tiga orang lainnya yang saat itu sedang berada bersama Bian, katanya mereka hanya sedang latihan drama untuk pensi minggu depan. Saya juga nggak bisa memaksa murid-murid saya untuk mengatakan apa yang sebenarnya.  Tapi untuk lebih lanjutnya Bapak boleh menanyakan hal tersebut kepada putra bapak langsung." 


Guru keamaann menjelaskan secara panjang lebar apa yang dia lihat dan dia alami selama ini.


"Tapi bapak bisa menjaminkan jika yang Bapak katakan itu benar? Soalnya belakangan ini dia benar-benar sangat aneh."


"Untuk kesaksian yang disampaikan oleh Bian sendiri saya bisa menjaminnya, tapi saya tidak tahu apa yang sebenarnya Bian sembunyikan dari saya."


Vano mengangguk, itu artinya dia yang harus menanyakan secara rinci kepada Bian apa yang telah terjadi.


Walaupun Vano pernah menanyakan hal ini kepada putranya dan putranya mengatakan tidak ada sesuatu yang terjadi, tetap saja dia merasa khawatir.


Apalagi suasana sekolah sangat baru untuk Bian. 


"Baiklah Pak, terima kasih atas informasinya. Kalau begitu saya pamit."


"Baik Pak silakan." Setelah berpamitan dengan guru-guru di sekolah Bian, Vano segera kembali ke mobilnya dia takut jika Bian sudah selesai dengan urusannya dan menunggunya di luar.


"Loh Ayah udah lama ada di sini?" tanya Bian saat dia melihat ayahnya baru saja keluar dari sekolahnya.


"Abang kamu juga udah kelar? Ayah kira bakal lama."


Bian mengangguk. "Iya Yah, udah selesai kok. Ayah habis ngapain dari dalam?" tanya Bian penasaran karena ayahnya keluar dari sekolahnya. "Engga. Ayah tadi cuma lihat-lihat suasana sekolah aja. Soalnya bosan juga kalau Ayah nunggu kamu di mobil jadi ayah jalan-jalan," dusta Vano. 


Bian mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan ayahnya. Dia sama sekali tidak curiga dengan alasan yang diucapkan ayahnya itu.


"Jadi tadi kamu pergi sama dia?" Vano menunjuk seorang gadis yang saat ini masih berada di samping Bian.


"Hhmm, kenalin Yah. Dia Kiana teman Bian." Bian memperkenalkan Kiana sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. Itu semua dia lakukan untuk menutupi rasa malunya.


"Ayah udah ah. Mending sekarang anterin Kiana pulang habis itu kita pulang ke rumah. Mami udah nunggu, kan?" sebisa mungkin Bian mengalihkan pembicaraan mereka.


"Mami sih emang udah nunggu, tapi kalau kamu masih mau main sama pacar kamu ya nggak apa-apa kok. Nanti biar Ayah jemput lagi."


Vano terus saja menggoda putranya. "Ayah udah ah!" sentaknya. Vano terkekeh melihat putranya yang salah tingkah.


"Jadi nama kamu Kiana?" Kali ini Vano lebih fokus pada gadis di samping Bian.


Kiana mengangguk sambil mengulurkan tangannya. "Iya, Om. Saya Kiana, temannya Bian."


Vano mengangguk-anggukkan kepalanya dengan wajah yang mengejek gadis itu seperti dia sedang mengejek kalimat 'teman' yang diucapkan Kiana.


"Oke. Jadi di mana rumah kamu?" tanya Vano. Kiana menyebutkan alamat rumahnya. Lalu setelah itu mereka masuk ke dalam mobil.


Vano melajukan mobilnya menuju alamat yang diucapkan oleh Kiana.


"Makasih loh Om udah repot-repot mau nganterin Kiana, padahal Kiana juga bisa pulang sendiri," ucap gadis itu untuk mengisi kekosongan.


"Nggak apa-apa lagian kan tadi kamu main sama anak Om. Jadi Om juga harus ikut tanggung jawab buat anterin kamu pulang."


Suasana di dalam mobil kembali hening setelah percakapan mereka yang satu itu.


Mobil terus melaju di keheningan sore hari ini. Mungkin karena ini sudah lewat dari jam pulang kerja jadi jalanan cukup kosong.


Mereka tiba di rumah Kiana. Rumah mewah bernuansa putih yang sangat memanjakan mata. "Kiana pulang dulu Om, Bi. Sekali lagi makasih ya buat tumpangannya," ucap gadis itu setelah dia turun dari mobil Vano.


Bian mengangguk, setelah itu dia melambaikan tangannya. "Sampai ketemu besok di sekolah," ucap Bian.


Setelah benar-benar mengucapkan salam perpisahan, Vano kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah mereka.


"Abang jadi kapan kamu bawa dia ke rumah?" Rupanya Vano masih belum selesai menggoda putranya.


"Ayah apa sih. Jangan godain Abang terus dong, jadi malu kan," ucap Bian. Dia benar-benar mau saat ini karena sebelumnya dia tidak pernah memiliki hubungan asmara dengan wanita manapun.


"Anak Ayah udah gede ya sekarang." Vano mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Bian dengan lembut.


Tak perlu waktu lama hingga mereka tiba di rumah mereka. "Abang pulang!" seru Bian ketika dia memasuki rumahnya.


Di sana, tepatnya di ruang keluarga sudah ada Syasya dan si kembar yang sedang menonton siaran televisi.


"Tumben sore, Bang?" tanya Syasya. Sementara itu si kembar sudah berlari dan berhambur ke pelukan Bian.


"Iya, Mi. Tadi ada janji bentar sama teman." Bian menjawab dengan tenang sambil memeluk kedua adiknya yang sudah ada di hadapannya.


"Iya Mi. Temannya cantik loh," seru Vano dari belakang Bian.


Bian menatap nyalang pada ayahnya yang entah kapan akan berhenti menggodanya.