Complicated Love

Complicated Love
Chapter 28



"iya sayang ini mami, kamu ingat sesuatu?" tanya mami Syasya antusias berharap putrinya mengingat sesuatu.


Syasya tak menjawab pandangannya beralih ke arah sang papi. Papi Syasya hanya tersenyum dan mengusap pucuk kepala Syasya.


"ini papi, Sya. Papi harap kamu cepat sembuh"


Lagi-lagi tak ada jawaban dari Syasya.


***


Hari ini adalah hari keluarnya Syasya dari rumah sakit. Bukan, Syasya belum sembuh. Hanya saja orang tuanya memilih membawa Syasya ke apartmen baru mereka, mereka memilikinya baru-baru ini mengingat pengobatan Syasya membutuhkan waktu yang tak sebentar.


Syasya akan melakukan terapi psikologi di tempat tinggal mereka.


Syasya tengah memandang langit malam yang sangat indah. Langit yang sama dengan yang dipandang Vano saat ini.


"Sya, kamu lagi apa?" mami Syasya masuk ke kamarnya setelah mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari sang tuan.


Syasya menoleh dan tersenyum.


"ma..mami?" tanya Syasya tergagap. Bagaimanapun dia harus memulainya dari awal karena ia tak mengingat siapapun kecuali Vano.


"iya sayang ini mami. Kamu lagi apa hmm?" mami Syasya mengusap kepala Syasya sayang.


"diam. Syasya lagi diam mami" jawab Syasya seadanya.


Setelah menjalani serangkaian terapi, kondisi psikologis Syasya mulai membaik. Hanya saja dia belum mengingat orang-orang yang ada di sekitarnya dulu.


"besok kamu ada jadwal terapi. Mau ke rumah sakit atau mami panggil dokternya ke sini?" tanya mami. Maminya itu tak mau menekan Syasya, biarkan gadis itu memilih cara untuk sembuhnya sendiri.


"rumah. Syasya gak mau ketemu orang" jawab Syasya.


"oke nanti mami telpon dokternya ya" beruntung sekali mereka mendapatkan seorang dokter tampan yang dengan senang hati membantu penyembuhan Syasya. Sepertinya usianya tak terpaut jauh dari Syasya dan dia juga Berkebangsaan sama dengan Syasya hanya saja dia memilih bekerja di luar negeri.


"Syasya mau pulang gak? Ke rumah?" salah satu terapi untuk Syasya adalah dengan banyak bicara, membahas apapun dengan Syasya agar pikiran Syasya tak melayang ke mana -mana.


"pulang? ini rumah Syasya" Syasya bingung dengan apa yang dikatakan maminya.


"ini bukan rumah kita sayang, rumah kita ada di sana. Rumah sebenarnya" pandangan mami Syasya menerawang jauh seakan ia merindukan sesuatu.


"mau. Syasya mau pulang"


"kalau kamu mau pulang, kamu harus sembuh okey?" ucap maminya.


Syasya menganggukkan kepalanya antusias dengan persetujuan yang ditawarkan maminya.


"ya sudah sekarang kamu bobo, ya"


"iya mami"


Syasya dan maminya masuk ke dalam kamar setelah lumayan lama berdiam diri di balkon kamar Syasya.


***


Sementara di sana Tristan dan teman-teman Syasya sedang sibuk mencari Brian dan Bianca. Walaupun mereka telah melaporkannya pada polisi, namun mereka ingin tahu mengapa kedua orang itu melakukan hal keji seperti itu pada Syasya.


"ada tempat yang lo curigain bakal mereka datangin gak?" Tristan mencoba mencari pencerahan dengan menanyakan pendapat Vano, Lita dan Dina.


Vano, Lita dan Dina langsung saling pandang menandakan bahwa pikiran mereka sama.


"club" ucap mereka bertiga. Itulah tempat yang terlintas di pikiran mereka. Vano sering melihat Bianca berada di sana dengan baju kurang bahan dan make up tebalnya.


Apa yang mereka pikirkan ternyata memang benar, Bianca dan Brian ada di sana tengah meneguk minuman haram itu sambil tertawa ria. Mungkin mereka senang karena misinya untuk mencelakai Syasya berhasil.


Terlihat Bianca pergi menjauh dari sana sehingga hanya menyisakan Brian di sana.


"lo Brian?" tanya Tristan dengan aura dinginnya.


Tristan menghampiri Brian seorang diri agar pria itu tidak curiga. Sementara teman-teman Syasya yang lain menunggu lumayan jauh dari tempat Tristan saat ini.


Bukannya Tristan tidak emosi. Namun dia memang bukan tipe pria yang menyelesaikan masalah dengan cara menghabisi nyawa seseorang dan berakhir di penjara pula.


Tristan lebih senang menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Walaupun begitu sebagai seorang kakak yang adiknya diperlakukan tidak adil tentu saja ingin marah.


"iya. Kenapa?" tanya Brian.


"kenalin gue abangnya Syasya" Brian melotot ketika mendengar penuturan Tristan. Namun dia berusaha menahan raut wajahnya agar tetap tenang.


"ada apa?" tanya Brian berusaha menetralkan nada bicaranya.


"gue cuma mau tanya. Lo temannya Syasya kan? Lo tahu gak soal kecelakaan Syasya?"


Brian meneguk kembali minumannya.


"gue gak tau, lagian gue juga gak terlalu dekat sama dia" ucapnya acuh.


"tapi dari info yang gue dapat lo sempat ngasih bunga ke Syasya pas wisuda, bukannya itu sesuatu yang special yah" Tristan mencoba memancing Brian untuk berbicara padanya.


"gue kebetulan ada di sana aja" singkat Brian. Dia sudah bingung mau menjawab apa.


"terus kalau gue kasih tunjuk sesuatu lo masih gak mau ngaku?" Brian mulai gelisah. Ia mengubah posisi duduknya dengan bola mata yang ke sana kemari. Terlihat sekali ada kegelisahan di sana.


Tristan menyumpalkan earphone pada telinga Brian dan memulai rekaman percakapan antara Brian dan Bianca.


Mata Brian terbelalak. Bagaimana bisa Tristan memiliki rekaman yang berisi percakapannya, pikirnya. Sementara dia yakin saat sedang membicarakan itu tak ada satu orangpun yang mereka lihat.


"gu...gue bisa jelasin" Brian melepaskan earphone itu sebelum kemudian berlari menuju pintu keluar.


Niat kaburnya terhalangi karena Vano lebih dulu memukul perutnya sehingga membuat Brian tersungkur dan meringis karena sakit di perutnya.


"apa-apaan sih lo!" ucap Brian kesal. Pria itu berusaha bangun namun Tristan dengan cepat merangkul Brian dan berbisik.


"lo mau ngomong baik-baik sama gue atau polisi bakal datang sekarang?" tanya Tristan. Tubuh Brian kaku dan dengan terpaksa ia mengiyakan keinginan Tristan untuk berbicara.


Tristan dan teman-teman Syasya membawa Brian ke salah satu tempat duduk yang terlihat sepi.


"jadi, apa alasan lo?" tanya Tristan. Sementara yang lainnya hanya menyimak saja.


"gue benci Syasya" Tristan menaikan sebelah alisnya karena ia masih belum menangkap maksud Brian.


"adek lu sama lebih jahat dari orang-orang yang dulu bully gue pas SMP. Lo tahu, dia cuma bisa liatin gue disiksa di kelas tanpa mau bantu gue sedikitpun!" lanjutnya. Akhirnya dia meluapkan segala kekesalannya.


"dan sekarang gue puas karena dia hilang dari muka bumi ini"


Sebuah tinju melayang di pipi putih Brian. Bukan, itu bukan Tristan melainkan Vano. Kini dadanya naik turun karena emosi. Lita dan Dina mencoba menahan Vano agar tidak meneruskan tindakannya.


"udah Van! Lo gila?" tanya Lita. Akhirnya dengan segala kekuatan yang Lita dan Dina miliki, Vano berhasil ditenangkan.


Namun dari sana terlihat sosok wanita yang bejalan lenggak-lenggok ke arah mereka.


"loh Tristan? Vano?"