Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 99 - Sebuah Surat



Pagi keempat setelah menjadi orang tua untuk ketiga bayi kembarnya. Akhirnya Azzam dan Bella bisa membawa bayi-bayi mungil itu untuk keluar rumah dan berjemur bersama.


Menikmati mentari pagi yang cerah, sinar yang menghangatkan sekaligus mengandung banyak vitamin untuk kesehatan tubuh Adena, Adelia dan Abraham.


Mereka semua berjemur di taman belakang, Azzam sebagai seorang ayah menggendong dua bayi perempuannya sekaligus. Ah, dia sudah seperti hot Daddy sekarang. Sementara Bella menggendong Abraham, si tampan.


Bella tampak selalu mengulum senyum menyaksikan makhluk mungil yang ada dalam dekapannya, dia menciumi pipi Abraham gemas hingga bayi itu menggeliat karena merasakan sebuah sentuhan.


"Jangan baby-nya terus dong yang dicium, Daddy-nya juga mau," sindir Azzam begitu manja pada Bella. Dia menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan istrinya itu.


Mendengar itu, Bella terkekeh lalu mencubit pelan lengan Azzam, hingga lelaki itu mengaduh, pura-pura kesakitan. "Aduh sakit, Mommy. Mintanya kan dicium kok malah dicubit." Gerutu Azzam pura-pura kesal pada Bella.


"Malu, Bang. Ingat ini itu bukan di rumah kita. Bahkan para ibu-ibu ada di belakang sana," ujar Bella, menunjuk para ibu-ibu yang sedang sibuk di dapur dengan ekor matanya.


Karena memang taman belakang tersebut dekat dengan dapur, dan para ibu-ibu itu tengah menyiapkan sarapan sambil sesekali tertawa renyah, entah membicarakan apa.


Namun, Azzam tak peduli. Dia sudah seperti tak tahu malu dan tetap ingin Bella menciumnya. Hingga akhirnya ibu muda itu pasrah, dia menurut dan mulai mengikis jarak untuk mencium pipi Azzam sekilas.


Namun, Azzam tak tinggal diam, dia dengan sengaja menoleh dan bibir Bella langsung didapatnya. Bella ingin mundur tetapi Azzam yang cekatan justru menggigit bibirnya, hingga dia terus tertarik dan masuk dalam permainan lelaki itu.


Setelah puas Azzam baru melepaskan pertautannya dengan Bella. Dia terkekeh sambil menjilati sisa salivanya. Sementara Bella langsung mendengus. "Dasar Abang mesum."


"Harusnya kamu bersyukur dong, Sayang."


"Bersyukur apanya?" Gerutu Bella dengan kening yang mengernyit, tidak mengerti dengan ucapan Azzam.


"Karena aku mesum kita jadi langsung dapet tiga," balas Azzam bangga.


Dan jawaban itu membuat Bella semakin mencebikkan bibirnya, lain dengan Azzam yang justru terkekeh semakin keras. Wajah kesal Bella seolah menjadi hiburan tersendiri untuknya.


Sama halnya di taman belakang. Di dapur pun tak kalah heboh. Azzam dan Bella bisa mendengar para ibu-ibu itu berceloteh dan tertawa-tawa, sepertinya sangat seru sekali pembicaraan mereka.


Namun, karena mendengar itu semua. Azzam dan Bella begitu bersyukur pada Allah, karena mereka semua dilimpahi kebahagiaan yang begitu banyak.


Keluarga kecilnya utuh tanpa kekurangan apapun. Pun dengan keluarga besarnya yang hidup rukun dan damai. Semuanya tampak seperti mimpi, segala kesakitan sudah berlalu dan berganti limpahan anugerah yang membuncah.


"Terimakasih, Arra," ucap Azzam dengan mengulum senyum. Sebanyak apapun kosa kata di dunia ini, hanya itu yang selalu dia ingin ucapkan untuk Bella istrinya.


Bella mengangguk sambil mengulum senyum pula. Dia pun tak pernah menyangka akan ada akhir yang seperti ini untuk kisah hidupnya.


Dan senyuman itu terputus begitu Mama Sarah menghampiri keduanya. "Bel, ini ada surat buat kamu. Tadi pegawai kantor pos nitipin surat ini ke pak satpam rumah." Terangnya.


Bella dan Azzam kompak mengernyit, bukan penasaran pada isinya, melainkan pada si pengirim surat tersebut.


Siapa?


"Dari siapa, Ma?" tanya Bella.


"Mama tidak tahu, tidak ada nama tercantum di amplopnya, hanya ada nama mu dan alamat rumah ini, " Jawab Mama Sarah apa adanya. Dia menyerahkan surat tersebut pada Bella. Lalu melenggang masuk kembali ke dalam rumah dengan membawa satu bayi yang gendong Azzam.


Awalnya Bella yang ingin membuka sendiri surat tersebut. Tetapi karena dia merasa was-was, akhirnya Azzam yang meminta surat itu dari tangan Bella, dan membukanya pelan-pelan.


Azzam yang melihat nama itu seketika nafasnya tercekat, ketakutan tiba-tiba mendatangi dirinya secara mendadak. dia takut kedatangan surat ini akan kembali menghancurkan rumah tangganya dan Bella.


Merusak keharmonisan seluruh keluarga Malik yang sudah mulai tercipta kembali.


"Siapa Bang?" tanya Bella, dia semakin penasaran, semakin ingin tahu surat itu dari siapa. Apalagi saat melihat raut wajah sang suami yang langsung berubah pias ketika surat itu sudah terbuka.


Azzam tidak langsung menjawab lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan satu nama itu, tatapannya pun nanar menghadap pada sang istri.


"Ini ... ini surat dari Raya."


Deg! jantung Bella seperti tersengat, ketika mendengar nama itu diucapkan oleh suaminya.


Memang sudah tak ada lagi luka namun tetap saja hatinya terasa sedikit nyeri.


"Raya?"


Azzam menganggukkan kepalanya lemah.


Dengan cepat Azam kembali menutup surat itu, dia sungguh tidak ingin tahu apa yang di tuliskan Raya dalam surat ini.


Meskipun pertemuannya dengan Raya yang terakhir kali mereka memang sudah saling memaafkan, karena saat itu Raya menjadi saksi di persidangan perceraian Azzam dan Bella. Tapi tetap saja kini Azzam tidak ingin kembali memiliki hubungan dengan wanita itu dalam bentuk apapun, termasuk surat ini.


"Kenapa ditutup lagi Bang? harusnya kita baca saja surat itu, mungkin ada sesuatu yang ingin Raya sampaikan kepada kita," ucap Bella dengan sebuah pertanyaan.


Melihat suaminya yang kembali menutup surat itu malah membuatnya merasa tak nyaman. merasa kembali ada yang ditutupi diantara mereka berdua.


Dan Bela tidak menginginkan itu.


"Untuk apa kita membaca surat ini? ini tidak penting, ini hanya akan merusak suasana bahagia saat ini," jawab Azam, coba memberikan pengertian berdasarkan sudut pandangnya sendiri.


"Mana kita tahu sebelum kita membaca surat itu Bang."


" Apa kamu masih mencurigaiku?" tanya Azzam balik dengan tatapannya yang semakin nanar.


Dan bila dengan lemah menggelengkan kepalanya.


"Bukan aku yang mencurigai abang. Tapi Abang sendiri yang takut ketika melihat masa lalu, Abang bahkan sampai sekarang masih takut jika kesalahan itu akan membuat Karma untuk adik-adik kita. Abang yang takut bukan aku."


Hening, Azam terdiam, karena ucapan Bella itu memang benar adanya. dialah yang belum bisa berdamai dengan masa lalunya sendiri.


Mereka berdua bahkan tanpa sadar, jika perdebatan di antara mereka juga didengar oleh 2 anak mereka. Abraham yang berada digendongan Bella dan Adelia yang berada di tangan kiri Azzam.


"Buka saja surat itu dan kita baca bersama sama."


Azzam masih terdiam.


"Percayalah padaku Bang, aku tidak akan terpengaruh dengan mudah dengan apapun isi surat itu."


Azzam tidak lagi bisa mengelak, dengan tangannya yang terasa berat, dia kembali membuka surat itu ...