Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 21 - Membuatnya Jadi Nyata



“Katakan, apa kalian sudah baikan?” tanya Azura antusias. Sebuah pertanyaan yang mewakili pikiran teman-temannya yang lain. Kini Azam dan Bella sudah ikut duduk bersama mereka, di kursi panjang  taman yang berada di belakang Villa. Semua tamu dan para orang tua sudah pulang selepas makan siang tadi, sementara Ryu dan


Haruka beserta teman yang lain masih berada di Villa ini. Menunggu Azam dan Bella datang.


Yang ditanya tidak langsung menjawab, malah saling pandang dan mengulum senyumnya.


“Menjijikkan,” kesal Arnold.


Jika sudah seperti ini tidak perlu ditanya pun mereka semua sudah tahu apa jawabannya, Ya Azam dan Bella sudah baikan. Tidak ada lagi drama rumah tangga diantara mereka, apalagi cerita tentang orang ketiga.


“Alhamdulilah,” ucap Azura, Ben dan Julian, sementara Ryu dan Haruka pun ikut tersenyum.


Ryu bahkan memeluk pinggang Haruka erat, pengantin baru ini pun ingin segera pergi dari sini.


“Malam ini kita akan menginap di Villa ini. Aku dan Haruka akan beristirahat dulu, kalian juga istirahatlah, sore nanti kita bertemu lagi,” putus Ryu, dan semua temannya langsung mencebik.


“Yakin kalian mau istirahat?” ledek Julian, membuat kedua pipi Haruka langsung merona, bahkan Haruka merasa kini wajahnya terasa panas.


“Cih! Sekarang kamu bisa meledekku, lihatlah nanti saat kamu menikah dengan Azura!” ancam Ryu.


Arnold dan Ben diam, jangan sampai orang menyadari jika disini hanya mereka berdua yang tidak memiliki pasangan.


Akhirnya mereka bersepakat, siang ini untuk istirahat lebih dulu, nanti jam 4 sore mereka akan kembali bertemu di ruang tengah. Berkeliling Kyoto dan mendatangi salah satu pasar malam.


Pengantin baru sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Ben juga bergegas duluan ke dalam kamarnya untuk memberikan koper Azam.


“Ikut denganku,” ucap Zura, seraya menarik tangan Bella untuk mengikuti langkahnya. Membuat gandengan tangannya dan Azam terlepas.


Azura lalu membawa Bella untuk masuk ke dalam kamarnya. Sementara Arnold dan Julian langsung menunjukkan kamar untuk Azam.


Villa ini terdiri dari 2 lantai dan memiliki banyak kamar, lebih mirip sebuah penginapan namun berbentuk rumah.


Azura dan Bella lalu duduk disisi ranjang, Zura langsung menatap lekat pada sang sahabat. Ingin bertanya banyak hal dan melihat apakah Bella akan menjawabnya dengan jujur.


“Benar, kamu dan Abang sudah baikkan? Bukan sandiwara?” tanya Azura.


Dan Bella langsung menggelengkan kepalanya.


“Bukan sandiwara, kami sungguh sudah baikan.”


“Benarkah? Bagaimana bisa? Bukannya kamu sangat membenci abang. Maksudku bagaimana bisa hanya dalam waktu semalam kamu bisa memaafkan abang,” tanya Zura lagi.


Bella tersenyum, untuk kali ini ia pun sedikit bingung bagaimana menjawabnya.


“Sebenarnya bukan hanya dalam waktu semalam, abang sudah lama menunjukkan kesungguhannya, dan aku juga tidak bisa bohong, kalau_”


“Kalau kamu juga sangat mencintai abang,” potong Azura, setelah mengatakan itu Azura lantas memeluk Bella erat, dan Bella pun membalas pelukan itu tak kalah eratnya.


“Aku bersyukur dan ikut bahagia kalian kembali bersama,” jelas Azura.


“Aku mohon jangan pisah lagi,’ timpalnya lagi membuat Bella terus tersenyum.


“Kamu mau bukti kalau dan abang benar-benar sudah baikan?” tanya Bella setelah melerai pelukan diantara keduanya.


Azura tan menjawab, hanya menatap dan menunggu bukti apa yang akan di tunjukkan oleh Bella.


Kedua netra Azura membola saat melihat bella melepas syal yang ia kenakan dan melihat banyak tanda kemerahan di sana.


“Hih! Mesum!1” pekik Azura kesal.


Ia lantas menarik Bella dan mendorong iparnya ini untuk keluar dari dalam kamarnya. Melihat tubuh Bella yang penuh dengan tanda itu, membuat pikiran Azura jadi kotor, pikirannya langsung membayangkan yang tidak-tidak.


Bella tergelak, bahkan tawanya belum surut juga saat Azura menutup pintu kamarnya dengan keras. Baru kali ini Bella merasa sangat bahagia saat sedang di usir.


“Arnold, Ben, jagalah Julian baik-baik, jangan sampai di kabur dan menyelundup masuk ke kamar Azura,” jawab Bella, tidak menjawabi Julian. Bella malah berbicara dengan Arnold dan Ben.


“Apa maksudmu?” Julian tidak terima, dan Bella malah terkekeh sendiri.


Membuat ketiga laki-laki ini menggelengkan kepalanya, tidak paham.


“Itu kamarmu, istirahatlah, ku rasa kamu sedikit pusing,” ucap Arnold dan Bella hanya menganggukkan kepalanya.


Lalu segera berlalu dari sana dan meninggalkan ketiga pria itu.


Bella tak ada.


Arnold dan Ben langsung memegangi lengan Julian kiri dan kanan.


“Jangan temui Azura saat disini, banyak setan!” seloroh Arnold.


Ben yang setuju pun langsung memulai langkahnya dan mereka menuju kamar mereka pula.


Mereka bertiga tidur di kamar yang sama.


Tanpa mengetuk pintu, Bella langsung masuk ke kamar yang di tunjuk oleh Arnold tadi. Langsung dilihat olehnya sang suami yang tengah membuka koper.


Bella lalu sedikit berlari dan menghampiri.


Tanpa segan ia pun langsung memeluk erat tubuh Azam yang sudah menyambutnya. Mencium dalam-dalam aroma tubuh suaminya yang membuat ia tenang.


“Apa yang di katakan Azura?” tanya Azam, ia semakin memeluk erat pinggang sang istri, seolah tak ingin ada jarak sedikitpun.


“Dia belum percaya jika kita sudah baikan.”


“Lalu apa yang kamu katakan agar dia percaya?”


“Tidak ada, aku hanya menunjukkan ini, tanda yang abang buat,” jawab Bella, ia melerai pelukannya dan benar-benar melepas syal yang ia gunakan.


Mendengar dan melihat itu, Azam menelan ludahnya dengan kasar.


Cukup malu saat sang adik mengetahui betapa nafsunya dia. Bukan hanya 1 atau 2 tanda yang tercetak di leher dan dada Bella, namun ada puluhan.


“Sekarang dia sudah percaya?” tanya Azam dan Bella mengangguk.


“Tapi aku masih belum percaya, rasanya ini pun seperti mimpi,” balas Azam. Membuat tatapan keduanya terasa semakin dalam.


Beberapa bulan ini, malam rasanya terasa begitu sepi dan dingin. Hati keduanya pun terasa kosong dan hampa.


Tidak hanya Azam, Bella pun merasakan hal yang sama. Hanya mampu memeluk dirinya sendiri untuk mendapatkan kekuatan.


Mereka hidup namun tidak menemukan tujuan.


“Aku juga merasa ini seperti mimpi,” balas Bella.


“Lalu bagaimana caranya agar ini terlihat nyata?” balas Azam pula.


Dan kali ini Bella tak menjawab apa-apa.


Hanya berjinjit dan mulai melabuhkan sebuah ciuman dalam di atas bibir sang suami. Azam menyambutnya, bahkan menahan tengkuk Bella agar bisa memperdalam ciuman itu. Sebuah ciuman yang akhirnya membuat keduanya jatuh di atas ranjang.


Saling menindih dan membuat ini benar-benar terasa nyata.


Di kamar yang pintunya lupa Bella kunci ini, keduanya kembali menyatu. Bahkan Bella tak segan mengeluarkan suaranya memanggil nama sang suami.


“Azamh...” lirih Bella.