Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 24 - Aoi Sora



Nyaris tengah malam, Azam dan semua teman-temannya baru kembali ke Villa. Bella dan Azura bahkan sudah tidur di mobil, Azam dan Julian sampai harus menggendongnya masuk.


“Arnold, Ben, antar Julian ke kamar Azura, setelah itu pastikan dia keluar. Aku tidak mau dia mengambil kesempatan dalam kesempitan” ucap Azam seraya menatap sinis sang sahabat yang kini sedang menggendong Azura, adik kembarnya.


Julian mendengus kesal, tidak bisa memberi kecupan selamat malam, pikirnya.


Sementara Ben dan Arnold langsung menunjukkan ibu jarinya, tanda OKE.


Azam terkekeh, kemudian memimpin langkah untuk naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam kamarnya.


Membaringkan sang istri di atas ranjang dan mengganti baju Bella dengan yang lebih nyaman.


Azam bahkan membasuh wajah istrinya itu, menghilangkan riasan tipis yang menempel di wajah cantik sang istri.


Jam 1 dini hari barulah Azam ikut berbaring dan tidur.


Malam ini sungguh melelahkan bagi semua orang. Namun membuat mereka sungguh merasa bahagia.


Banyak yang perbincangkan selama berada di dalam kincir angin raksasa beberapa jam lalu. Tentang janji untuk terus menjaga persahabatan ini, membuat rencana untuk mengunjungi rumah hutan milik ayah Adam di desa Parupay, dan masih banyak lainnya lagi. Tentang pernikahan Azura dan Julian, juga Arnold dan Ben.


Semua itu menjadi cerita pengantar tidur mereka malam ini.


Hingga pagi menjelang dan mereka semua bersiap untuk pulang. Ryu dan Haruka kembali ke Tokyo, sedangkan Azam dan yang lainnya kembali ke Indonesia.


Ryu dan Haruka juga mengantar semua teman-temannya sampai di Bandara Internasional Narita.


“Jadi kalian akan bulan madu di Afrika?” tanya Arnold pada pengantin baru. Ryu dan Haruka langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias.


Menghabiskan waktu bersama selama 1 bulan penuh di benua Afrika. Mendatangi gurun terbesar di dunia, Gurun Sahara dan juga sungai terpanjang di dunia yaitu sungai Nil.


Ryu dan Haruka memang lebih suka berpetualang ketimbang menikmati hidup mewahnya.


“Jangan membicarakan bulan madu, aku tidak punya muka di depan Bella,” ucap Azam, memelas. Sementara Bella hanya terkekeh mendengarnya.


“Ya, karena itulah sekarang kamu harus lebih berhati-hati, mulai sekarang hidupmu akan banyak tekanan, sedikit-sedikit takut salah,” ledek Arnold dan semuanya tergelak menertawakan. Sedangkan Azam pun menganggukkan kepalanya, setuju.


Sekarang rasanya jika dia ingin selangkah keluar dari rumah pun harus mendapatkan izin Bella.


Mereka tak bisa berbincang lama, karena penerbangan ke Indonesia sudah memasuki jam nya.


Menempuh penerbangan selama 7 jam 30 menit dari Narita akhirnya mereka semua sampai di bandara Internasional Soekarno-Hatta Indonesia.


Mereka semua berpisah di bandara sana.


Azam, Bella dan Azura langsung pulang ke mansion ayah Adam. Di sana pun sudah ada ayah Agra dan mama Sarah yang menunggu.


“Kalian gugup?” tanya Azura, ia duduk di dekat jendela kursi tengah, sementara Bella di tengah diapit oleh Azam dan Azura.


“Iya, rasanya seperti menghadiri sidang keluarga,” jawab Bella apa adanya.


Dan Azam hanya terkekeh, lalu mengelus pelan bahu sang istri mencoba memberi ketenangan.


25 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di mansion. Azam dan Bella turun dengan jantungnya yang berdegup lebih kencang.


Sementara Azura yang melihatnya hanya mengulum senyum. Berjalan beriringan dan mulai masuk ke dalam mansion.


Ibu Haura datang lebih dulu menyambut. Ia langsung memeluk Azam dan Bella secara bersamaan. Azura tahu hari ini ia akan jadi anak tiri, tidak dianggap.


“Anakku,” ucap Haura dengan suaranya yang lirih, kebahagiaan yang ia rasa sampai tak bisa diucapkan lagi dengan kata-kata. Bersatunya Azam dan Bella seolah menyatukan kembali keutuhan  keluarga Malik.


Para wanita tak kuasa menahan haru, mereka kompak meneteskan air mata dan memeluk Azam dan Bella erat.


Di ruang tengah keluarga Malik itu mereka duduk bersama dan mensyukuri ini semua. Tak ada lagi beban di hati semua orang, bahkan kini mereka bisa mengikhlaskan kepergian nenek Zahra tanpa ada rasa malu pada mendiang.


Azam juga berulang kali mengucapkan kata maaf, bahkan bersimpuh  pada kedua orang tua, mertua serta amang dan acilnya.


Bella pun melakukan hal yang sama, sadar selama ini iapun masih terlalu kekanak-kanakan untuk menghadapi ini semua.


Meninggalkan suasana haru di ruang tengah, Azura yang haus pun memutuskan untuk pergi ke dapur dan minum. Namun perhatiannya teralihkan saat ia mendengar banyak suara di taman belakang.


Setelah meneguk banyak air putih Azura menghampiri sumber suara.


Suara seorang bocah kecil yang sangat cantik dan menggemaskan, yang begitu di kenalnya, Aoi Sora anak abang Labih.


Dan benar saja, saat sampai di ambang pintu dapur ia melihat Sora sedang bermain dengan Agatha dan Alesha, ada pula Alghazali disana.


Azura tersenyum kecil, abang Labih pasti menitipkan Sora disini. Itu artinya malam ini abang Labih mengajak kuliah malam.


“Acil Yula!!” teriak Sora saat melihat keberadaan Azura di ambang pintu.


Gadis kecil ini lantas berlari menghampiri Azura dengan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar seolah ingin terbang.


Sementara Azura langsung merunduk dan menyambut. Setelahnya menggendong Sora dan menghampiri adik-adiknya.


“Wah, acil disambut sama Sora, senengnyaa,” ucap Azura, ia pun menciumi pipi gembul anak usia 3 tahun ini.


“Abang labih dimana?”


“Ada kuliah malam,” jawab Ali, “Mbak istirahatlah dulu, biar kami yang jaga Sora,” timpal Ali lagi. ia tahu sang kakak baru saja pulang dari Jepang.


“Tapi kan Soya maunya sama acil Yula.” Sora yang menjawab, membuat semua orang jadi gemas, apalagi masih belum bisa mengucapkan huruf R.


“Di depan ada abang Azam dan mbak Bella, kalian temui mereka dulu. Biar Sora sama mbak  yang jaga,” jawab Azura, dan adik-adiknya pun menganggukkan kepalanya patuh.


Agatha, Alesha dan Ali lantas pergi dari sana, meninggalkan Azura yang kini duduk di kursi taman dan memangku Sora.


“Kapan Sora datang kesini?”


“Tadi siang, ayah bulu-bulu antal Soya kesini,” jawab anak kecil ini, bicaranya ngebut sekali.


“Kenapa buru-buru?”


“Kalena ayah lupa, kalau siang sampai malam dia ada kelas.”


Mendengar itu Azura tersenyum kecil, lalu memeluk tubuh gembul ini dengan pelukan yang sangat erat. Bahkan berulang kali menciumi pucuk kepala Sora dengan sayang.


***


Author nanya.


Sebelum jalur kuning melengkung, kalian mau Azura


sama Julian atau Azura sama Labih?


Vote ya, banyak yang mana.. karena kemanapun


jalurnya Author punya jalannya 🤣🤣🤣