Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 37 - Tempat Tinggal Baru



Pagi ini akhirnya Azam dan Bella kembali ke Indonesia. Kepulangan sepasang pengantin ini di sambut baik oleh semua orang.


Para pengawal keluarga Malik pun sudah menunggu tak jauh dari pintu kedatangan para penumpang pesawat.


Bahkan media juga dengan gencarnya memberitakan. Saat di Bandara Azam terus memeluk pinggang sang istri, membuat semua para fans menduga-duga.


Mungkinkah idola mereka sudah hamil?


Kini Azam dan Bella sudah berada di dalam mobil, melaju menuju mansion milik ayah Adam.


Azam dan Bella sama-sama tidak menyangka, jika akan ada kejutan kecil di sana. Bukan hanya keluarga Malik yang menyambut di mansion, ada juga Arnold, Julian dan Ben di sana.


Bella ingin sekali berlari memeluk Arnold dan Julian bergantian, namun sekuat tenaga ia tahan. Tidak ingin membuat sang suami cemburu, kini dia harus pintar-pintar menjaga sikap, meskipun itu dengan sahabat kecilnya, Arnold dan Julian.


"Kalian disini," ucap Bella, Arnold dan Julian pun tersenyum menyambut kedatangan mereka.


Setelah saling sapa dan memeluk rindu di teras rumah, mereka semua masuk ke dalam mansion. Di ruang tengah yang tempatnya cukup luas ini mereka mengadakan perjamuan kecil-kecilan.


Banyak hidangan makanan tersaji, juga beberapa kursi sofa yang disusun rapi untuk semua keluarga.


"Tadi mama Lihat di pemberitaan kamu sudah hamil, apa iya?" tanya mama Sarah, kini para wanita berkumpul, memilih duduk dibawah beralaskan karpet tebal. Sedangkan para pria duduk di atas, membicarakan entah.


"Insya Allah Ma, aku belum periksa, jadi belum tahu," jawab Bella apa adanya, dia juga merasa belum ada tanda-tanda tentang kehamilan. Jadi rasanya masih belum mau untuk memeriksakan diri.


"Di periksa saja Bell, kan prosesnya sudah setiap hari," celetuk Zura hingga membuat ibu Haura langsung menepuk lengan anak gadis nya ini. Ada Agatha dan Alesha yang mereka anggap masih anak kecil.


Padahal kedua gadis itu sudah sangat paham dan bahkan terkekeh menertawakan ucapan Azura.


"Zura, kamu kapan menikah?" tanya acil Aida.


Membuat Azura seketika diam saat jadi pusat perhatian semua orang.


"Insya Allah sebentar lagi Acil, aku sih ikut Julian saja," jawab Azura, malu-malu. Membahas tentang pernikahan seolah menjerumus tentang itu itu.


"Sebaiknya Zura dan Julian memang segera menikah, apalagi mereka sering bertemu, banyak setannya," ledek Bella, Azura langsung saja menepuk lengan sang kakak ipar, ia bahkan mencebik, ingat sudah beberapa kali dan Julian ciuman.


Tidak ingin jadi bulan-bulanan, Azura langsung mengalihkan pembicaraan, meminta Agatha dan Alesha untuk mengambil beberapa cemilan di meja saji.


Di meja sana sedang ada Arnold dan Azam yang juga mengambil beberapa makanan.


"Agatha, berikan ini untuk mbak Bella ya," pinta Azam, ia memilihkan makanan kesukaan sang istri dan meminta adiknya untuk mengantarkannya kepada Bella.


Agatha pun menganggukkan kepalanya. Menerima uluran piring kecil dari sang kakak.


"Kalian ambilah yang kalian suka, nanti abang yang bawakan ke sana," ucap Arnold pada kedua gadis cantik ini. Agatha dan Alesha pun sontak kegirangan.


Melihat tawa riang kedua gadis itu, Arnold pun ikut tersenyum pula. Azam yang melihatnya hanya menggelengkan kepala, temannya yang satu ini ternyata benar-benar mengincar salah satu adiknya. Entah Agatha atau Alesha.


Azam kembali lebih dulu ke kursinya, sementara Arnold masih di sana menunggu kedua gadis ini selesai memilih makanan yang mereka suka.


Lalu Arnold membantu mereka untuk membawa makanan itu ke rombongan wanita. Sering berkutat di cafe, membuat pesona Arnold makin memancar tiap kali bersandingan dengan makanan-makanan seperti ini.


Arnold bahkan menyajikan makanan itu untuk semua orang seperti sebuah layanan plus-plus.


"Tidak usah tebar pesona!" ketus Azura, tahu kelakuan sang sahabat


"Tebar pesona sama siapa?" tanya acil Aida, penasaran.


"Agatha atau Alesha?" tanya mama Sarah.


"Anak ibu yang masih singel ada 2, jangan kamu permainkan," ancam Haura dengan nada bercanda.


"Ibu Haura, Mama Sarah, Acil Aida, aku tidak akan mengganggu Agatha dan Alesha sebelum mereka lulus kuliah," jawab Arnold, membuat para orang tua berbangga hati.


Sementara kedua gadis yang dibicarakan hanya saling pandang dan mengedikkan babu.


Bagi mereka abang Arnold sama saja seperti abang Azam, menganggapnya sebagai abang mereka.


Suasana kekeluargaan saat itu begitu kental terasa. Azam dan Bella pun mengatakan pada semua orang jika mereka kini akan tinggal di apartemen dulu. Para keluarga menyetujui, apapun yang terbaik untuk keluarga kecil itu mereka akan selalu mendukung.


Setelah shalat zuhur dan makan siang bersama, semua orang mulai bubar. Papa Agra dan mama Sarah juga pamit untuk pulang.


Arnold, Julian, Ben dan Azura ikut mengantar Bella dan Azam ke apartemen mereka yang baru.


Masuk ke dalam sana dan langsung menguasai ruang tengah.



Menyalakan televisi dan membuka cemilan yang mereka bawa.


Hari ini padahal hari selasa, namun mereka semua menganggap seolah ini adalah hari minggu.


Berkumpul dan tertawa bersama.


Sejenak bahkan Azam dan Bella sampai lupa jika mereka adalah sepasang suami dan istri. Masih merasa jika mereka adalah seorang sahabat. Bercanda dan tertawa keras tanpa canggung.


"Ibu sudah memintaku pulang, aku pulang dulu ya?" pamit Azura, setelah membaca pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Membaca pesan dari ibu Haura yang memintanya untuk pulang.


"Ayo aku antar," sahut Julian, dia bahkan bangkit lebih dulu dari duduknya.


"Ya sudah ayo kita pulang semua, aku dan Ben tidak mau jadi obat nyamuk disini," usul Arnold.


"Baguslah kalau kamu dan Ben sadar," sindir Bella, Arnold langsung saja melempar model cantik ini dengan kulit kacang.


Bella terkekeh, lalu memeluk Azam erat.


Akhirnya mereka semua pulang, meninggalkan Azam dan Bella yang langsung menuju kamarnya yang baru.



Kamar sederhana dengan ukuran ranjang yang tidak terlalu besar, sengaja memang agar mereka tertidur tanpa ada jarak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keluar dari apartemen Bella dan Azam, mereka semua turun ke basement apartemen.


Arnold dan Ben menuju mobilnya masing-masing, dan Azura ikut masuk ke mobil Julian.


Sampai di dalam mobil sana, Julian langsung menggenggam erat tangan sang kekasih dan mulai mengeluarkan mobilnya dari area parkir.


Sedari tadi saling tatap tapi tidak bisa saling dekap, membuat gelora cinta itu makin kental mereka rasa.


"Sayang, ku rasa sekarang waktu yang tepat kita untuk menikah. Bagaimana menurutmu?" tanya Julian, kini mobil mereka sudah memasuki jalan raya.


Salah satu tangan Julian masih setia menggenggam erat tangan sang kekasih.


"Iya, ku rasa juga begitu," jawab Azura.


Julian yang merasa bahagia dengan jawaban itupun langsung mengecup sekilas tangan Azura.


Keduanya saling mengukir senyum sepanjang perjalanan mereka pulang.