Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 78 - Gadis Beruntung



Jangan lupa Like dan Komen ya ❤


Happy reading


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya, Fhia dan Bella menghabiskan waktu bersama di ruang tengah setelah makan malam. Duduk bersama dan menyaksikan serial televisi favorit mereka.


David juga ada disana, tapi dia hanya fokus kepada tawa Fhia dan Bella daripada menonton televisi itu.


Ponsel Azam berdering, membuat perhatian semua orang langsung beralih ke arahnya.


Ada panggilan masuk dari Arnold dan Azzam langsung menjawab panggilan itu. Arnold mengatakan bahwa Azzam harus datang ke Bar nya. Saat ini di Bar sudah ada dia, Julian dan juga Ben.


Ada sesuatu yang ingin Arnold ucapkan kepada teman-temannya itu dan Azzam pun menyetujuinya namun sebelumnya dia akan meminta izin kepada Bella.


"Dasar Suami Takut istri," seloroh Arnold dan langsung mematikan sambungan telepon mereka secara sepihak.


Azzam hanya terkekeh saja dan menyaksikan ponselnya yang sudah mati.


"Arnold?" tebak Bella dan Azam mengangguk.


"Di Bar sudah ada Julian dan Ben, Arnold meminta aku juga untuk datang ke sana, apa boleh aku pergi?" pinta Azzam, dia tidak memaksa andaikan Bella melarangnya untuk pergi maka dia tidak akan pergi.


Namun karena di rumah ini sedang ada Fhia maka Bella tidak merasa kehilangan saat suaminya itu hendak pergi.


Dan akhirnya pun Bella mengizinkan.


"Hem, tidak apa-apa, tapi pulangnya jangan malam-malam ya?"


"Jam berapa?"


"Setengah 10."


"Oke," sahut Azzam, sebelum waktu yang disampaikan sang istri itu tiba, dia akan segera pulang ke rumah.


Karena disana sedang ada Fhia dan ayah David, Azzam hanya mengelus puncak kepala sang istri dengan sayang sebagai salam perpisahan, juga mengedipkan sebelah matanya genit.


Dan Bella hanya terkekeh melambay kecil untuk melepaskan kepergian sang suami.


Beberapa menit di perjalanan akhirnya Azam sampai di Bar Arnold.


Dia masuk dan sudah melihat banyak pengunjung, namun Azam tidak duduk di sana, dia terus naik hingga sampai ke lantai 3.


Menuju basecamp tempat dia biasa kumpul bersama teman-temannya. yang dulu juga sempat menjadi tempat tinggalnya saat tidak tinggal di mension Ayah Adam.


"Kenapa meminta kami semua untuk berkumpul? Memangnya ada sesuatu yang penting? apa kamu akan menikah?" tanya Ben bertubi, namun dengan nada sedikit meledek. membuat Azzam dan Julian tertawa pelan.


"Kalian akan tercengang mendengar apa yang akan aku sampaikan," seloroh Arnold.


"Apa kamu menghamili anak orang?" tanya Julian.


Tawa Azzam tidak bisa lagi ditahan dan dia tergelak paling kencang.


Namun Arnold bergeming dengan semua ledekan teman-temannya, Arnold menarik nafasnya panjang-panjang lalu membuangnya secara perlahan, seolah bersiap untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting.


Sementara ketiga temannya langsung diam memperhatikan.


"Aku dan Alesha pacaran."


Azam, Julian dan Ben terdiam. Ben dan Julian sebenarnya ingin tergelak saat mendengar Arnold mengatakan dia dan Alesha pacaran.


Kata pacaram terdengar begitu kekanan-kanakkan bagi mereka.


Ingin tertawa keras tapi tidak enak dengan Azam yang wajahnya kini pias.


"Sejak kapan? kenapa Alesha? apa karena kamu tidak bisa mendapatkan Bella? jangan mempermainkan Alesha," balas Azam, dengan banyak pertanyaan pula.


Dan Arnold sudah mengira jika Azam pasti akan menanyakan pertanyaan itu.


Kenapa Alesha? apa karena Bella?


"Aku tidak se brengsek dirimu, saat aku memilih satu wanita, hanya dia lah yang akan aku perjuangkan."


Arnold terpaksa menjawab seperti itu, karena Azam membawa masa lalunya, maka dia pun demikian.


Seketika suasana jadi hening, Hawa mencekam mulai dirasa oleh Ben dan Julian. Mereka berdua hanya diam, menelan ludahnya kasar dan melihat Azam dan Arnold yang saling menatap tajam.


"Kamu yang paling tahu betapa takutnya aku sekarang karena kesalahan itu," balas Azam.


Beberapa waktu lalu Azam dan Arnold memang sudah membahas ini, tentang ketakutan Azzam adanya Karma.


"Apa kamu mengira aku tega melakukan itu kepada Alesha?" tanya Arnold.


Dan Azam diam.


"Jika perasaanmu tulus aku tidak akan mempermasalahkan itu, aku hanya tidak ingin kamu menyakiti dia."


"Asal kamu tahu, bukan aku yang menyakiti Alesha tapi Alesha lah yang menyakitiku bahkan menyiksaku setiap hari," jawab Arnold mulai memelas.


Setelahnya Arnold menceritakan apa yang sudah dia lalui bersama Alesha. Betapa polosnya anak itu hingga dia harus menahan diri untuk tidak merusaknya.


Apa lagi saat ini Alesha masih kuliah dan dia butuh waktu yang cukup lama untuk menikahi gadis itu.


Suasana kembali cair, Julian dan Ben kembali tertawa saat Arnold bercerita. Mereka merasa beruntung karena bisa menemukan pasangan yang langsung bisa diajak menikah.


"Sebaiknya kamu temui Papa Agra dan mama Sarah, katakan tentang hubunganmu dengan Alesha." ucap Azam setelah Arnold selesai bercerita, juga Julian dan band yang menyelesaikan tawanya.


"Itulah yang akan aku lakukan, Karena itulah sekarang aku mengatakannya kepada kalian terlebih dahulu."


Hampir Jam 9 malam Azzam dan Julian memutuskan untuk pulang lebih dulu sementara Ben masih tinggal di bar arnol.


Sesuai rencana Azzam tadi, sebelum jam 9.30 malam dia sudah sampai di rumah.


Ternyata di ruang tengah itu masih ada Bella dan juga Fhia, tapi ayah David sudah tidak ada di sana.


"Kalian masih disini," ucap Azam, hingga membuat Bella dan Fhia menatap kearahnya, Azzam lalu duduk disalah satu kursi.


"Menemani Bella menunggumu pulang." Fhia yang menjawab.


"Apa ada sesuatu yang terjadi? kenapa sepertinya Abang banyak pikiran seperti itu?" tanya Bella saat ia memperhatikan lekat wajah sang suami yang nampak lebih masam daripada sebelum pergi tadi.


Dan Azzam pun menceritakan semua yang sudah terjadi di cafe tadi tentang Arnold dan Alesha.


Azzam kira Bella akan bereaksi sama seperti dirinya, terkejut dan sedikit tidak menerima. Apalagi kini Alesa masih kecil sama seperti Agatha saat dulu berhubungan dengan Edward, dia pun sedikit merasa keberatan.


Tapi ternyata dugaannya salah, Bella malah mendukung hubungan itu.


Itu semua karena Bella tahu jika Arnold adalah pria yang baik, pria yang bertanggung jawab dan akan mencintai wanita pilihannya dengan sepenuh hati.


Dan Fhia pun menyetujui pemikiran Bella itu. Fhia pun tahu jika selama ini sebenarnya Arnold menyukai Bella, namun tetap bungkam karena Bella hanya menganggapnya sebagai sahabatnya.


Tapi meski begitu Arnold tetap setia melindungi Bella. Bahkan selalu ada saat Bella membutuhkannya.


Bagi Fhia saat ini Alesha adalah gadis yang beruntung.


"Benarkah seperti itu?" tanya Azzam dan Bella mengangguk. Pun Fhia yang juga ikut menganggukkan kepalanya.


Melihat itu Azam sedikit bisa bernafas lega. Ketakutan yang dirasa tentang kesalahannya sendiri di masa lalu mulai menghilang, meski masih meninggalkan bekas.