
Setelah pulang dari makam ini Diana. Kini Azam, Bella dan ayah David pulang ke rumah.
Mereka semua membersihkan tubuh juga menyegarkan pikiran melalui guyuran air itu.
Setelah menyiapkan baju sang suami, Bella pun segera bergegas keluar, menuju dapur dan membuka beberapa kantong sayuran yang tadi di kirim oleh tante Namira.
Menyimpannya sebagian di dalam lemari pendingin dan sisanya ia masak untuk makan malam. Bunyi suara berisik di dapur pun sampai terdengar saat ayah David membuka pintu kamarnya.
Dan mendengar itu dia mengurungkan niatnya untuk keluar, lebih memilih kembali masuk ke dalam kamar dan kembali menangis.
Melihat Bella seperti melihat sang istri dan itu berhasil membuat dadanya sesak. Dulu di rumah ini hanya dihuni oleh ayah David dan ibu Diana, menghabiskan waktu tua bersama. Sampai akhirnya ibu Diana meninggal dunia lebih dulu.
"Sayang, ada anak kita di rumah? apa kamu melihatnya?" gumam ayah David, dengan air mata yang kembali membasahi pipinya.
Satu tangan ayah David menyentuh dadanya yang terasa begitu sesak. Kini yang ia rasa bukan hanya bahagia, namun kesedihan itupun masih menguasai hati.
"Aku tidak boleh menangis, aku tidak ingin Bella ikut menangis juga," ucap Ayah David, dengan segera ia menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya.
Lalu berulang kali menarik dan membuang nafasnya agar tenang. Dalam hatinya pun dia terus beristighfar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dapur.
Setelah selesai memakai baju, Azam pun segera keluar dari dalam kamarnya dan mendengar suara berisik dari arah dapur.
Bukan hanya itu, aroma wangi khas orang memasak pun dapat ia cium dengan jelas.
Belum melihat, namun Azam sudah yakin jika sang istri lah yang kini sedang memasak di dapur. Maka dengan langkah lebar dan antusiasnya, Azam segera menuju ke sana.
Dan tersenyum saat melihat Bella yang sedang sibuk sendiri. Azam memilih duduk di kursi meja maka dan memperhatikan.
"Sayang," panggil Azam, sontak membuat Bella menatap kearahnya dan membalas senyum. Namun tidak beranjak, Bella masih sibuk dengan memasak.
"Abang, boleh aku minta tolong?"
"Apa sayang, katakan?"
"Tolong panggil ayah, ajak dia bergabung bersama kita disini."
"Siap ibu Ratu," jawab Azam patuh, bahkan membuat gerakan hormat. Membuat Bella terkekeh dan jadi ingat Arnold. Dulu waktu kecil Arnold sering sekali melalukan itu.
"Sepertinya sudah lama tidak berkumpul dengan mereka," gumam Bella, sementara Azam sudah berlalu untuk menjemput ayah David.
"Setelah ingat Arnold kenapa aku jadi ingat Alesha?" gumam Bella lagi, yang tiba-tiba membayangkan kedua wajah itu secara bergantian.
Namun segera menggelengkan kepalanya, menepis pikiran yang mengatakan jika kedua orang itu memiliki hubungan seperti Edward dan Agatha.
"Hii, ini semua gara-gara Abang yang selalu curiga Arnold akan mendekati Alesha, jadinya aku sampai berpikir ke arah situ," gerutu Bella.
Karena kesalahan masa lalunya, kini Azam begitu mencemaskan adik-adik perempuannya, Agatha dan Alesha. Dan karena itulah, kini pun Bella jadi ikut-ikut kepikiran.
"Siapapun jodoh Agatha dan Alesha nanti, entah itu Edward ataupun Arnold, yang jelas mereka harus pria yang bertanggung jawab," putus Bella sendiri. Lalu menyajikan satu masakannya ke dalam piring saji, dan berkutat dengan menu yang lainnya lagi.
Tak berselang lama setelah Azam memanggil ayah David, kedua pria itu datang ke meja makan. Dan Bella langsung menyajikan teh hangat dan sepiring cemilan untuk keduanya.
Hingga saat malam tiba mereka pun makan malam bersama, Bella terus memberikan perhatian lebih kepada sang ayah. Dan Azam dapat memahami itu.
Semua kecemasannya dan Bella di masa lalu memang ada benarnya sedikit, bahwa ayah David dan ibu Diana akan hidup sederhana seperti ini. Sementara Bella, dia hidup dengan bergelimang harta.
"Bella, bolehkan ayah meminta sesuatu?" tanya ayah David setelah mereka selesai makan malam, namun masih duduk di meja makan.
"Apa Yah, katakan," jawab Bella sungguh-sungguh, apapun akan dia lakukan demi sang ayah.
"Kata tante Namira, kamu mirip sekali dengan ibumu saat menggunakan hijab, ayah juga ingin melihatnya, apa boleh?"
"Tentu saja," jawab Bella cepat. Setelah meminta sang ayah menunggu, dia pun segera bergegas menuju kamarnya. Untunglah ada beberapa hijab yang dia bawa kemarin.
Bella mengganti bajunya dengan yang lebih tertutup dan memakai salah satu hijab.
Dirasa sudah rapi dia pun kembali menemui sang ayah dan sang suami yang kini sudah berada di ruang tengah.
Dengan tersenyum Bella menghampiri keduanya, berdiri di hadapan mereka.
Ayah David langsung tersenyum melihat itu, dia seperti melihat sang istri yang saat hidup masih dalam keadaan sehat. Belum ada sakit yang menggerogoti tubuhnya hingga ajal tiba.
Lagi, air mata ayah David mengalir namun kini dengan senyum yang terukir di bibirnya.
Malam itu Bella terus menggunakan hijab di hadapan sang ayah, membicarakan banyak hal hingga malam semakin larut dan merek berpisah untuk beristirahat.
Jam 10 malam waktu Singapura, Azam dan Bella mulai masuk ke dalam kamar mereka. Setelah menutup pintu Azam langsung memeluk tubuh sang istri dari arah belakang.
Sedari tadi ia pun terpana melihat kecantikan sang istri saat menggunakan hijab seperti ini. Andaikan boleh, dia pun ingin mulai kini Bella menggunakan hijab.
Tapi perkara menutup aurat adalah kesiapan pribadi masing-masing dan Azam tidak ingin memaksakan itu. Meskipun dia wajib untuk mengingatkan, namun Azam tidak akan mengutarakannya langsung.
"Kamu cantik," ucap Azam, tepat di telinga sang istri yang sedang ia peluk dari arah belakang.
Bella pun tersenyum, menyentuh kedua lengan suaminya yang melingkari tubuhnya.
"Abang suka melihatku memakai hijab seperti ini?"
"Tentu saja, kamu bukan hanya cantik tapi juga terlihat begitu anggun," balas Azam apa adanya, dia pun mencium lama pipi sang istri dengan sayang.
Membuat Bella akhirnya menoleh dan keduanya saling sesap dengan begitu dalam. Azam bahkan memainkan lidahnya, menggoda sang istri untuk membuka mulutnya lebih lebar hingga keduanya saling beradu lidah.
Ciuman basah yang membuah keduanya hingga kehabisan nafas.
"Abaang," panggil Bella dengan nafasnya yang terengah. Dia memutar badannya hingga kini berhadapan dengan dengan sang suami.
Menggantungkan kedua tangannya di leher Azam dan menatap sang suami dengan tatapan yang dalam.
"Aku akan coba untuk mulai memakai hijab Bang, doakan aku agar tidak goyah ya?" pinta Bella, nafasnya masih memburu membuat dadanya naik turun.
"Aamiin, Alhamdulilah, aku bahagia sekali mendengarnya," balas Azam, setelahnya dia kembali mencium bibir sang istri. Melumaatnya dalam dengan kedua tangan yang mulai menyusuri lekuk tubuh sang istri.
Jika di luaran sana Azam memang menginginkan sang istri untuk menutup auratnya, namun jika di dalam kamar seperti ini, Azam tetap menginginkan istrinya yang seksi.
Ciuman itu membawa keduanya berbaring di atas ranjang dengan saling berpaut, lalu lama-lama menyatu dan terus bersenggama hingga tengah malam.