Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 74 - Pengantin Baru



Hari minggu kali ini Azam dan Bella akan mengajak Ayah David untuk kembali ke Indonesia. Bukannya ingin terburu-buru untuk kembali, namun kini Azam harus bersikap profesional di pekerjaannya.


Dia masih menjabat sebagai seorang manajer yang tidak bisa seenaknya saja mengambil hari libur, tidak seperti saat dia menjadi CEO dulu, yang bisa sesuka hatinya untuk masuk kerja atau tidak.


Dan ayah David memahami itu, dia pun menuruti anak-anaknya untuk hari ini kembali ke Indonesia.


Setelah berpamitan dengan Andrew dan Namira, Mereka pun segera bergegas menuju bandara internasional Changi dan waktu penerbangannya adalah jam 10 pagi.


Jam 11.30 siang mereka sudah mendarat di Bandara Internasional soekarno-hatta.


Julian dan Azura datang untuk menjemput mereka semua. menggunakan 3 mobil yang beriringan. 1 mobil yang digunakan oleh Julian dan Azura, satu lagi untuk Azam, Bella dan ayah David, satunya lagi untuk supir dan dua pengawal.


"Kenapa membawa pengawal?" tanya Azam, yang merasa keadaan saat ini baik-baik saja, tidak ada berita heboh yang membuat mereka menjadi incaran pengejar berita.


"Untuk jaga-jaga, aku takutnya mereka semua ingin mewawancarai Ayah David," jawab Julian dengan sedikit berbisik dan Azam mengangguk tanda mengerti.


Tapi untunglah siang itu keadaan masih terkendali mereka semua dapat menuju mobil dan segera bergegas pulang tanpa ada hambatan sedikit pun.


Julian dan Azura ikut pulang ke rumah Azzam dan Bella, ini juga untuk pertama kalinya pasangan pengantin baru ini mengunjungi kediaman Azam.


Mulai senin besok Julian dan Azura juga akan kembali bekerja, beraktifitas seperti sebelumnya saat mereka belum menikah. Julian akan kembali mengurus hotel milik keluarganya sedangkan Azura akan kembali bekerja di Malik Kingdom sebagai manajer keuangan.


Sampai di rumah, Azzam Julian dan ayah David duduk di ruang tengah. Sementara Azura membantu Bella untuk membereskan beberapa barang bawaannya di kamar.


Para pria membicarakan tentang Edward yang tidak ada di rumah ini. Mereka curiga jika pria itu sudah sejak dari tadi pagi menemui Agatha.


Namun Azzam mencoba biasa saja, mencoba percaya bahwa Edward akan menjaga adiknya.


Sama seperti para pria yang asyik berbincang, Azura dan Bella pun saling melepas rindu, seolah sudah lama tidak bertemu. Setelah mereka sama-sama menikah , mereka semakin jarang bertemu dan berkomunikasi, sibuk dengan urusan keluarganya masing-masing.


"Jadi sekarang kamu mulai memakai hijab?" tanya Azura, sedari tadi penampilan terbaru Bella sangat mencuri perhatiannya.


Sejak keluar dari gerbang kedatangan di Bandara tadi, Azura langsung terpana saat melihat penampilan baru Bella.


Menggunakan hijab dan tetap nampak modis. Kepala dan dadanya tertutup, menggunakan kaca mata hitam dan tetap terlihat mempesona.


Bella tersenyum sebelum dia menjawab pertanyaan sang adik ipar.


"Iya, Insya Allah tidak akan aku lepas lagi," jawab Bella yakin.


Awalnya dia memang menggunakan hijab ini karena keinginan sang ayah. Namun Bella pun mencoba yakin, jika saat inilah waktu yang tepat dia untuk menutup aurat.


"Aku juga mau pakai."


"Ya sudah pakai saja, ayo kita belajar bersama," ajak Bella.


Kedua gadis ini terkekeh dan Azura langsung memeluk Bella erat.


Tidak menyangka juga jika hubungan mereka kini akan menjadi adik dan kakak ipar. Terus belajar bersama dalam kebaikan.


"Bagaimana kehamilanmu? kamu tidak mual?" tanya Azura, kini mereka duduk diatas karpet tebal dan membuka koper milik Bella.


"Tidak, aku juga heran. Tapi kata dokter kandungan seperti itu biasa terjadi, bahkan ada yang sampai tidak tahu kalau dia hamil gara-gara tidak mengalami morning sicknees," jelas Bella.


Azura menganggukkan kepala, perihal masalah ini dia memang harus banyak belajar dari yang lebih berpengalaman.


Setelah makan siang bersama, Julian dan Azura pamit untuk pulang.


Sementara Bella, Azam dan ayah David memutuskan untuk beristirahat.


"Abang, kita nanti berhenti di apotik ya?" pinta Azura pada sang suami.


"Kenapa? kamu sakit?" tanya balik Julian, mendadak cemas. Dia bahkan langsung menghentikan mobilnya di yang masih berada di halaman rumah Azam. Belum sempat keluar dari rumah ini.


Julian menyentuh dahi Azura, memeriksa suhu tubuh sang istri.


"Aku baik-baik saja Abang, aku cuma mau beli tespack."


"Memangnya siapa yang hamil?"


"Untuk jaga-jaga, siapa tau aku hamil."


Mendengar itu Julian mengulum senyumnya. Belum ada satu bulan menikah dan Azura sudah berharap hamil. Padahal mereka hitungannya masih pengantin baru.


Bahkan mereka pun jarang melakukan itu, karena sekali melakukannya, inti Azura akan langsung lecet. Membuat Julian menunggu agar lecet itu sembuh dulu.


"Memangnya ini sudah sembuh?" tanya Julian, ia menggerakkan satu tangannya menyentuh inti sang istri dari luar.


"Abang! ih malu!" keluh Azura, hingga membuat Julian terkekeh.


"Kenapa malu, kita sudah menikah dan disini tidak ada orang lain," jawab Julian.


"Lagi pula kalau mau cepat hamil harus sering melakukannya," usul Julian pula, namun Azura langsung menggelengkan kepalanya.


"Salah abang sendiri, sekalinya gitu-gitu gak bisa berhenti, kan aku jadi lecet."


"Karena itulah, jangan melakukannya di ranjang, agar cepat selesai."


Azura terdiam, masih mencerna ucapan sang suami. Namun belum sempat mendapatkan pikirannya, tubuhnya sudah lebih dulu di tarik untuk duduk diatas pangkuan Julian.


Sampai disini Azura baru tahu apa maksud ucapan Julian tadi. Melakukannya disini.


"Abang, ini masih di rumah Bella, bagaimana jika mereka melihat kita, lagi pula ini siang bolong abaaang," rengek Azura yang merasa tidak masuk akal dengan keinginan sang suami.


Tapi Julian tidak peduli, dengan mudah dia sudah melepaskan pengait bra sang istri. Membuatnya terlepas tanpa penyanggah.


Lalu menguluumnya secara bergantian dan Azura hanya bisa pasrah dalam desah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mampir juga ya kesini ❤