
Bella duduk di samping Azam dan terus memperhatikan pria paruh baya yang tidak dikenalnya itu dengan tatapan nanar.
Kerutan di wajahnya sudah nampak jelas juga kedua matanya yang sudah sayu.
Suaminya dan semua orang mengatakan jika pria paruh baya itu adalah ayahnya, yang bernama David.
Membuatnya blank dan tidak bisa memikirkan apa-apa, jangannyakan percaya bahkan Bella pun bingung harus bagaimana menanggapi ini semua.
Tiba-tiba seorang pria datang dan mengatakan jika dia adalah ayahnya.
“Maafkan saya, tapi istri saya masih sangat terkejut. Bisakah saya bicara berdua dulu dengan Bella?” pinta Azam pada semua orang.
Tante Namira dan paman Andrew pun menyetujui, juga Edward yang menganggukkan kepalanya kecil. Lain halnya dengan om David yang nampak begitu kecewa.
Kerinduannya sudah memuncak, namun sang anak tidak ingin menemui dirinya.
Azam dan Bella masuk ke ruang tengah, sementara Edward dan yang lainnya menunggu di ruang tamu.
“Abang, apa ini semua?” tanya bella lirih, semuanya terasa mimpi dan nyata dan dia bingung berada dimana.
“Kita duduk dulu,” pinta Azam, lalu mendudukkan istrinya persis tepat di hadapan dirinya.
Azam pun mengambil ponsel di saku celananya dan menghubungi paman Mark lalu menceritakan apa yangs edang terjadi disini. Sementtara bella mendekatkan telinganya, ikut mendengarkan ucapan paman Mark.
“Benar Zam, tuan David memanglah ayah kandung Bella,” ucap paman Mark.
Deg! Seketika jantung Bella kembali terasa berhenti berdetak. Nyeri yang tiba-tiba datang kemudian hilang.
Paman Mark pun menceritakan semua yang terjadi, persis seperti apa yang diceritakan oleh Tante Namira.
Tidak sampai di sana, paman Mark pun mengatakan kepada Bella bahwa sebaiknya Bella memaafkan tuan David. Diantara bella dan
David, David yang paling menderita. Apalagi belum lama ini ibu Bella dan istri tuan David itu meninggal, nyonya Diana.
Air mata Bella mengalir, belum putus panggilannya pada paman Mark ia langsung berlari menuju ruang tamu.
Berlari menghampiri ayahnya dan bersimpuh diatas lantai. Tanpa ada canggung sedikitpun keduanya langsung saling memeluk erat, sangat erat diantara derai air mata.
“Maaf ayah Dinda, maafkan ayah,” ucap ayah David, tenggorokannya terasa tercekik menahan sakit, namun sekuat tenaga ia mengucapkan kata maaf itu pada sang anak.
25 tahun mereka berpisah dan itu bukanlah waktu yang sebentar, dan selama itu pula ayah David terus dihantui rasa bersalah pada sang anak. Membayangkan anaknya terlantar di jalanan, kelaparan dan kedinginan. Hati ayah David sangat tersiksa tiap kali membayangkan itu.
“Maafkan ayah Dinda.”
“Tidak Ayah, ayah tidak bersalah, semuanya sudah takdir Yah, Ayah tidak bersalah,” jawab Bella.
Azam yang baru menyusul istrinya di ruang tamu pun merasa terenyuh. Hatinya pun merasakan pilu yang sama.
Tante Namira bahkan sudah ikut menangis dan paman Andrew terus mengelus punggung istrinya itu agar bisa tenang.
Sementara Edward memalingkan wajah, tidak ingin menangis saat melihat pertemuan haru itu.
Hingga 15 menit kemudian akhirnya Bella dan ayah David saling melerai pelukan. Bella masih setia bersimpuh di hadapan sang ayah. Melihat semakin jelas kerutan di wajah ayahnya itu, semakin membuat hatinya terasa teriris-iris, sakit sekali.
“Benar kata Maria, kamu hidup dengan baik,” ucap Ayah David. Maria adalah babysitter Bella saat itu. Sejak Bella lahir memang Maria lah yang merawatnya siang dan malam. Sementara dia dan istrinya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. David sebagai seorang CEO dan Diana sebagai model ternama saat itu.
Dilihatnya wajah sang anak yang sangat cantik, persis sekali dengan mendiang sang istri.
“Aku memang hidup dengan baik Yah, jadi jangan pernah merasa bersalah lagi. Maafkan aku karena aku tidak berusaha untuk mencari Ayah selama ini,” jujur Bella dan itu adalah penyesalan terbesarnya. Andaikan dia tahu ini cerita sesungguhnya sudah sejak lama ia mencari kedua orang tuanya.
Namun takut mengetahui fakta bahwa di di buang membuat Bella selalu mengurungkan niat untuk mencari kedua orang tuanya.
Bella pun terus mengucapkan kata maaf untuk itu.
1 jam berlalu dan keadaan benar-benar mulai membaik, tidak ada lagi tangis haru dan saling berebut mengucapkan kata maaf. Kini bella dan sang ayah pun sudah duduk berdua di balkon apartemen. Sementara Azam mandi dan Edward menonton televisi di ruang tengah bersama sang ayah. Tante Namira menyiapkan sarapan untuk mereka semua di dapur.
“Sejak kapan ibu memakai hijab?” tanya Bella pada ayahnya, tante namira tahu ia begitu mirip dengan mendiang sang ibu saat ia menggunakan hijab.
“Setelah kamu menghilang, ibu berhenti dari pekerjaannya dan langsung menggunakan hijab,” jawab ayah David, ia terus menggenggam tangan Bella agar yakin jika ini semua nyata dan bukannya mimpi.
“Jadi ayahmu selama ini adalah tuan Agra Malik?” kini giliran ayah David yang bertanya dan Bella menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Tentang keluarga Malik, David pun pernah mendengarnya, meski tidak mengenal dengan baik.
Bella lantas langsung menceritakan tentang semua keluarganya disini, mulai dari papa Agra, mama Sarah, adiknya Alesha, mendiang nenek Zahra, ayah Adam dan ibu Haura, acil Luna dan amang Yuda, semua sepupunya dan keluarga besar Malik yang lain.
Bella juga mengatakan jika ia diterima sangat baik di dalam keluarga ini, namun tetap saja tidak bisa melengkapi sudut hatinya yang terasa kosong. Kerinduannya kepada kedua orang tua kandung tetap Bella rasa meski mulutnya selalu berkata tidak.
Selesai sang anak bercerita, David kembali merangkul pundak Bella, mendekapnya erat, membuat seolah kini tidak ada lagi jarak diantara mereka. Mulai kini mereka tidak akan terpisah lagi, selamanya akan selalu bersama.
"Setelah ini mau kah kamu tinggal bersama Ayah?" tanya David dan tentu saja Bella langsung menganggukkan kepalanya dengan yakin.
Sejenak Bella lupa bahwa kini ia tidak lagi hidup sendiri, semua keputusan yang Bella ambil haruslah ada persetujuan dari sang suami, Azam.