
Makan malam kali ini Azam, Bella, Fhia dan Ben makan malam bersama di apartemen Bella.
Pulang dari rumah tante Seline tadi, Bella dan Fhia sudah membeli beberapa keperluan dapur. Mereka berdua pula yang memasak sendiri untuk makan malam.
Duduk bersama dalam satu meja mendadak merasa canggung, bukan apa-apa, karena Fhia dan Ben sedari tadi terus saling mendiami, membuat keadaan jadi kikuk.
"Kalian kenapa sih?" tanya Bella pada Fhia dan Ben dengan nada tak suka. Kedua tangan Bella sibuk menyajikan makanan di atas piring sang suami.
Sementara Azam terus memperhatikan pergerakan sang istri. Azam tersenyum kecil, melihat Bella seperti ini jadi terlihat seperti seorang istri sungguhan, yang melayani semua kebutuhan sang suami. Sudut hati kecil Azam pun mengatakan, andai sejak awal menikah dia sudah menerima Bella pasti rumah tangganya akan sangat bahagia sejak dulu.
Disaat Azam terus mengangumi sang istri. Fhia dan Ben malah sama-sama mendengus kesal saat mendengar pertanyaan Bella.
"Jangan banyak bertanya dan bicara, ayo makan," putus Fhia, lalu memasukkan satu suap nasi ke dalam mulutnya.
Ben hanya diam, dia juga langsung makan seperti Fhia dan Bella hanya geleng-geleng kepala melihat keduanya.
"Ini sayang," ucap Bella yang mendadak bicara dengan lembut. Azam yang melihat itu makin tersenyum lebar, jadi gemas sendiri.
"Kita makan berdua ya?" pinta Azam pula dan Bella mengangguk. Dari satu sendok Bella menyuapi sang suami lalu makan untuk dirinya sendiri. Sementara tangan lainnya saling menggenggam dengan tangan Azam yang berada di bawah meja.
Makan malam kali ini adalah makan malam terindah bagi Azam dan Bella.
"Ben, mainlah disini sampai jam 9, setelah itu pulang. Kasian Fhia di apartemen ini sendiri," ucap Azam saat ia dan Bella akan pulang ke apartemen sebelah.
Sesungguhnya Ben ingin sekali menolak, namun karena ini adalah perintah tuannya, maka ia pun mematuhinya.
"Aku bukan anak kecil, aku berani tinggal sendiri, Ben tidak perlu menemani aku," sanggah Fhia cepat.
"Sudah lah, kalau kamu tidak mau melihat Ben masuklah kamar, pokoknya Ben ada di apartemen ini sampai jam 9, setelahnya pulang," putus Bella pula.
Bella tahu jika Fhia sama penakutnya seperti Azura yang tidak berani bermalam sendiri. Sadar ada Ben di apartemen ini pasti Fhia bisa tidur.
Fhia mencebik dan tak bisa menolak, tak ingin ada pertengkaran seolah mereka anak kecil.
Selesai dengan Ben dan Fhia, Azam dan Bella pun memutuskan pulang. masuk ke dalam apartemen, Azam langsung menggendong sang istri layaknya pengantin baru.
Dan Bella menjerit kecil merasa terkejut, namun akhirnya ia merasa bahagia pula. Bella bahkan menggantungkan kedua tangannya di leher sang suami.
Lalu mengecup sekilas bibir Azam, membuat keduanya saling tersenyum dan balas tatap.
Azam membawa masuk sang istri ke dalam kamar, bukan menuju ranjang mereka melainkan menuju kursi sofa yang berada di balkon kamar. Angin malam berhembus semilir. Membuat tubuh keduanya meremang.
"Tunggu sebentar, aku akan ambil selimut," ucap Azam setelah mendudukkan sang istri. Bella lalu dengan cepat menahan tangan sang suami.
"Biar aku saja yang ambil, abang tunggu disini," ucap Bella, ia menarik sang istri agar duduk disampingnya dan Azam pun menurut.
Lalu setelahnya Bella sedikit berlari dan masuk ke dalam kamar untuk mengambil selimut.
Azam menunggu sedikit lama, sampai membuatnya mengeryit bingung.
"Sayang! kenapa lama sekali?" tanya Azam dengan sedikit berteriak. Ia yakin Bella akan mendengar suaranya.
"Iya sayang, sebentar lagi!" sahut Bella pula yang juga berteriak.
Menghampiri sang suami dengan malu-malu.
Kedua netra Azam membola, menatap dalam saat melihat penampilan sang istri yang sudah berubah total.
Bella tak lagi menggunakan baju yang sama saat mereka makan malam, kini Bella menggunakan sebuah lingerie yang begitu tipis dan menggoda.
Pundaknya terbuka dengan tali kecil yang menyanggah lingerie itu, juga belahan dadanya yang sangat rendah. dan nampak jelas jika sang istri tidak memakai bra. Kedua ujung buah itu tercetak jelas di sana.
Azam sampai tak bisa berkata-kata, hanya hasratnya yang tiba-tiba membuncah.
"Abang, berhenti melihatku seperti itu," ucap Bella malu-malu, lalu segera duduk di samping sang suami.
"Duduk di atas pangkuanku sayang," pinta Azam pula dan Bella menurut tanpa banyak bicara.
Duduk di atas pangkuan Azam dan keduanya saling memeluk erat.
"Aku mencintai mu," ucap Azam, ia semakin memeluk erat sang istri dan menyembunyikan wajahnya di kedua dada itu.
"Aku lebih mencintai Abang," balas Bella pula.
"Aku ingin kita segera memiliki momongan," ucap Azam lagi dan membuat Bella langsung tersenyum lebar.
"Aku juga ingin kita segera memiliki momongan," sahut Bella.
"Benarkah?" Azam menarik wajahnya dan menatap sang istri dengan tatapan tak percaya. Dilihatnya Bella yang menganggukkan kepala dengan bibirnya yang tersenyum. Satu tangan Bella bahkan membelai lembut wajahnya penuh dengan kasih sayang.
"Iya sayang, aku sungguh ingin segera hamil, mengandung buah cinta kita, mengandung benih mu mo," balas Bella. Sebuah jawaban yang terdengar nakal di telinga Azam, tapi dia menyukainya.
Azam lalu membenahi selimut di tubuh sang istri, agar kaki polos Bella bisa tertutup dari semilir angin malam.
"Kalau kamu hamil bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Azam sekali lagi. Ia tak ingin ada yang ditutup-tutupi lagi diantara keduanya. Ia dan Bella dan harus terbuka tentang apapun. Tentang perasaan, pekerjaan, dan hubungan dengan orang lain.
"Kalau aku hamil ya berhenti dulu, fokus dengan anak kita," jawab Bella apa adanya, memang inilah rencana dia sejak dulu.
Azam tersenyum dan menyentuh bibir sang istri yang nampak merah merekah.
"Aku tidak akan melarang mu menjadi model sayang, kami tetap bisa menggeluti pekerjaanmu, hanya saja aku tidak ingin melihatmu menggunakan baju yang terbuka, aku tidak terima, tidak mau tubuh istriku dilihat oleh semua orang, tubuh ini hanya milikku," ucap Azam posesif.
Sebuah keposesifan yang sudah sejak lama Bella tunggu. Jujur saja, Bella merasa bahagia saat Azam melarangnya ini dan itu. Seolah menunjukkan bahwa Azam benar-benar mencintai dirinya, ingin dirinya hanya untuk Azam.
"Iya Bang, aku akan menuruti semua keinginan Abang," jawab Bella dengan suaranya yang begitu lembut.
Dan Azam tersenyum penuh syukur, tak ada yang lebih membahagiakan selain memiliki seorang istri yang penurut.
Azam lantas menyentuh dagu Bella, menariknya pelan dan melabuhkan sebuah ciuman di atas bibir ranum itu. Ciuman ringan namun mampu membuat Bella melayang.
Penyatuan keduanya tak lagi terhindarkan. Di bawah langit malam dan gemerlap cahaya lampu kota, keduanya menyatu dan saling bersahut kata cinta.
Dingin itu tak lagi terasa, keduanya kini malah berbagi peluh.