
Seminggu kemudian.
Di mansion ayah Adam terlihat cukup sepi, karena setiap hari ibu Haura dan ayah Adam kulu kilir pergi ke rumah Azzura dan Julian untuk melihat cucu mereka yang baru. Yakni si tampan, Daren.
Karena hari ini hari Minggu, Azzam menemani Bella, dan ketiga anaknya di rumah. Ketiga bocah yang sangat aktif dan mulai pandai bicara.
Mereka semua tengah duduk di balkon kamar untuk menikmati matahari pagi, bahkan Abraham dengan gaya coolnya memakai kaca mata hitam ala-ala pantai, dan hal itu justru membuat kedua gadis cilik itu ingin memakai juga, mereka saling berebut satu sama lain.
Karena milik Adena dan Adelia berwarna pink, sedangkan mereka ingin seperti milik Abraham.
Dan di dalam celotehan anak-anaknya itu, Azzam memperhatikan Bella. Dia merasa bahwa sepertinya suntuk, karena setiap hari hanya mengerjakan itu, itu dan itu. Tak ada kegiatan lain.
Pelan, Azzam menggenggam tangan sang istri, hingga wanita beranak tiga itu menoleh, dan membalas tatapan Azzam. "Ada apa, Bang?"
"Sayang, apa kamu bosan?" tanya Azzam.
Namun, Bella tak mengerti kemana arah pembicaraan suaminya itu. Bosan? Bosan dengan apa maksudnya. Bella mengernyit, dan bertanya dengan sorot mata.
"Apa kamu bosan dengan keseharianmu, jika iya, apa kamu mau menjadi model lagi seperti dulu?" sambung Azzam, tak serta Merta dia mengatakan itu semua.
Karena walau bagaimanapun, menjadi model adalah mimpi Bella sejak wanita itu masih kecil, sejak masih bermain-main dengannya.
Bella bergeming, dia tak menjawab ucapan Azzam. Memanglah kegiatannya sehari-hari itu sangat monoton, tidak seperti dulu yang selalu sibuk, pergi ke negara inilah, itulah. Dulu jadwal hariannya sangat padat.
Namun, sumpah demi apapun. Untuk sekarang, dia sangat senang dengan kehadiran tiga anak mereka. Walaupun kesehariannya, hanya bersama mereka, itu sudah cukup membuatnya merasa bahagia.
Hingga akhirnya Bella menggelengkan kepala. "Tidak, Daddy. Itu memang cita-citaku dulu untuk menjadi seorang model ternama, tapi ternyata mimpi itu bisa berubah, sekarang aku hanya ingin menjadi istri dan ibu yang baik untuk kalian." Ujarnya tulus, dengan binar kelembutan yang menenangkan. Aura keibuan Bella membuat kecantikannya semakin terpancar sempurna.
Dan hal itu tak lepas dari pengamatan ketiga bocah lucu itu. Abraham memiringkan kepalanya. "Istli itu apa? Di sekolah nggak ada cita-cita jadi istli." tanyanya begitu polos.
Karena memang, Azzam dan Bella sudah menyekolahkan si kembar, mereka semua homeschooling seminggu sekali. Jadi tidak aneh, anak-anak ini sudah pandai bicara, bahkan si tampan Abraham sering berbicara bahasa Inggris ketika di rumah.
Mendengar pertanyaan itu, Bella bingung ingin menjawab apa. Karena pasti otak bocah dua tahun itu tidak akan mengerti dengan penjelasannya. Bisa-bisa Bella akan dibuat pusing sendiri oleh pertanyaan anaknya.
Sementara Azzam, langsung menarik ketiga anaknya untuk mendekat. Dia mengulum senyum sebelum menjawab pertanyaan putranya itu. "Abraham, istri itu orang yang mendampingi, Daddy. Seperti Mommy." jelasnya.
Jawaban Azzam membuat Adena dan Adelia berantusias, mereka berdua saling pandang dan tersenyum sumringah. "Kalo gitu Dena mau jadi istlinya Daddy, bial dampingi Daddy telus."
"Iya, Adel juga mau, kita jadi istli Daddy aja," timpal Adelia girang.
Membuat Azzam dan Bella kompak menepuk jidat mereka. Penjelasan Azzam diterima dengan salah kaprah.
Azam dan Bella akhirnya terkekeh, lalu menciumi ketiga anaknya secara bergilir.
Siang hari Bella di bantu oleh 3 babysitter untuk menyuapi ketiga anaknya makan. Saat itu Azam pun ikut mendampingi, memperhatikan Bella yang sesekali tertawa saat melihat anak-anaknya makan dengan belepotan.
"Mommy, mommy belum mau makan? makan yuk," ajak Azam, dia ingin Bella pun memiliki waktunya sendiri untuk me time, ataupun untuk mereka berdua memiliki quality time, agar tidak stress.
"Kita makan sama-sama saja disini, Daddy tunggu, biar aku yang ambil."
Bella sampai terkekeh ketika melihat porsi yang dibawa oleh sang suami. Seperti memindahkan meja makan ke ruang tengah ini.
"Daddy akan suapi mommy," ucap Azam dan Bella hanya mampu mengulum senyum dan menurut. Mereka berdua makan bersama melalui satu sendok.
"Nih lihat, makan itu yang rapi seperti mommy dan daddy," sombong Azam pada ketiga anaknya. Tapi Abraham, Adena dan Adelia tidak ada yang peduli.
Mereka makan bersama hingga semuanya tandas.
Jam 3 siang menjelang sore, Azzam dan Bella memutuskan untuk mengunjungi makam nenek Zahra. Karena mereka pun sudah lama tidak berkunjung ke sana. Apalagi kini sudah ada 3 malaikat kecil di tengah-tengah keluarga mereka. Rasanya pun ingun mengenalkan sang nenek pada anak-anak.
Azzam mengemudikan mobilnya sendiri, bersama sang istri dan ketiga anaknya. Sementara di mobil lain ada lima pengawal, dan 3 baby sitter untuk menjaga ketiga bocah yang kelewat aktif itu, agar tidak kabur saat mereka melakukan doa bersama.
Tak sampai lama, mereka semua akhirnya sampai di pemakaman umum di mana nenek Zahra dikebumikan. Sebelum keluar, Azzam menggulung lengan kemejanya sampai ke siku, lalu keluar dari mobilnya.
Dia mengitari kijang besi miliknya dan membukakan pintu untuk sang istri dan ketiga anaknya. Mereka semua berjalan dengan bergandengan tangan, hingga sampai di depan makam nenek Zahra.
Di sana Azzam dan Bella menatap gundukan tanah mendiang sang nenek. "Nek, Bella sudah menemukan ayah kandung Bella. Namanya ayah David, dan setahun lalu dia menyusul nenek ke surga. Apa kalian sudah bertemu? Dan Bella juga ingin bilang, kalau sekarang Bella sudah tidak membenci masa lalu Bella, tentang Bella yang bukan anak kandung papa Agra dan mama Sarah. Bahkan aku sekarang sangat rindu, nenek memanggilku Arra." Bella tersenyum kecil diantara hatinya yang terasa getir. Dua orang yang sangat dia sayangi sudah tiada.
"Bella bahagia jadi istri Abang, Nek." ucap Bella lagi.
Tak terasa air matanya luruh begitu saja. Namun, bukan tangis kecewa, melainkan tangis bahagia yang sungguh tiada tara.
Sementara di sampingnya, Azzam pun langsung merangkul sang istri, dia terus mengucapkan. "Maaf, maaf, dan maaf." Karena dia pernah membuat kesalahan yang begitu besar, karena hampir saja membuat keluarganya hancur di saat sang nenek pergi, sesuatu yang selalu membekas di dalam ingatan, meski sudah termaafkan.
Namun, sekarang Azzam begitu bersyukur, karena dia bisa meraih cinta Bella lagi. Membawa istrinya pulang, ke dalam istana yang sudah dia bangun. Dan membuat keluarganya utuh kembali.
Dan di sore yang cerah itu, Azzam benar-benar berjanji di depan makam nenek Zahra, bahwa dia akan menjaga keutuhan keluarga Malik, sampai kapanpun.
...Tamat....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kyaa!!! TAMAT!
Terima kasih untuk semua para pembaca, yang selalu like dan setia komen disetiap bab, kalian semua penyemangat ku sampai bisa di titik ini. Mewarnai novel ku yang jauh dari kata sempurna ini.
Terima kasih, terima kasih banyak.
I love you All 💕
Mohon maaf jika banyak typo dan alur yang membosankan 💕
Silahkan mampir dikarya ku yang on going