Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 35 - Ajakan Menikah



Seperti yang sudah disepakati oleh Bella dan Fhia, sebelum pulang ke Tanggerang Fhia akan mengunjungi anak-anak di Yayasan.


Fhia tidak jadi membeli kebutuhan anak-anak di Yayasan, kata ibu Najwa kebutuhan mereka masih ada banyak. Ada beberapa donatur baru di sana.


Dan selesai menemui anak-anak di Yayasan, akhirnya Fhia langsung pulang ke Tanggerang.


"Ben, kalau lelah tidak perlu mengantarku pulang, aku bisa pulang sendiri, kamu bisa menurunkan ku disini," ucap Fhia, saat mobil baru saja melaju keluar dari Yayasan.


Bersama dari pagi hingga siang begini, membuat hubungan Ben dan Fhia jadi dekat. Tidak ada kata canggung apalagi perdebatan seperti selama ini. Nyatanya pun mereka bisa memiliki hubungan yang baik, hubungan pertemanan.


"Yakin kamu mau pulang sendiri?" tanya Ben, seolah ingin memastikan.


"Iya, lagipula ini bukan pertama kalinya pulang ke rumah," jawab Fhia, ia mulai melepas seat belt saat Ben mengentikan mobilnya di pinggi jalan khusus pemberhentian.


Namun saat Fhia hendak turun ternyata pintunya masih terkunci.


"Kenapa di kunci? aku mau turun," ucap Fhia, ia kembali menoleh dan menatap Ben yang ternyata juga menatap dirinya.


"Siapa yang mengizinkanmu untuk turun?" tanya Ben pula, buat Fhia mengerutkan dahinya. Menatap bingung pada Ben, ia sungguh tak tau apa maksud ini semua.


Sampai akhirnya Ben mengucapkan satu kalimat yang membuat kedua netra Fhia membola.


"Menikahlah denganku."


"Jangan gila!" balas Fhia cepat.


Tapi Ben tidak tinggal diam, ia langsung menjelaskan duduk permasalahannya. Perkara kedua orang tua yang sama-sama meminta mereka untuk menikah. Bukan hanya orang tua Fhia yang ingin Fhia segera menikah, tapi kedua orang tua Ben juga menginginkan mereka menikah.


"Sorry, aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak ku cintai, juga tidak mencintaiku," balas Fhia gamblang. Lebih baik ia menunda menikah sampai umur berapapun asal tidak memiliki pernikahan seperti Bella dan Azam sebelum ini. Sebuah pernikahan yang membawa banyak masalah. Fhia tidak menginginkan itu. Fhia ingin pernikahannya membawa kebahagiaan bukan hanya untuk kedua orang tuanya, tapi juga untuknya.


"Apa kamu sudah mencintai seseorang?" tanya Ben dan Fhia menggelengkan kepala.


"Aku juga tidak, itu lebih mempermudahkan untuk kita belajar saling mencintai," timpal Ben pula percaya diri. Sering membuat dan membaca proposal tentang bisnis membuatnya mengerti tentang banyak peluang dan keuntungan, juga sebuah kegagalan. Dan tentang Fhia dan dirinya, Ben menilai banyak sekali keuntungan.


Fhia tidak langsung menjawab, ia malah menelan ludahnya dengan kasar. Ini terdengar bukan seperti ajakan pernikahan, tapi membuat sebuah kesepakatan.


"Aku tetap tidak mau, lagi pula aku tidak terburu-buru untuk menikah, yang mau buru-buru itu kedua orang tua ku," putus Fhia dan Ben langsung membola. Gagal sudah semua susunan rencana yang sudah tertata rapi di dalam otak Ben, menikah, saling belajar mencintai, mencintai, memiliki anak dan hidup bahagia.


Ternyata gadis ini memang sulit untuk diajak bernegosiasi.


"Jadi mau mu bagaimana?" tanya Ben.


"Aku masih mau menikah denganmu, aku sudah tidak ingin mencari-cari lagi seperti anak muda. Aku sudah cukup mengenalmu dan aku tau kamu perempuan yang baik," jelas Ben pula.


Selema ini selalu berurusan dengan Bella membuat Ben juga menyelediki Fhia. Gadis lulusan universitas ini tak hanya menjadi lulusan terbaik, ia juga memiliki hati yang lembut. Dia juga seorang yang sangat profesional sama seperti dirinya. Bukan hanya menjadi asisten pribadi Bella, Fhia juga merangkap jadi manajer dan mengurus semua kontrak tentang modelnya itu.


"Kenapa diam?" tanya Ben dan Fhia pun bingung menjawab apa. Ini semua malah terasa seperti mimpi. Tiba-tiba seorang pria me mengajaknya untuk menikah. Dan pria itu adalah Ben, pria yang selama ini selalu menariknya dan menahannya jika Azam ingin menemui Bella.


"Jangan buru-buru, aku tidak ingin pernikahanku seperti Azam dan Bella sebelum ini. Hanya melihat saja aku merasakan sakit hati, apa lagi jika harus mengalaminya juga, aku tidak mau," jawab Fhia jujur, memang itulah yang ia rasa. Perasaan takut pernikahan yang tidak didasari oleh cinta akan membuatnya terluka.


Dan Ben benar-benar bisa mengerti kenapa Fhia berpikir seperti itu. Selama ini memang ruang lingkup mereka hubungannya tidak baik. Membuat trauma tersendiri.


"Baiklah, maafkan aku jika aku membuatmu takut. Mungkin kita bisa memulai semuanya dulu untuk jadi sepasang kekasih, mau tidak?" tawar Ben pula.


Dan kembali membuat kedua netra Fhia membola, kini ucapan Ben malah semakin membuatnya geli. Namun tak ada salahnya memang jika memulai semuanya dari sini. Mereka memang sudah lama saling mengetahui, namun baru kini memiliki hubungan yang dekat. Selama ini pula Fhia tidak pernah melihat Ben yang dekat dengan wanita manapun.


"Baiklah," putus Fhia.


Dan Ben pun segera kembali memelajukan mobilnya. Degub jantung Ben berdebar, di hari pertama ia memiliki kekasih, ia langsung bertemu dengan kedua orang tua gadis ini.


Mengerikan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa hari kemudian, Azam menyelesaikan pekerjaannya lebih awal. Hanya butuh waktu 4 hari semua pekerjaannya selesai.


Seperti janjinya kepada Edward kemarin, sebelum kembali ke Indonesia mereka akan datang ke rumah Edward untuk makan siang bersama.


Kini Azam dan Bella pun sudah bersiap untuk pergi. Azam juga sudah menghubungi Edward mengatakan jika mereka akan datang. Edward menyambutnya dengan antusias. Ia yang sedang bekerja di kantornya pun langsung bergegas pulang.


Dan disinilah kini Azam dan Bella berdiri, persis di depan pintu rumah Edward.


Azam menekan Bell rumah itu dan tak berapa lama kemudian Edward sendirilah yang membukakannya.


"Ayo masuk," ajak Edward dengan antusias, ia membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Rumah mewah seperti mansion milik nenek Zahra.


Beberapa pelayan pun menyambut kedatangan mereka.


Tidak langsung menuju meja makan, mereka lebih dulu duduk di ruang tengah dan bertemu dengan kedua orang tua Edward.


Di sana mereka saling sapa berkenalan dan semuanya mengalir begitu saja.


"Bella sayang, kamu mirip sekali dengan kenalan tante, coba pakai hijab ya? pasti akan sangat mirip," ucap ibu Edward, Namira.


Ibu Namira bahkan langsung meminta salah satu pelayan untuk mengambilkan hijab di kamarnya. Lalu setelahnya menggunakan hijab itu untuk menutupi kepala Bella.


"Masya Allah, kamu mirip sekali dengan Diana, iya kan Pa?" tanya Namira pada sang suami, Andrew.


Dan pak Andrew pun menganggukkan kepalanya, lalu menunjukkan sebuah foto kepada Azam dan Edward. Sebuah foto wanita cantik yang begitu mirip dengan Bella.


Azam yang melihat foto itupun merasa berdenyut hatinya, mulai menerka-nerka banyak hal. Mulai menghubung-hubungkan tentang banyak kemungkinan.


Azam lantas melirik sang istri, dilihatnya Bella yang asik sendiri dengan hijabnya itu dan berbincang dengan tante Namira. Tidak sedikitpun penasaran dengan wanita yang dikatakan mirip dengannya.


"Tapi Diana sudah meninggal satu tahun yang lalu, andaikan dia bertemu denganmu pasti dia akan sangat bahagia sekali, dia pasti akan mengira jika kamu adalah anaknya," ucap Namira, membuat suasana siang yang ceria itu mendadak haru.


Bella, Azam dan Edward pun setia mendengarkan.


Kisah tentang seorang wanita paruh baya bernama Diana. Kisah yang membuat Azam jadi ingin banyak lebih tau tentang wanita itu.


Namun tidak dengan Bella, ia hanya mendengarkan saja dan sudah. Membuat Azam akhirnya bergerak sendiri untuk mencari tahu.


Sepulang dari rumah Edward, Azam langsung menghubungi paman Mark. Kembali meminta bantuan untuk menyelidiki seorang wanita bernama Diana.


Azam pun menceritakan semua yang ia tahu pada paman Mark.


"Baiklah Zam, satu bulan lagi aku akan menghubungimu."


"Terima kasih Paman."


Sambungan telepon itu terputus dan Azam langsung keluar dari dalam kamar mandi. Menemui sang istri yang kini jadi terus menggunakan hijab.


Bella sedang menatap dirinya sendiri di dalam cermin, duduk di meja rias yang sudah Azam sediakan untuknya.


"Abang suka tidak aku memakai hijab seperti ini?" tanya Bella saat tahu sang suami sudah kembali.


"Tidak," jawab Azam singkat.


Membuat Bella mencebik dan memutar badannya menatap sang suami.


"Jika di rumah aku lebih suka melihatmu tidak memakai apa-apa."


"Hih!" kesal Bella.