
"Sayang, Azura dan Julian melewatkan sarapan mereka, apa perlu aku bangunkan?" tanya Bella pada sang suami. Saat ini hari minggu, Azam libur dari pekerjaannya. Sehabis mengantar Arnold dan Edward pulang sampai di depan teras rumah, kini mereka semua kembali masuk.
Agatha, Alesha dan Ali memutuskan untuk melihat beberapa pekerja membereskan taman belakang setelah pesta semalam.
Para orang tua duduk di ruang tengah. Ibu Haura dan Acil Aida membawakan banyak makanan untuk dibawa pulang mama Agra nanti.
Sedangkan Azam dan Bella menuju kamarnya. Bersiap untuk pergi menemui Ryu dan Haruka di hotel.
"Tidak usah sayang, jangan ganggu mereka. Kamu seperti tidak pernah jadi pengantin baru saja," jawab Azam seraya menatap menggoda pada sang istri.
"Memang tidak pernah, malam pertama kita kamu tidak mau menyentuhku."
"Iya iya maaf, sini sekarang ku sentuh terus," jawab Azam cepat, kedua tangan nakalnya bahkan sudah menelusup masuk ke dalam baju sang istri padahal kini mereka belum sampai di dalam kamar, baru saja menginjakkan kaki di lantai 2.
"Abaang," keluh Bella, bagaimana jika sampai ada yang melihat.
Dan Azam tidak peduli, ia malah menggendong istrinya seperti pengantin baru.
"Sayang, bagaimana jika setelah bertemu dengan Ryu dan Haruka kita ke dokter kandungan?" tanya Azam, Bella membuka pintu kamar mereka lalu keduanya masuk dan Azam kembali menutupnya menggunakan salah satu kaki. Karena kedua tangannya masih sibuk menggendong sang istri.
"Bagaimana kalau aku belum hamil Bang?" tanya Bella, kedua tangannya bergelayut manja di pundak Azam.
"Bagaimana apa nya? kalau belum hamil ya buat lagi, buat terus sampai jadi," jawab Azam, lalu menciumi leher sang istri sampai membuat Belle merasa geli. Keduanya ambruk di atas ranjang dengan Azam yang menindih tubuh sang istri.
Azam membuat jarak hingga ia bisa menatap lekat wajah istrinya dari atas sini. Melihat secara rinci garis wajah Bella. Satu tangannya bahkan bergerak untuk mengelus dengan sayang wajah itu, menyentuh matanya, hidungnya, bibir dan berakhir di dagu.
"Aku sangat mencintaimu Bella, Arraku," desis Azam, nafas hangatnya bahkan menyapu lembut wajah Bella. Tiap kali mendengar Azam memanggilnya Arraku, hati Bella terus merasa berdebar seperti ini. Seolah kini ia benar-benar milik Azam. Pria yang begitu dicintainya, pria cinta pertamanya.
"Abang, yang dibawah sana udah besar, tapi sekarang Ryu dan Haruka sudah nunggu," ucap Bella seraya menggerak-gerakkan pinggulnya, hingga kedua inti itu saling bergesekan, Bella bahkan bisa merasakan dengan jelas jika senjata sang suami mulai membesar.
"Sudah tau mau pergi kenapa malah di pancing-pancing," kesal Azam, dengan segera ia bangkit dan membantu Bella untuk bangun. Istrinya itu terus terkekeh, membuatnya semakin merana karena harus menahan hasrat.
Bella dan Azam pun segera bersiap dan segera menuju hotel dimana Ryu dan Haruka menginap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kamar pengantin.
Perlahan Azura membuka matanya, merasa silau saat cahaya lampu mulai nampak di penglihatannya. Ia menoleh ke sisi kiri dan melihat dada polos suaminya yang kotak-kotak. Ingatannya tentang percintaan mereka semalam pun kembali datang.
Membuat Azura menggigit bibir bawahnya menahan malu. Bukan hanya Julian yang mengambil alih kendali tadi malam, setelah terbiasa dengan penyatuan itupun Azura naik ke atas tubuh suaminya, menggerakkan tubuhnya hingga membuat sang suami menggila.
Hanya membayangkannya pun membuat tubuh Azura kembali merinding.
Pergerakannya itu membuat Julian pun ikut terbangun.
"Sayang," lenguh Julian dengan suaranya yang parau. Matanya belum terbuka sempurna namun sudah kembali menarik Azura untuk masuk ke dalam dekapannya. Satu tangannya bahkan memeriksa apakah sang istri masih polos atau sudah memakai baju.
Pertama turun dan sampai di rerumputan itu lalu naik ke atas dua pegunungan, ternyata masih polos. Membuat Julian tersenyum meski dengan mata yang terpejam.
"Abang, geli," rengak Azura, karena kini Julian malah memainkan salah satu pucuk buahnya.
"Gemes!" jawab Julian, lalu terkekeh. Azura bahkan sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
Tak lama saling memeluk seperti itu, akhirnya Julian dan Azura bangun dari tidur mereka. Mandi bersama dan benar-benar hanya mandi lalu turun ke lantai 1 dan menemui semua keluarga.
Julian pun menyapa para orang tua, memberi salam hormatnya yang kini menjadi bagian dari keluarga malik. Setelah sarapan, Julian dan Azura juga pergi menuju hotel dimana Ryu dan Haruka menginap.
Rencananya sore nanti Ryu dan Haruka akan kembali ke jepang. Sebelum waktu itu tiba mereka semua berencana untuk berkumpul di Bar milik Arnold.
"Abang, mereka sudah ada di Bar, kita langsung ke sana saja," ucap Azura setelah membaca pesan di grup chat mereka.
Julian pun memutar kendali, tidak jadi ke hotel melainkan langsung menuju Bar milik Arnold.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Azam, Bella, Ryu, Haruka dan Arnold sudah berkumpul disini. Bar belum buka jadi di lantai 1 hanya mereka lah penghuninya.
Kedua pasangan itu duduk dan saling bertukar cerita, sementara Arnold melayani menyiapkan beberapa cemilan untuk mereka.
Arnold tidak ingin Bella dan Haruka mengganggu dapurnya, lebih senang jika kedua wanita itu duduk manis bersama suami-suaminya.
"Azura dan Julian akan kemari," ucap Haruka menggunakan bahasa Indonesia yang sangat fasih. Sesuai kesepakatan mereka saat kecil dulu, ketika di Indonesia mereka semua akan menggunakan bahasa Indonesia, dan ketika berada di Jepang mereka akan menggunakan bahasa Jepang.
Bertahun-tahun menjalin pertemanan, membuat Ryu dan Haruka pun begitu Fasih berbahasa Indonesia.
"Ku kira mereka tidak datang, saat kami pergi tadi mereka belum bangun," Bella yang menanggapi.
Lalu Arnold datang dengan banyak makanan di tangannya. Bella dan Haruka pun bergegas menyajikannya di meja mereka.
"Arnold memang yang terbaik!" ucap Haruka, saat melihat banyak makanan kesukaannya tersaji.
"Andai dulu kamu jadi istriku, setiap hari aku akan menyajikan makanan istimewa ini untukmu," jawab Arnold, berbangga hati.
Ryu dan Azam saling pandang, lalu mengulum senyum. Ingin meledek namum Iba, karena kini hanya Arnold lah yang belum memiliki pasangan.
"Kenapa kalian senyum-senyum seperti itu? meledekku!" kesal Arnold pada kedua pria menyebalkan itu.
Bella dan Haruka terkekeh, namun kedua wanita ini lebih fokus menikmati cemilan. Mulai memakannya satu per satu tanpa memperdulikan suami mereka.
Sebenarnya bukan tidak peduli, hanya sedang menjaga perasaan Arnold.
Hingga akhirnya Azura dan Julian pun tiba. Suasana di Bar ini makin ramai semenjak pengantin baru ini datang.
Julian dan Azura yang jadi bulan-bulanan. Apalagi saat mereka semua tak sengaja melihat bekas ciuman Julian di belakang telinga Azura. Terlihat sekali warna merah keabuan itu.
Makin tergelak lah mereka semua, sampai perut mereka sakit.
Puas tertawa kini mereka semua tinggal membicarakan yang serius-serius. Satu per satu menyampaikan apa keinginan mereka dan harapan mereka kelak.
Suasana berubah jadi haru dan penuh syukur hingga kini pertemanan mereka masih terjalin dengan baik.
Bahkan para wanita saling memeluk, kini rasanya mereka semua sudah seperti saudara.
"Aku sebenarnya benci pada kalian semua, kalian seperti mengkhianati ku," ucap Arnold.
Bagaimana tidak, semua teman-temannya kini menikah dan menyisahkan dia seorang diri.
"Harusnya kita dulu membuat larangan menikah sesama sahabat," timpal Julian lagi, membuat para pria terkekeh.
"Ayo kita buat aturan baru sekarang," balas Azam. Semua temannya pun diam mendengarkan.
"Aturan apa?" tanya Arnold.
"Aturan jangan menikahi adik sesama sahabat."
Dengan cepat Arnold segera melempar Azam dengan irisan buah apel di atas meja. Membuat tawa itu kembali menyelimuti mereka.
Asik berkumpul dan menikmati kebersamaan ini, mereka sampai tidak sadar jika waktu sudah sore. Azam, Bella, Julian, Azura dan Arnold lalu mengantar kepulangan Ryu dan Haruka hingga sampai di bandara.
Mereka berlima melambaikan tangan, pun Ryu dan Haruka juga yang memberikan ciuman jarak jauh saat mulai memasuki pintu keberangkatan.
Mereka berpisah dengan senyum yang terukir dibibir masing-masing.
"Ayo pulang," ucap Julian dan diangguki oleh semua teman-temannya.