Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 34 - Nasi Uduk



Indonesia.


Pagi ini Ben akan mengantarkan Fhia untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya di Tanggerang.


Kemarin Fhia sudah mengatakan pada Ben jika dia bisa pulang sendiri dan tidak perlu diantar-antar, namun Ben berkilah jika dia hanya menuruti perintah Tuan dan Nyonya nya. Maka mau tidak mau diapun harus melaksanakan perintah itu.


Akhirnya Fhia hanya bisa menghela nafas berat, memang paling susah bicara dengan Ben.


Dan pagi ini Ben benar-benar berdiri di depan pintu rumah kontrakannya.


"Ya ampun Ben, kan sudah ku bilang aku bisa pulang sendiri," keluh Fhia. Gadis ini semakin mengeluh panjang lebar saat Ben datang ke rumahnya terlalu pagi, jam setengah 7. Sementara dia baru saja bangun dari tidurnya.


Masih muka bantal.


"Jadi pulang tidak? kenapa kamu belum siap?" tanya Ben pula seraya memicingkan matanya melihat Fhia yang baru bangun tidur, sementara dia sudah rapi dan siap untuk pergi.


"Aku pulang ke rumah orang tuaku sendiri, kenapa harus buru-buru? 2 jam juga sampai," kesal Fhia, ia tidak mempersilahkan Ben untuk masuk ke dalam rumahnya namum membuka pintu itu lebar-lebar.


Dan tanpa diminta pun Ben masuk begitu saja dan duduk di ruang tamu.


"Nanti kalau ada tukang nasi uduk panggil ya, belikan aku, kalau kamu mau ya beli juga, aku mau mandi," ucap Fhia, ia meletakkan uang 50 ribu dan segera berlalu dari sana.


Sedangkan Ben menganga, menatap tak percaya gadis itu.


Nasi uduk, nasi uduk!


Ben langsung terkisap saat mendengar suara itu, seperti seorang peramal, tebakan Fhia sungguh tepat. Belum lama ia masuk dan tukang nasi uduk itu pun sampai.


Ben yang tidak memegang uang tunai pun mengambil uang pemberian Fhia lalu memanggil ibu-ibu penjual nasi uduk itu.


Ibu-ibu ini adalah penjual nasi uduk langganan Fhia.


"Masya Allah gantengnya? Mas nya calon suami mbak Fhia ya?" ucap Ibu itu seraya duduk di pinggiran teras.


Ben hanya tersenyum dan mengatakan jika ia beli 2 bungkus.


"Pasti seneng nih orang tuanya mbak Fhia kalau calonnya ganteng begini," ucap ibu lagi sambil mengambil 2 bungkus nasi uduk di dalam tas jinjingnya.


"Kok bisa ya mbak Fhia pinter banget cari calon suami, sebulan lalu orang tuanya minta mbak Fhia cepat nikah, eh sekarang langsung dapet jodohnya."


Ben yang diam saja jadi memahami situasi. Jadi tahu alasan Fhia saat itu tidak ikut ke Jepang. Ternyata Fhia diminta pulang untuk segera menikah.


Mengetahui itu Ben tiba-tiba tersenyum lebar.


"Terima kasih bude," ucap Ben, bukan terima kasih karena nasi uduknya, melainkan terima kasih atas rahasia yang sudah terbongkar ini.


"Sama-sama mas ganteng," balas ibu-ibu itu dan segera pergi dari sana setelah memberi uang kembalian, 30 ribu.


Ben kembali masuk dan duduk ditempat yang sama, tapi bedanya kini ia terus tersenyum sambil menunggu Fhia selesai mandi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Singapura.


Sehabis mandi bersama, Bella menemani sang suami menerjemahkan buku yang kini tinggal 2.


Rambut keduanya masih basah dan fokus menatap layar komputer. Bella tidak hanya menemani, namun membantu juga suaminya itu bekerja.


"Je t'aime (aku mencintaimu)" ucap Bella dalam bahasa prancis, berbicara seperti buku yang sedang ia terjemahkan.


"Je t'aime plus bébé (aku lebih mencintaimu sayang)" balas Azam, ia menjawab dengan senyum, namun tetap menatap kearah komputer.


Sementara Bella mengulum senyumnya, merasa lucu. Menghabiskan waktu bersama sang suami seperti ini rasanya jauh lebih berarti daripada ia terus bekerja.


Bella lantas bangkit untuk mengambil ponselnya di atas nakas dan berniat menghubungi Fhia, meminta Fhia untuk menjenguk anak-anak sebelum pulang ke rumah kedua orang tuanya.


Melihat sang istri yang tiba-tiba berlari, Azam pun lantas menatap istrinya itu, sebuah tatapan yang bela tahu artinya apa, Kenapa?


"Aku mau telepon Fhia Bang, sebelum dia pulang ke Tanggerang, aku minta dia untuk melihat anak-anak dulu," ucap Bella dan Azam paham betul anak-anak yang dimaksud adalah anak-anak di Yayasan sang istri.


Azam menganggukkan kepalanya, saat Bella mulai menelpon Azam kembali berputar dan menatap layar komputernya.


Sambungan telepon Bella terhubung, namun Fhia tak juga menjawab panggilannya.


"Apa dia belum bangun?" gumam Bella, masih terus mencoba menghubungi.


Dan di panggilan ke empat barulah Fhia menjawabnya.


"Ya Allah Fhia, kamu darimana?


"Mandi," jawab Fhia singkat, ia tersenyum kuda seolah Bella bisa melihat.


"Sebelum pulang ke Tanggerang kamu temui dulu anak-anak di Yayasan ya, periksa semua bayi dan kabari aku bagaimana keadaannya," ucap Bella langsung.


"Iya, uang yang kemarin langsung aku berikan pada ibu apa aku beli sendiri?" tanya Fhia pula, ia yang haus pun memutuskan untuk ke dapur.


"Hubungi dulu ibu Najwa, tanya bagaimana baiknya."


"Baiklah, nanti sebelum aku hubungi ibu Najwa, kamu kirim dulu ya, daftar obat-obat yang kita catat, itu kemarin di catatan ponselmu."


"Hem."


Bella dan Fhia terus berbincang, Fhia bahkan sampai tak sadar jika Ben sedang memperhatikannya. Rumah kontrakan Sonya tak terlalu banyak sekat. Dari ruang tamu pun bisa melihat sisi dapur.


Dan Ben hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar saat pagi-pagi begini ia sudah disuguhkan pemandangan seperti itu. Tubuh basah Fhia yang hanya dibalut handuk berwarna putih. Kaki jenjang yang basah itupun nampak jelas di penglihatannya.


Fantasinya pun sudah kemana-mana, ia ingin sekali menarik handuk itu dan melemparnya asal.


"Gadis ceroboh!" umpat Ben, namun ia terus memperhatikan Fhia sampai gadis itu kembali masuk ke dalam kamarnya.


Ben, langsung menghembuskan nafasnya lega. Pagi yang mendebarkan.


10 menit kemudian, Fhia keluar. Baru selangkah ia keluar dari pintunya Fhia langsung tersentak, baru sadar jika ada Ben di rumah ini, duduk di ruang tamu.


Ya Ampun! apa tadi Ben lihat? batinnya was-was, ingin bertanya pun malu akhirnya Fhia hanya diam saja seolah tidak terjadi apa-apa, walaupun hatinya begitu gugup dan malu sekaligus.


"Mana nasi uduk ku?" tanya Fhia, bibirnya mengerucut dan duduk di depan Ben.


"Ambil piring dulu, baru makan," titah Ben.


Belum lama pantatnya menyentuh sofa, Fhia kembali bangkit dan ke dapur. Mengambil 2 piring 2 sendok dan 2 air putih di dalam gelas. Lalu menyajikannya di atas meja.


Sedari tadi Fhia menunduk, malu untuk menatap Ben, rasanya tidak mungkin jika Ben tidak melihatnya saat Bella menelpon tadi.


Fhia hanya terus mengutuk dirinya sendiri di dalam hati.


Dan Ben yang melihat tingkah Fhia pun hanya mengulum senyum.


"Kamu persis pelayan di warung nasi uduk," ledek Ben, ia terkekeh dan makin terkekeh saat melihat Fhia yang langsung mengangkat wajah dan menatapnya tajam.


"Jangan marah-marah, ayo makan," ajak Ben pula.


Lagi-lagi Fhia hanya bisa menurut, pagi itu mereka sarapan nasi uduk bersama.