
Alesha terperangah, menatap tidak percaya dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh Abang Arnold.
raut wajah abang arnol memang nampak serius tapi ucapannya seperti main-main.
Bagaimana bisa Abang arnol mengucapkan kata suka dengan semudah itu?
"Abang jangan mempermainkan aku, aku tahu Abang hanya main-main," balas alesha, sekuat tenaga dia mencoba menarik tangannya agar terlepas dari cengkraman Arnold, tapi sayang Arnold ingin melepaskan cengkramannya itu.
"Jangan sok tahu, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku apa lagi tentang perasaan."
Lagi, keduanya hanya terdiam. saling tatap dengan tatapan yang dalam.
Alesha mencoba mencari kebohongan dari sorot mata itu. Namun bukan kebohongan yang ia temukan malah hatinya yang semakin berdebar. Alesha merasa bodoh karena hanya ditatap seperti ini sudah membuat dia jatuh.
Jatuh cinta pada orang yang baginya salah.
"Aku tau kamu memiliki rasa yang sama denganku, apa yang membuatmu ragu?" tanya Arnold. Dia naik 2 anak tangga hingga kini berada di tempat yang sejajar.
Alesha menurunkan pandangannya, tidak ingin menatap kedua netra yang terus menatapnya lekat.
"Apa tentang foto-foto yang kamu lihat di komputerku?" tebak Arnold.
Arnold merasa perubahan sikap dingin Alesha terjadi setelah dia melihat foto-foto di komputernya. Arnold adalah betul jika di sana terdapat banyak foto Bella dan Alesha pasti salah paham akan hal itu.
Namun lagi-lagi Alesha hanya diam namun Arnold menganggap jika diamnya itu adalah jawaban IYA dari Alesha.
"Itu hanya foto bukan isi hatiku," jelas Arnold.
"Jangan suka menilaiku sesuka hatimu, kamu bisa menanyakan apapun tentang aku dan aku akan menjawabnya dengan jelas."
Arnold terus saja bicara sedangkan alesha tetap setia menutup mulutnya rapat. namun di sudut hati kecilnya Alesa selalu membenarkan kan ucapkan Arnold.
Tentang foto-foto Mbak Bella yang membuatnya tidak nyaman, juga tentang pikirannya yang selalu menduga-duga tentang Arnold.
"Abang bohong, mana mungkin Abang menyukaiku," cicit Alesha. kini ia mulai tenang, tidak mencoba melepaskan diri dari cengkraman Arnold.
"Aku juga tidak tahu, hanya saja saat sedang bersamamu seperti ini jantungku berdebar tidak biasa."
Setelah mengatakan itu Arnold membawa tangan alesha untuk menyentuh dadanya. Dan benar seperti yang diucapkan oleh Arnold, Alesha bisa merasakan dengan jelas jantung itu berdegup dengan kencang, degup yang sama seperti yang ia rasakan saat ini.
"Ini bukan cinta ini artinya Abang mesum," seloroh Alesha dengan bibir mencebik. Dia masih belum percaya jika Abang karena benar-benar menyukainya.
Dan saat Arnold lengah Alesha segera menarik tangannya dan berlari menaiki anak tangga menuju lantai 3. Melihat itu Arnold merasa seperti di bodoh-bodohi anak kecil, maka dengan langkah lebar dia kembali mencekal tangan Alesha.
"Mesum itu seperti ini," ucap Arnold.
Dengan gerakan cepat Arnold mendorong Alesha hingga terpojok di dinding, lalu menahan tengkuk gadis ini dan menjatuhkan sebuah ciuman dalam di bibir ranum Alesha.
Alesha terkejut, kedua matanya melotot tidak menyangka dengan apa yang terjadi. Dia membatu merasakan bibirnya dilumaati oleh Abang Arnold.
Sampai akhirnya suara teriakan seorang gadis membuat keduanya sadar dan secepat kilat melepaskan pagutan itu.
"AA!!" teriak Agatha. Dia sungguh terkejut saat pertama kali membuka pintu yang dilihatnya adalah adegan senonoh itu.
Abang Arnold dan Alesha berciuman dengan begitu ganas di matanya.
"Abang! Alesha! kalian sudah melakukan dosa!" celetuk Agatha tanpa sadar. Arnold menahan tawanya mendengar itu, lain halnya dengan Alesha yang mendadak gugup dan takut.
"Tidak tidak tidak! kamu salah paham Agatha!" Alesha coba menjelaskan, tidak ingin sang sepupu berpikiran buruk tentang dirinya. Apalagi jika nanti sampai terceplos mengucapkan hal ini kepada Abang Azam dan Mbak Bella.
Bisa-bisa habis riwayatnya, apalagi kalau sampai Papa Agra dan mama Sarah tahu. Aa! hanya membayangkannya saja sudah membuat Alesha merasa takut.
"Abang!" keluh Alesha, kini dia Hampir menangis.
Dan Arnold terkekeh pelan, lalu mengusap puncak kepala Alesha dengan sayang, meminta wanitanya untuk tenang.
"Ayo masuk!" titah Arnold pada kedua gadis itu.
Alesha dan Agatha mengekori langka Arnold yang masuk ke dalam ruangan. Sama-sama duduk di sofa ruangan itu.
Disana Arnold menjelaskan kepada Agatha bahwa dia dan Alesha kini adalah sepasang kekasih. Alesha yang mendengar itu tidak membantah apa-apa, namun mulutnya mencebik merasa kesal.
Arnold juga meminta kepada Agatha untuk merahasiakan tentang ciuman tadi. Arnold berjanji bahwa dia akan bertanggung jawab, menikahi alesha setelah wanitanya lulus kuliah.
Dan mendengar itu Agatha bernafas lega, seolah merasa tenang ketika Arnold bersedia bertanggung jawab kepada sang sepupu.
"Jadi jangan beritahu siapapun tentang ciuman tadi, mengerti?"
"Iya Bang, aku ngerti," jawab Agatha patuh.
Tapi Alesha masih saja merasa was-was, masih merasa takut jika suatu saat nanti Agatha terceplos mengucapkan tentang ciumannya dengan Arnold.
Tapi ya sudahlah, semuanya memang sudah terjadi.
Siang itu semuanya beres, Arnold dan Alesha resmi menjadi sepasang kekasih, juga Agatha yang sudah berjanji untuk menutup mulut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore hari Azzam datang menjemput kedua adiknya di cafe Arnold.
Arnold pun ikut mengantar Alesha dan Agatha untuk menemui sang kakak.
Melihat mereka ber-3 datang menghampiri dirinya, Azzam menatap dengan curiga. Pasalnya ada gelagat aneh yang ditunjukkan oleh Agatha, alesha dan Arnold.
Agatha yang menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan, Alesha yang menunduk dengan raut wajah yang nampak takut, Dan Arnol yang berjalan dengan percaya diri dengan mulutnya yang terus mengukir senyum.
Benar-benar terlihat mencurigakan, Azzam yakin jika Arnold sudah mengeksploitasi adik-adiknya. Berbuat semena-mena hingga Alesa dan Agatha tertekan seperti itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Azam pada Ketiga orang itu.
Dan arnol yang menjawab dengan gayanya yang slengean.
"Terjadi apa? tidak terjadi apa-apa kok."
"Aku tidak bertanya denganmu aku bertanya dengan Alesha dan Agatha," balas Azam ketus.
"Agatha!" panggil Azam dengan suaranya yang mulai tinggi, dan Agatha langsung bergidik merasa takut. Bahkan keringat dingin mulai kembali membasahi kedua tangan Agatha yang kini menutup mulutnya rapat.
Azam tahu betul, di antara mereka bertiga hanya Agatha lah yang tidak akan bisa berbohong.
Sementara Alesha langsung mendadak gugup ketika nama Agatha disebut. Dia sudah bisa menebak Apa yang akan terjadi selanjutnya, kehancuran hidupnya sendiri.
"Apa yang terjadi? Katakan Sejujurnya kepada Abang!" tanya Azam pada Agatha.
Dan Agatha pun mulai ragu antara menceritakan semua yang terjadi atau tetap menutupnya rapat-rapat.
Tapi apapun itu dia tidak bisa diam Agatha harus tetap buka suara.
"Sebenarnya ...."