Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 90 - Malam Panjang



Happy reading.


...💕...


Di dalam kamar mandi Fhia memegang jantungnya yang berdebar, bahkan belum apa-apa nafasnya sudah memburu seolah baru saja dia habis berlari.


Padahal dia hanya merasa gugup.


Fhia membawa dua baju ganti sekaligus, satu baju tidur biasa dan satunya lagi adalah sebuah lingeri.


"Aku pakai yang mana ya?" gumam Fhia diantara kebingungannya. Bella mengatakan jika malam pertama adalah malam yang tidak bisa diulang dilain hari.


Malam pertama hanya akan ada malam ini dan bukan malam-malam berikutnya.


Malam yang paling spesial bagi sepasang pengantin baru. Bella pernah kehilangan momen berharga itu dan tidak ingin Fhia pun mengalaminya juga. Karena itulah sebagai hadiah pernikahan nya bila memberikan sebuah Lingerie yang begitu cantik dan seksi untuk Fhia.


Ingin Fhia memakainya dan membuat kenangan indah di malam pertama mereka.


Ingat semua pesan Bella itu akhirnya Fhia memantapkan diri untuk memilih memakai lingerie daripada baju tidur biasanya.


Membuang semua rasa malunya dan mulai memakai kain tipis ini. kain yang tidak benar-benar menutup tubuhnya, transparan yang bahkan bisa langsung melihat tiap inci tubuhnya.


"Its oke Fhia, di depan itu suamimu bukan pria brengsek," ucap Fhia meyakinkan diri sendiri sebelum akhirnya dia berjalan ke arah pintu untuk keluar.


Membukanya secara perlahan dengan tubuhnya yang mulai gemetar.


Ben yang masih setia duduk di tepi ranjang pun terperangah saat melihat pintu kamar mandi itu terbuka. Dilihatnya Fhia yang menggunakan kain tipis dan pendek itu. bahkan kaki jenjangnya seperti tak berpenutup.


Jakun di leher Ben naik turun seirama dengan langkah kaki Fhia yang berjalan mendekati dirinya.


Hingga akhirnya ia berdiri tepat di hadapan Ben. Dengan tangannya yang bergetar, Fhia menggantungkan kedua tangannya di pundak sang suami.


Dan Ben sungguh tidak menyangka Fhia berani melakukan itu. Andai dia bisa bersorak, pasti saat ini dia akan berjingkrak kegirangan, namun rasa membuncah itu tak bisa dia tunjukkan karena kalah dengan keterkejutan.


Tapi tau jika Fhia pun gugup, Ben pun mulai mengambil alih kendali. Dia menarik pinggang sang kekasih, hingga bersandar di tubuhnya. Berada diantara kedua kakinya yang terbuka.


"You look so gorgeous," ucap Ben.


Tatapan mereka bertemu, tatapan penuh damba. Hingga akhirnya, Ben sedikit meninggikan kepalanya dan menjangkau bibir sang istri. Melumaatnya lembut lengkap dengan permainan lidah.


Gugup yang tadi mendera Fhia kini melebur dengan hasrat yang mulai muncul. Sampai akhirnya dia mendorong tubuh Ben untuk jatuh diatas ranjang, ditindihnya dengan kedua dada yang menggantung. Membuat Ben tak bisa untuk bersikap lembut, dengan segera dia menaikkan tempo permainnya, hingga gaun itu seluruhnya lepas dari tubuh sang istri.


Ben mendominasi, memulai penyatuan dengan perlahan, lalu kembali bergerak dengan cepat ketika sudah saling terbiasa. Keduanya bertukar lenguh dan peluh, bahkan saling bersahut desaah.


Benar kata Ben, malam ini jadi malam yang panjang untuk mereka berdua. Bahkan di pertiga malam, mereka masih beradu dalam hentakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berlalu.


Matahari mulai menyapa dengan malu-malu, menyusup masuk diantara sela-sela tirai yang menutupi jendela kaca.


Fhia menggeliat, merasakan tubuhnya yang remuk redam. Hingga akhirnya dia membuka mata dan malihat Ben di sampingnya.


Deg! Jatung Fhia bergemuruh, saat ternyata Ben pun sedang menatapi dirinya.


Ternyata Ben sudah bangun lebih dulu, dia lebih dulu memandangi wajah sang istri yang tertidur sambil bibirnya tersenyum kecil.


Cantik sekali.


"Mas sudah bangun," ucap Fhia dengan suaranya yang parau, khas orang bangun tidur.


"Hem, kamu tidur sambil senyum-senyum, apa kamu memimpikan tentang semalam?" tanya Ben dengan mengulum senyum.


Percintaan mereka semalam memang sungguh luar biasa. Selamanya Ben tidak akan pernah bisa melupakan malam pertama mereka itu.


Malam panas tanpa ada celah. Karena selalu ada penyatuan yang menyatukan mereka.


"Mas bahagia?" tanya Fhia pula saat melihat sang suami yang mengulum senyum. Bukannya menjawab pertanyaan Ben, Fhia malah mengajukan pertanyaan pula.


"Alhamdulilah kalau Mas bahagia, karena aku pun juga merasa sangat bahagia," balas Fhia, seraya memeluk suaminya erat.


Di dalam hatinya dia terus mengucapkan kata terima kasih kepada Bella. Andai dia tidak mendengarkan sahabatnya itu dia tak akan punya keberanian untuk melayani suaminya lebih dulu.


Dia pasti akan memilih diam dan menyerahkan semua kendalinya pada Ben.


Tapi untunglah itu tidak terjadi, karena semalam pun dia banyak mengambil peran. Bahkan tak canggung kala menari diatas tubuh suaminya.


"Ayo kita mandi," ajak Ben.


"Mandi sama-sama ya?" tanya Fhia pula dengan kekehan yang dia tahan.


"Tentu saja," balas Ben yakin, lalu tanpa babibu Ben segera bangkit dari tidurnya. Memperlihatkan tubuhnya yang polos dan inti menegang pada sang istri.


Fhia menjerit, menutupi matanya dengan kedua tangan.


Dan Ben pun terkekeh, lalu dengan segera menggendong tubuh sang istri, membawa Fhia masuk ke dalam kamar mandi.


Dan ... penyatuan itu terjadi lagi, desahaan diantara gemericik air.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Hotel.


Azam dan Bella hari ini akan kembali ke Jakarta. Sebelumnya mereka lebih dulu sarapan bersama dengan para orang tua.


"Tdak usah terburu-buru, kalau lelah istirahat saja, kalian bisa mengistirahatkan tubuh sebentar di hotel saat perjalanan pulang nanti," ucap mama Sarah.


Mereka semua sudah selesai sarapan, namun masih sama-sama duduk di meja makan.


"Iya Ma." Azam yang menjawab.


Drt drt drt


Ponsel Bella di atas meja bergetar, sang pemilik pun langsung mengambil dan melihat ada panggilan dari siapa, ternyata Fhia.


"Fhia sayang," ucap Bella, memberi tahu sang suami yang menatapnya penuh tanda tanya.


Bella pun lantas langsung menjawab panggilan itu, Fhia bertanya apakah Bella dan Azam sudah pergi dari hotel.


"Belum, tidak usah datang kesini, aku tau kamu pasti lelah," jawab Bella, dia tahu pasti Fhia dan Ben berniat datang kesini dan melihat kepulangan mereka ke Jakarta.


"Aku tidak lelah, aku akan tetap pergi kesana. Aku ingin memelukmu, jadi jangan pergi dulu," balas Fhia.


Lalu dengan sebelah pihak Fhia langsung memutuskan sambungan telepon itu. Bella mendengus kesal, namun setelahnya dia tersenyum kecil.


"Fhia dan Ben akan datang kesini?" tanya ayah Adam dan Bella menganggukkan kepalanya.


Selesai sarapan dan berbincang sejenak akhirnya mereka semua kembali ke kamar, mereka semua tidak langsung kembali ke kamarnya masing-masing tapi semuanya menuju kamar Bella dan Azam.


Membantu anak dan menantunya ini untuk bersiap pulang. Dirasa sudah siap mereka semua pun turun menuju basement hotel, di sana mereka bertemu dengan Ben dan Fhia yang baru saja tiba.


Bella dan Fhia saling memeluk erat sebelum perpisahan itu terjadi, sebuah pemandangan yang terlihat begitu indah di mata semua orang.


"Seminggu lagi kamu baru ke Jakarta?"


"Iya."


"Aku akan menunggumu," balas Bella.


Setelahnya mereka benar-benar berpisah, semua orang melambai melihat kepergian Azzam dan Bella yang mulai keluar dari hotel.


...💕...


Jangan lupa like dan komen ya💕