Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 87 - Pernikahan Ben dan Fhia



Happy reading


...💕...


"Kamu cantik," ucap Arnold pada sang kekasih.


Alesha yang dipuji pun mengulum senyumnya, sedikit menunduk menutupi pipinya yang merona. Sentuhan tangan make up artis membuat wajahnya nampak berbeda, bukan pengantin namun riasanya cukup membuatnya terlihat lain.


Lebih dewasa dan mempesona.


Sang supir belum masuk ke dalam mobil karena masih ada breafing sejenak dari pemimpin tim keamanan keluarga Malik.


Hal itu dimanfaatkan Arnold, untuk menyentuh dagu Alesha, membuat wajah mereka saling tatap dan akhirnya memberikan sebuah kecupan singkat di bibir ranum itu.


Alesha tak menolaknya, karena ternyata dia pun rindu akan sentuhan sang kekasih.


"Kamu tidak marah?" tanya Arnold, dia bahkan melihat Alesha yang menutup matanya.


Dan dilihatnya Alesha yang menggelengkan kepala. Lalu mengikis jarak dan duduk begitu menempel pada sang kekasih.


"Jangan tanya begitu, aku malu untuk menjawabnya," jawab Alesha, ia memalingkah wajahnya lagi namun dengan tubuhnya yang begitu dekat pada sang kekasih, bahkan tak ada jarak.


Arnold lantas memeluk pinggang Alesha, mendekapnya penuh dengan cinta.


Lalu tak lama setelahnya supir mereka masuk ke dalam mobil dan iring-iringan kendaraan keluarga Malik pun berlangsung.


15 menit dalam perjalanan dan mereka semua sampai di tempat acara. Kedatangan keluarga Malik di acara pernikahan Ben dan Fhia sudah jadi buah bibir, bahkan beberapa wartawan sudah sedari hotel tadi mengambil gambar kekompakkan keluarga itu.


Temat parkir keluarga Malik sudah disediakan khusus. Setelah semuanya terparkir sempura, para supir dan tim keamanan mulai berkomando, lalu memerintahkan tuan dan nyonya nya untuk turun dari dalam mobil.


Suasana sudah steril, hingga mereka semua bisa masuk ke dalam acara tanpa gangguan sendikitpun.



Mereka lantas duduk di kursi yang sudah disediakan.



Pesta pernikahan yang diadakan di halaman rumah Fhia.


"Aku ingin masuk menemui Fhia, tapi tidak enak dengan keluarganya, bagaimana ini Bang?" bisik Bella pada sang suami.


Azam yang tahu persis bagaimana kedekatan istrinya dan Fhia pun mulai memikirkan cara agar Bella bisa bertemu dengan Fhia sebelum ijab kabul di mulai.


Baru hendak beranjak dari duduknya, salah satu pengawal mendatangi Azam dan membisikkan sesuatu.


"Tuan, Nyonya Bella dan Nyonya Azura dimohon untuk masuk ke dalam, pengantin wanita menunggu," bisik pengawal itu, membuat Azam langsung tersenyum. Keinginan sang istri langsung dikabulkan oleh Tuhan.


Azam mengangguk kecil dan pengawal itu pun segera berlalu.


Meninggalkan salah satu wanita dari keluarga Fhia untuk membawa Bella dan Azura masuk.


"Aku pergi dulu Bang."


"Iya sayang," sahut Azam. Lalu melihat istrinya masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah sana Bella dan Zura bertemu dengan banyak keluarga Fhia, semua keluarga Fhia menyambut mereka dengan begitu ramah dan hangat. sampai akhirnya Bella dan Fhia sampai di kamar pengantin.


amereka berdua dipersilahkan masuk dan setelah itu orang yang mengantar mereka pergi.


"Bella! Zura!!" pekik Fhia dengan kegirangan. Dia sungguh terharu karena mendengar cerita dari keluarganya bahwa semua keluarga malik datang ke pernikahannya.


"Masya Allah cantiknya Apa benar ini kamu?" tanya Bella seraya menghampiri.


30 menit lagi acara ijab qabul akan dimulai, Fhia pun sudah selesai didandani kini dia hanya duduk cantik di dalam ruangannya dan menunggu waktu ijab kabul tiba.


Selama ini Fhia bukanlah tipe seorang wanita yang suka berdandan, jadi ketika wajahnya dipoles dengan banyak make-up seperti saat ini dia akan terlihat sangat berbeda, sangat cantik.


"Apa terlihat aneh?"


"Tidak Kamu sangat cantik," balas Azura. Azura dan Bella bahkan langsung memeluk Fhia saking kagum melihat kecantikan sang sahabat, juga merasa haru karena kini mereka akan melihat Fhia menikah.


Waktu yang ditunggu akhirnya tiba, acara ijab kabul akan segera dimulai. Ben dan para orang tua sudah menunggu di meja sana, sementara Fhia berjalan menghampiri dengan Bella dan Azura yang mendampingi.


Melihat calon istrinya berjalan pelan datang kemari membuat Ben terpana. dia sampai tak berkedip dengan bibirnya yang mengukir senyum. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera mengucapkan kalimat ijab kabul dan membuat Fhia sah menjadi istrinya.


Hingga Fhia berhasil duduk di sampingnya Ben masih juga menatapnya lekat.


Suara pak penghulu yang akan memulai acara membuyarkan lamunan Ben, tatapannya putus namun senyum di bibirnya tetap terukir bahkan semakin lebar.


Kalimat sakral penuh makna itu akhirnya diucapkan Ben dengan lantang, bahwa dia mempersunting Fhia dihadapan Allah dan para saksi.


Seketika semua orang mengucapkan kata Alhamdulillah ketika Ben menyelesaikan ucapannya dan dinyatakan SAH. Mendadak suasana jadi haru, apalagi ketika doa-doa mulai dilantunkan untuk pasangan pengantin baru.


Hingga akhirnya Ben mencium kening sang istri, dan Fhia mencium punggung tangan kanan suaminya.


Saat itu juga semua orang yang melihat ikut mengukir senyum.


Selesai serangkaian acara sungkeman dan yang lainnya, kini para tamu undangan yang mengikuti ijab kabul di persilahkan untuk menikmati jamuan. Sebuah prasmanan dengan banyak hidangan disana.


Mengantri menunggu giliran untuk sampai di meja makanan. Keluarga Malik pun ikut mengantri, mereka sesekali saling tertawa ketika bertukar cerita.


Ibu Haura pun jadi ingat acil Sanja, dulu saat di desa Parupay biasanya dia akan pergi ke undangan acara pernikahan dengan istri amang Shakir itu.


Ibu Haura membisikkan sesuatu pada suaminya, meminta ayah Adam untuk mengajaknya pergi ke Malaysia. Bersama dengan Luna dan Edgar sekaligus.


"Baiklah sayang, apapun yang kamu inginkan akan aku kabulkan," jawab Ayah Adam dengan berbisik pula.


Sementara di bagian belakang, Edward juga terus berbisil-bisik dengan Agatha, membuat rencana kencan mereka saat tiba di Jakarta nanti, sebelum Edward kembali ke Singapura.


"Nanti kita pergi berdua saja, jangan ajak Alesha."


"Padahal kalau pergi sama-sama bakal seru," jawab Agatha dengan berbisik pula. Saat Agatha membisikkan kata-kata itu Edward dengan usilnya mendekatkan pipinya sendiri hingga tanpa sengaja Agatha mengecup pipi sang kekasih.


Sengan cepat Agatha menutup bibirnya lalu melirik sekitar takut ada yang melihat. Tapi untunglah semua orang sibuk dengan urusannya dan pembicaraannya masing-masing.


Merasa kesal Agatha pun mencubit perut kekasihnya hingga Edward gaduh kesakitan.


"Aduh, maaf sayang, kamu yang menciumku kenapa aku yang dicubit," kilah Edward. Mereka masih saja bisik-bisik.


"Abang genit, bagaimana kalau ayah dan ibu lihat."


"Jadi kalau ayah dan ibu tidak lihat, boleh?"


"Abang!"


Lagi-lagi Agatha hendak mencubit perut Edward, namun kini segera ditahan hingga berakhir tangan keduanya yang saling menggenggam. Genggaman yang tersembunyi diantara tubuh keduanya.


...💕...


Jangan lupa like dan komen 💕