Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 59 - Tentang Karma



Istirahat makan siang Azzam benar-benar datang ke cafe Arnold. Dia ingin melihat secara langsung kedua adiknya yang sedang magang di sini.


Setelah memarkirkan mobilnya Azam segera berjalan dengan langkah cepat masuk ke dalam Cafe.


Mengedarkan pandangannya mencari keberadaan alesha dan Agatha. tapi di lantai 1 Azam tidak melihat keberadaan kedua adiknya itu.


"Mungkin di ruangan Arnold," tebak Azzam lalu kembali melanjutkan langkah naik ke lantai 3, lantai dimana tempat para pengurus Cafe ini berada.


Dan benar seperti tebakan Azzam, kedua adiknya itu berada diruangan arnold. Saat sampai di depan pintu ruangan arnold, Azzam memutuskan untuk tidak langsung masuk. Dia masih menguping mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh ketiga orang itu di dalam sana.


Dan Azam mengukir senyum tipis saat mendengar ternyata Arnold benar-benar mengajari adik-adiknya dengan baik. padahal dari kemarin dia sudah berburuk sangka pada sahabatnya itu. Mengira Arnold pasti akan curi-curi kesempatan untuk menggoda kedua adiknya.


"Salah siapa jadi jomblo akut, aku jadi berpikir seperti itu," gumam Azzam lalu mulai mengetuk pintu ruangan Arnold.


Azam mengucapkan salam lalu kemudian masuk.


Aesha, Agatha dan Arnold pun sontak menoleh ke arah pintu yang terbuka melihat siapa yang datang.


Saat tahu Azzam yang datang Arnold langsung mendengus kesal, lain halnya dengan Alesha dan Agatha yang berjingkrak senang. Merasa akhirnya kebebasan itu akan mereka dapat, karena sedari tadi pagi hingga siang ini mereka terus berada di ruangan ini dan mendengarkan semua penjelasan Arnold yang membosankan.


"Alhamdulillah," ucap Alesha dan Agatha kompak, bahkan sampai mengusap wajahnya menggunakan kedua tangan seolah mensyukuri kedatangan sang kakak.


Dan Arnold yang melihat tingkah kedua Gadis itu langsung menjitak kepala Agatha dan Alesha bergantian.


Tak Tak!


"Aduh," keluh Alesha dan Agatha bersamaan.


Azam terkekeh dan menghampiri semuanya.


"Ini sudah istirahat makan siang, kenapa kalian masih disini?" tanya Azzam, itulah juga pertanyaan yang dari tadi tidak berani Agatha dan Alesha tanyakan.


"Untuk apa istirahat makan siang? lihatlah di meja ku, sudah penuh dengan makanan yang mereka habiskan," jawab Arnold dengan menggerutu.


Disini bukan dia yang menganiaya kedua anak ini tapi dialah yang dianiaya oleh Alesha dan Agatha, dilatih kesabarannya.


Agatha dan alesha saling pandang selalu sama-sama mencebik. Sementara Azzam memperhatikan meja itu dan benar saja sudah banyak piring kosong disana.


Azam menggelengkan kepalanya dengan bibir yang terus tersenyum, menatap tidak percaya pada kelakuan kedua adik perempuannya.


Setelah itu Azzam mengajak Arnold untuk makan siang berdua di lantai 2. Sementara Alesha dan Agatha tetap di ruangan ini untuk beristirahat sejenak.


Setelah Azzam dan Arnold keluar, akhirnya Alesa dan Agatha bisa bernafas lega. kedua gadis ini bahkan langsung berlari menuju sofa dan merebahkan tubuhnya di sana.


"Haduh enaknyaa, pungungku rasanya lurus lagi," ucap Agatha dan diangguki oleh Alesha, setuju.


"Harusnya kemarin kita menolak untuk magang di sini, Abang Arnold lebih menyebalkan daripada Pak Bambang," gerutu Alesha.


Pak Bambang adalah dosen statistik mereka.


"Tapi sudah terlanjur basah Lesha, kita tidak bisa mundur lagi dan aku tidak mau mengulang pelajaran ini lagi. Sungguh membosankan, memusingkan buat aku mual, huwek!" keluh Agatha pula dan alesha tertawa keras melihat tingkah sang sepupu.


"Pijat punggungku, nanti aku akan pijat punggung mu juga," usul Alesha dan Agatha setuju. Setelah merebahkan tubuhnya di atas sofa kini mereka kembali duduk dan saling pijat-pijatan.


Di lantai 2 Cafe milik Arnold.


Azzam dan Arnold sudah mulai makan siang bersama. Disana Arnold tidak bisa diam, dia terus menggerutu mengungkapkan semua kekesalannya pada kedua adik Azam itu.


Agatha sangat polos dibentak sedikit dia akan langsung menangis, sementara Alesha sangat menyebalkan apapun ucapannya akan selalu dijawab oleh anak itu.


"Bagaimana kamu bisa punya adik-adik yang menyebalkan seperti itu? selama ini aku kira mereka gadis yang manis-manis, penurut dan mudah dibodohi.


Arnold langsung mendengus kesal saat melihat Azam yang menatapnya tajam, tidak terima adiknya dikata-katain. padahal kan dia hanya bercanda, meski sedikit mengandung keseriusan.


"Apa benar Edward sudah melamar Agatha?" tanya arnold mencoba mengalihkan pembicaraan, agar Azzam tidak terus menatapnya tajam.


"Iya, dia sudah menemui Ayah Adam sebelum pulang ke Singapura kemarin. Tapi ayah Adam tidak menerimanya, karena Agatha masih terlalu kecil untuk membicarakan tentang pernikahan. Ayah juga tidak mau ada jodoh-jodohan lagi seperti aku dan Bella ... "


"Lalu?" putus Arnold yang semakin penasaran.


"Kata ibu Haura memang tidak ada lamaran itu, tapi Edward sudah mengatakan kesungguhannya kepada Agatha dan sepertinya mereka membuat kesepakatan untuk nanti saat waktunya tiba mereka akan menikah."


"Wah wah wah, aku tidak menyangka Edward akan seyakin itu. Bisa jadi malah dia yang akan menemukan wanita lain di Singapura sana," balas Arnold, menerka-nerka banyak kemungkinan yang akan terjadi.


"Agatha itu sangat polos, semoga saja Edward tidak mempermainkannya," timpal Arnold lagi dan Azam pun menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana jika ternyata Edward mempermainkan Agatha? ternyata dia hanya membalaskan dendam padaku tentang Bella melalui Agatha?" tanya Azam bertubi, setelah bicara dengan Arnold dia malah terpikirkan akan hal itu.


Belum lagi saat Azam mengingat kesalahan yang sudah ia perbuat di masa lalu. Yang mempermainkan Bella dan Raya sekaligus, kini perasaan takut Agatha akan dipermainkan pun mulai ia rasakan.


Seperti sebuah Karma yang selalu orang-orang bilang.


Dan Arnold tidak langsung menjawab, ia kembali menerka-nerka banyak kemungkinan.


"Sebaiknya kamu nasehati Agatha, katakan kepadanya untuk tidak terlalu banyak berharap dan menyerahkan semuanya kepada Allah," putus Arnold akhirnya setelah hanya ada diam di antara mereka berdua.


Makan siang pun usai dan Azzam langsung kembali ke MK tanpa menemui kedua adiknya lagi. Karena kini dia sudah percaya bahwa Arnold tidak akan mempermainkan adik-adiknya tapi malah Arnold lah yang akan dipermainkan oleh Alesha dan Agatha.


Dan setelah mengantar Azam pergi Arnold segera kembali ke ruangannya.


Hal pertama yang dilihatnya adalah Alesha yang memijat punggung Agatha.


"Jadi, selain jadi tuan putri di keluarga Malik kamu juga jadi tukang pijat?" ledek Arnold pada Alesha.


Gadis yang diledek langsung mencebik juga menatapnya dengan tatapan tajam.


Dan Arnold pun terkekeh, lalu kembali melanjutkan langkah untuk duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan Alesha dan Agatha langsung mengikuti, kembali duduk dihadapan Arnold dan menyiapkan punggungnya untuk merasa sakit lagi.


"Sudah siap?" tanya Arnold dan kedua Gadis itu menganggukkan kepalanya.


"Jawab dengan mulut jangan hanya menggangguk."


"Siap Om!" jawab keduanya kompak, membuat Arnold sampai tidak bisa berkata-kata lagi.