
Azura membuka pintu kamarnya hendak keluar. Namun belum sempat melangkahkan kakinya keluar pintu itu kembali tertutup. Dengan tubuhnya yang kembali masuk karena di dorong oleh Julian.
Seketika Azura tersentak dan terkejut, ia bahkan langsung memukul lengan Julian dengan keras.
“Julian ih!” kesal Azura, kini wajah terkejutnya berubah jadi wajah marah dan tatapan tajam.
“Aku mau keluar, mau minum, haus!” ucap Azura, ia hendak membuka pintu lagi namun dengan cepat Julian menahan.
“Biar aku yang ambilkan, kamu tunggu di kamar saja, jangan kemana-mana,” jawab Julian, bicara buru-buru seolah takut Azura akan memotong ucapannya.
Membuat Azura seketika memicingkan mata, kini menatap curiga pada sang kekasih. Berpikir jika Julian akan bertindak mesum, dengan gerakan cepat Azura langsung menyilang kan kedua tangannya di depan dada, seolah menyembunyikan dadanya.
Bayangan tubuh Bella yang penuh bercak merah pun seketika memenuhi otaknya yang masih suci, lalu membayangkan Julian melakukan itu pada tubuhnya.
“Hii! Ayo keluar, kita turun sama-sama!” ajak Azura dengan suara nya yang meninggi.
“Tidak! Kamu tetap di kamar! Biar aku yang keluar!” jawab Julian pula yang suaranya pun meninggi.
Desahaan Bella begitu terdengar jelas di luar sana, Julian tidak mau Azura sampai mendengar suara laknat itu.
“Me-memangnya kenapa aku tidak boleh keluar? Jangan bilang, kamu, kamu, kamu mau ...” jawab Azura terbata-bata. Berniat mengatakan Kamu Ingin Menciumku, namun tidak terucap oleh bibirnya.
“Bicara yang benar, kenapa jadi gagap begini.”
Azura mencebik.
“Tunggulah disini, aku akan keluar,” putus Julian. Sebelum benar-benar pergi pun Julian berulang kali mengancam kekasihnya itu agar tidak keluar dari dalam kamar.
Azura hanya mengangguk, meskipun dalam hatinya ia jadi ingin sekali untuk keluar dan melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi di luar sana.
“Mencurigakan,” ucap Azura saat Julian sudah berlalu dari dalam kamarnya.
Dirasa Julian sudah semakin jauh, Azura pun memutar kenop pintu kamarnya. Lalu dengan perlahan ia benar-benar keluar.
Melangkah 1 langkah, 2 langkah dan 3 langkah.
Langkah ketiga Azura terhenti saat ia mendengar sesuatu yang entah. Mendengar suara seorang wanita yang memanggil-manggil nama abangnya dengan desah.
Azamhh Azamhh.
Azura menyentuh tengkuknya yang tiba-tiba merinding, lalu menoleh ke arah sumber suara, yang berasal dari pintu setengah terbuka itu.
Kamar Azam dan Bella.
Seketika itu juga Azura menyadari apa yang terjadi, ia menelan ludahnya dengan kasar lalu bergidik ngeri.
Azura hendak berteriak, namun belum sempat mulutnya menganga, Julian lebih dulu membungkam mulut itu menggunakan satu tangannya.
Lalu menarik Azura untuk kembali masuk ke dalam kamar.
“Gadis nakal! Sudah ku bilang jangan keluar!” kesal Julian, berulang kali ia menjitakki kepala gadis nakal ini.
“Hii, abang dan Bella_”
“Sudah diam! Ini minum mu!” kesal Julian pula. Seraya memberikan sebotol air mineral pada sang kekasih.
Azura yang terkejut pun butuh minum air banyak-banyak untuk membuat kesadarannya kembali. Lalu tanpa banyak tanya Azura mengambil botol minum itu dan meneguknya langsung.
Glek! Glek! Glek!
Julian yang melihat leher Azura naik turun pun menelan ludahnya dengan kasar.
Sialan! Umpat Julian di dalam hatinya.
Lalu tanpa menunda ia langsung menarik pinggang Azura dan mencium leher itu hingga meninggalkan bekas. Air minum Azura tumpah membasahi tubuh keduanya. Belum sempat protes dan marah, Julian lebih dulu menyesap bibir ranum itu.
Dulu mereka sudah berjanji untuk tidak saling mencium lagi sebelum menikah.
Tapi kini janji itu telah diingkari, karena nyatanya makin lama Azura pun membalas ciuman itu.
Dan Julian menghentikan gerak bibirnya saat tangannya nyaris bergerak menyentuh dada sang kekasih.
“Bahaya,” ucap Julian dan Azura pun langsung memukul dadanya keras.
“Dasar! Dasar! Dasar!” umpat Azura, ia terus memukuli tubuh kekasihnya ini sampai akhirnya Julian keluar dari dalam kamarnya.
Brak!
“Bodoh!” ucap Azura dan Julian bersamaan, mengumpat diri sendiri. Berucap senada meski kini mereka sudah terhalang oleh pintu yang tertutup itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Singapura.
Di salah satu gedung yang menjulang tinggi. Seorang pria menatapi beberapa lembar foto yang baru saja ia peroleh.
Bibirnya tersenyum namun dengan hati yang terluka, terasa pedih sekaligus.
“Sudah ku bilang, aku pasti akan terluka saat melihatmu kembali bersamanya,” ucap Edward, berbicara dengan salah satu foto yang ia pegang.
Sementara Jo sang asisten hanya diam, terus memperhatikan tuannya dengan perasaan yang iba.
Lama mencintai Bella secara diam-diam tetap tidak merubah kenyataan. Karena akhirnya pun Bella memutuskan untuk kembali pada suaminya itu.
“Aku harus bagaimana Jo?” tanya Edward, bingung harus bagaimana akhirnya ia bertanya pada sang asisten.
Yang ditanya pun semakin bingung harus menjawab apa. Tentang percintaan seperti ini Jo sungguh buta. Ia lebih memilih untuk mengerjakan 10 proposal sekaligus.
“Lupakan Nona Bella Tuan, dia bukan jodoh Anda,” ucap Jo, takut-takut. Tapi bukankah lebih baik seperti ini, daripada terus mengharapkan seseorang yang hatinya bukan untuk kita.
“Apa aku boleh sedikit saja memberi pelajaran pada suami Bella itu?” tanya Edward lagi dan Jo hanya mampu menganggukkan kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jepang, Kyoto.
Jam 4 sore, Azam, Bella dan semuanya kembali berkumpul di ruang tengah.
Tapi si pemilik Villa ini masih juga tidak keluar dari dalam kamarnya. Ryu dan Haruka tak juga muncul-muncul batang hidungnya.
“Bagaimana ini, mereka yang mengajak kita tapi mereka tidak keluar,” tanya Ben, membuat semua orang yang sedang duduk bersama ini menatap ke arahnya.
“Aku panggil saja ya?”
“JANGAN!” potong Julian dan Azura kompak. Ben yang dibentak pun seketika terkisap, langsung terdiam seribu bahasa.
“Kalian ini kenapa?” tanya Arnold, menatap secara bergantian Julian dan Azura dengan tatapan mencurigai.
“Me-mereka kan pengantin baru, ya taulah sedang seperti itu, jadi jangan kita ganggu,” jawab Azura, gugup. Ia bahkan mengipasi wajahnya yang panas menggunakan satu tangan.
Dan yang lain hanya diam, membenarkan.
“Kita pergi saja tanpa mereka,” putu Arnold.
Semua orang pun mengangguk. Mumpung berada di Kyoto, mereka tidak ingin hanya menghabiskan waktu di dalam kamar. Apalagi sudah cukup lama mereka tidak bepergian bersama seperti ini.
Mereka pergi hanya menggunakan satu mobil, Arnold mengemudi dan Ben duduk disebelahnya. Sementara Azam, Bella, Julian dan Azura berdesakan duduk di tengah. Lebih memilih berdesak-desakan seperti ini daripada harus terpisah dengan mobil yang lain.
Bella dan Azura terus terkekeh, merasa lucu. Bahkan mereka duduk lebih maju, agar bagian belakangnya muat untuk Azam dan Julian.
“Sayang, lebih baik kamu ku pangku,” ucap Azam. Dan
langsung di sentak oleh semua orang.
Mereka semua akhirnya membuat peraturan, dilarang bermesraan jika sedang bersama seperti ini.
Mobil itu terus melaju keluar dari area Villa dan mulai masuk ke jalan raya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sapa Author :
Hai 🤗
Setiap hari aku akan coba up 2 bab terus ya, meskipun jam gk nentu 🤣
Dan maaf kalo banyak typo 😭
Emuah😘
lope lope sekebon toge 💕