
Tak terasa sudah saat yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Hari ini acara wisuda Agatha, Ali dan juga Alesha diadakan di kampus tempat mereka menimba ilmu. Aula tampak sudah disulap, menjadi tempat megah untuk para wisudawan, dan tamu undangan yang datang.
Sebagai keluarga besar, keluarga Malik datang seperti iring-iringan pengantin, karena banyaknya anggota keluarga mereka, apalagi bertambah dengan bocah-bocah kecil yang baru pandai berlari itu, yakni Adena, Adelia dan Abraham.
Awalnya Bella sudah mengurungkan niatnya itu, dia akan tetap tinggal di rumah untuk menjaga ketiga anaknya. Namun, ayah Adam dan Papa Agra justru memaksa Bella agar ikut dalam acara penting itu, mereka semua harus ada di sana.
Tak ingin satu anggota Malik pun terlewatkan. Dan Bella tak serta merta mengiyakan begitu saja ajakan ayah Adam dan Papa Agra. Dengan satu syarat Bella akan mengikuti kemauan mereka.
Yakni agar kedua pria paruh baya itu menjaga ketiga cucu mereka. Baru Bella bisa bernafas dengan lega. Dan akhirnya ayah Adam dan Papa Agra menyetujuinya, mereka akan bertanggung jawab menjaga bocah-bocah mungil itu.
Bella mendadani ketiga anaknya dengan begitu lucu, Abraham dipakaikan sebuah tuxedo sesuai ukuran badannya, lengkap dengan dasi kupu-kupu. Sementara Adena dan Adelia memakai dress warna senada dengan dirinya dan juga anggota keluarga yang lain.
Mereka semua turun dari mobil masing-masing. Di sana, hanya kurang Azzura dan Julian. Karena wanita itu tengah hamil besar, dan diprediksi akan melahirkan dalam waktu dekat ini. Pun dengan Fhia yang tengah mengandung anak Ben.
Ayah Adam menggendong Abraham, papa Agra menggendong Adena. Dan karena tak ada yang menggendong Adelia, ayah Adam menarik amang Yuda yang sudah ingin melangkah mendahului mereka.
"Eits, jangan langsung jalan, ini bawa cucuku yang satu lagi," ucap Ayah Adam, menunjuk Adelia yang masih berdiri dan dipegang oleh papa Agra.
Amang Yuda menghela nafas. "Aku juga ikut tanggung jawab nih?"
"Yaiya, masa hanya kita berdua? Bocahnya kan ada tiga," timpal Papa Agra, lalu menyerahkan Adelia yang sudah tersenyum sumringah ke arah amang Yuda.
Amang Yuda hanya bisa mendesah pasrah. Karena harus ikut-ikutan menjaga bocah balita itu. Lalu dengan terpaksa dia pun mengangkat tubuh mungil Adelia untuk masuk dalam gendongannya. "Baiklah, ayo Adelia. Aku juga akan menjadi baby sittermu hari ini."
Melihat itu, Ayah Adam dan Papa Agra terkekeh, dan kekehan itu berhenti begitu Azzam dan Bella melewati mereka.
"Nah gitu dong, kan kalian jadi kelihatan seperti hot daddy semua," ledek Azzam, sambil menggandeng tangan sang istri untuk masuk ke dalam.
Kompak ketiga pria paruh baya itu melayangkan tatapannya ke arah Azzam lalu mendengus. "Bocah kurang ajar!" Batin mereka serentak.
Dan hal itu justru membuat ketiga bocah yang ada dalam gendongan mereka terkekeh, seolah menyetujui ucapan ayah mereka.
Tak berapa lama kemudian, acara pun akhirnya dimulai. Para ibu-ibu dengan santai duduk di kursi masing-masing, sementara ketiga pria paruh baya itu harus mengurusi ketiga bocah yang sangat aktif itu.
Kepala ayah Adam, papa Agra dan amang Yuda rasanya ingin pecah, karena merasakan pusing yang luar biasa. Ternyata tidak mudah menjaga bocah kecil seumuran ketiga cucunya itu.
"Abraham, jangan lari-lari terus dong. Ini susunya dihabiskan," ayah Adam sedikit berteriak, karena sedari tadi bocah lelaki itu yang paling aktif, dia terus berlari ke sana ke mari. Tak kenal lelah.
Ayah Adam sedikit berlari untuk menangkap tubuh Abraham. Namun, bocah lelaki itu justru semakin melaju cepat, karena tidak mau tertangkap. Dia tergelak begitu tubuhnya sudah berhasil digapai oleh ayah Adam.
"Hehehehe."
"Ya Allah, Gra. Rasanya nanti malam encokku bakal kambuh kalau aku terus berlari seperti tadi. Tahu begini kita biarkan saja mereka di rumah," keluh ayah Adam dengan memegangi pinggangnya yang terasa sakit.
Papa Agra mengangguk setuju, pun dengan amang Yuda yang terlihat ngos-ngosan. Keduanya juga merasa lelah, sedari tadi tak habis-habis diajak bermain. Sedangkan para ibu-ibu duduk dengan santai seperti tidak ada beban.
Ibu Haura sedikit melirik suaminya, dia tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Lelaki yang dicintainya tengah kewalahan menghadapi cucunya.
Mas, Mas. Batinnya sambil geleng-geleng kepala.
Edward dan Arnold datang ke acara tersebut. Kedua pria itu kompak membawa buket bunga untuk masing-masing orang terkasih, yakni Agatha dan Alesha.
Tanpa merasa canggung lagi, Edward memberikan buket tersebut pada Agatha, dan menarik gadis itu agar menjauh dari keramaian.
"Selamat calon istriku, semoga ilmumu bermanfaat," ucap Edward membuat Agatha langsung bersemu merah. Mendengar sebutan itu dari bibir kekasihnya.
"Terimakasih, Bang. Sudah jauh-jauh datang untuk Agatha," balasnya sambil tersenyum malu-malu.
Senyum gadis cantik itu langsung menular pada Edward, dengan penuh sayang lelaki itu menelusupkan anak rambut Agatha ke belakang telinga, lalu dia mendekat untuk berbisik. "Jangan pasang wajah seperti ini, aku jadi tidak tahan ingin menciummu."
Buk!
Agatha langsung memukul dada Edward, dan lelaki itu hanya terkekeh. Agatha mencebik, karena Edward selalu saja berpikir mesum ketika bersama dengannya. Lagi-lagi cium, lagi-lagi cium. Hiii...
Sementara di ujung sana, satu pasangan lain tengah bersenda gurau. Arnold mengunci tubuh Alesha, agar tidak kabur kemana-mana. "Abang, ih Alesha malu banyak temen-temen Alesha di sini."
"Kenapa harus malu, aku ini kan kekasihmu. Aku hanya ingin mencium pipimu sebagai ucapan selamat," goda Arnold dengan wajahnya yang terlihat menggoda.
Pipi merah Alesha tak dapat disembunyikan lagi, dia mencubiti perut Arnold bertubi-tubi, hingga lelaki itu mengaduh. "Sakit, Sayang." lelaki itu menahan tangan Alesha, lalu digenggamnya.
"Makanya jangan meminta itu di sini."
"Lalu di mana?" tanya Arnold dengan menaikkan satu alisnya.
Alesha melipat bibirnya ke dalam. Dia melirik ke sana ke mari, memastikan tidak akan ada yang mendengar ucapannya. "Nanti saja kalau di mobil." Ucapnya lirih, dan hal itu langsung membuat Arnold tergelak. Merasa lucu dengan jawaban spontan kekasihnya itu.
Arnold mengusak puncak kepala Alesha. Tidak dulu tidak sekarang, kekasihnya itu masih saja sama, polos dan menggemaskan.
...******...
Malam harinya, di mansion keluarga Malik kedatangan tamu. Tanpa diduga, dan tanpa ada pemberitahuan apa-apa, Edward kembali membawa keluarganya.
Ayah Adam dan ibu Haura yang awalnya tidak mengerti, langsung tahu tujuan lelaki itu, saat Edward mengeluarkan sebuah cincin dari balik jasnya.
Disusul dengan permohonan dari Andrew yang meminta izin untuk meminang Agatha, sebagai calon istri dari putranya.
"Saya mengucapkan terimakasih sebelumnya, karena tuan Adam dan nyonya Haura menerima kami semua. Maksud kedatangan kami, adalah ingin meminang Agatha untuk putra kami, Edward." Jelas Andrew.
Ayah Adam dan ibu Haura saling pandang dan mengulum senyum. Merasa begitu senang dengan kesungguhan Edward pada putri mereka.
Pelan ayah Adam mengangguk. "Saya pun berterima kasih pada, Nak Edward yang sudah menunjukkan kesungguhannya. Memang alangkah lebih baiknya, jika kalian tidak perlu berlama-lama. Bismillah, saya dan istri saya akan menerima kamu sebagai calon menantu saya."
"Alhamdulillah." Semua orang kompak mengucap syukur.
Dan akhirnya malam itu juga. Tanggal pernikahan Agatha dan Edward langsung ditentukan. Mereka semua tidak tega, membiarkan Edward menunggu lebih lama lagi.