Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 95 - Ketakutan Bella



Happy reading


...💕...


5 bulan kemudian.


Waktu bergulir dengan sangat cepat. Tiba-tiba lima bulan berlalu begitu saja, dan terhitung kini usia kandungan Bella sudah masuk 8 bulan, tepat pada hari ini pula, Bella akan melakukan cek kesehatan lagi, sebuah pemeriksaan rutin setiap sebulan sekali.


Dengan dibantu oleh Azzam, Bella masuk ke dalam mobil dengan hati-hati. Mengandung anak kembar membuat perut Bella terlihat begitu besar, dan terasa sangat berat. Azzam sampai tak tega dengan perubahan signifikan yang ditunjukkan oleh istrinya.


Belum lagi kaki yang mulai membengkak karena hari persalinan yang semakin dekat, hampir di depan mata.


"Bagaimana? Nyaman tidak duduknya?" tanya Azzam saat dia mengatur kursi agar Bella nyaman selama dalam perjalanan.


Ibu hamil itu mengangguk sambil mengulum senyum. "Nyaman, Bang."


Melihat itu, Azzam ikut tersenyum pula. Lalu dengan gerakan cepat dia menunduk untuk mencium bibir Bella sekilas. Menyesapnya sedikit mengalirkan ketenangan.


Setelah itu, baru dia mengitari mobil dan ikut masuk ke dalam sana. Dia mulai menyalakan mesin mobil, dan membawa kijang besi itu merayap ke jalan raya.


Tak sampai lama, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Di sana, mereka sudah disambut karena mereka memang tidak perlu melakukan janji temu terlebih dahulu, dan hal itu sudah terbiasa sejak awal kehamilan Bella.


Azzam kembali membantu sang istri untuk keluar, bahkan dia sudah meminta sebuah kursi roda untuk membawa Bella masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


"Bang, tidak perlu," tolak Bella secara halus. Dia masih sanggup untuk sekedar berjalan hingga ke ruang pemeriksaan, tidak perlu repot-repot pakai kursi roda segala.


Namun, karena Azzam yang selalu ingin mengutamakan kenyamanan Bella, dia kekeh dengan keinginannya, ingin Bella duduk di kursi roda dan dia mendorongnya.


Kalau sudah begini, Bella rasanya tak mampu untuk membantah lagi, dia hanya tersenyum kecil dan mengusap pipi Azzam dengan sayang. "Terimakasih, Sayang."


"Terimakasihnya nanti saja di rumah," balas Azzam ambigu, dan dia langsung mendorong kursi roda tersebut, sebelum Bella membalas ucapannya.


Begitu mereka masuk ke dalam sana, Bella langsung disuruh berbaring di atas brankar, seperti biasa, sang dokter akan melakukan USG, memastikan bahwa janin yang dikandung Bella sehat dan tidak kekurangan apapun.


Sampai saat ini, jenis kelamin anak mereka masih belum terungkap, karena Azzam dan Bella sepakat untuk merahasiakannya, mereka hanya tahu kalau bayi mereka kembar tiga.


Namun, entah kenapa hari ini mereka justru dihantui rasa penasaran. Baik Azzam maupun Bella, sama-sama sudah tidak sabar ingin melihat jenis kelamin si jabang bayi. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk meminta Dokter memberitahukan jenis kelamin anak kembar mereka.


Sang dokter mengulum senyum begitu mendengar permintaan calon kedua orang tua itu. Dia ikut merasa lucu sekaligus bahagia, dan akhirnya sang dokter pun memberitahukannya. "Jenis kelamin anak Tuan dan Nyonya, 2 perempuan dan satu laki-laki."


Bella tersenyum begitu lebar ke arah Azzam, sementara Azzam langsung menghujani kening Bella dengan ciuman. "Semoga anak-anak kita sehat semua di dalam perut Bunda." ucapnya sumringah.


Wanita hamil itu mengangguk-angguk kecil. Mengamini ucapan suaminya, malaikat kecil mereka yang begitu berharga harus selamat dan baik-baik saja.


Tak hanya tentang itu, sang dokter pun mengatakan tentang operasi sesar yang harus mereka rencanakan. "Kalau bisa kita melakukan operasi sesar tersebut sekitar 3 Minggu lagi, Nyonya. Jadi ketika masuk usia sembilan bulan, bayi sudah bisa dikeluarkan." Jelasnya.


Mendengar itu, entah kenapa tiba-tiba senyum di bibir Bella sedikit memudar. Seolah operasi sesar itu sudah benar-benar ada di depan matanya, Bella gugup dan merasa khawatir kalau sampai ada sesuatu yang terjadi nantinya.


"Sayang, ada apa?" tanya Azzam yang melihat begitu jelas raut wajah Bella yang berganti dengan gurat sendu.


Tapi Azzam tak mudah percaya, dia tidak bisa lagi untuk dibohongi, ada sesuatu yang disembunyikan istrinya, dia yakin itu.


"Sayang, bicaralah kamu ini kenapa? Kamu terlihat gugup seperti itu, kamu takut?" tanya Azzam sambil menggenggam tangan sang istri. Kini dia bicara pelan, penuh dengan perhatian.


Bella mengangkat wajah dan membalas tatapan sang suami, pelan dia mengangguk. "Aku takut, Bang." jawab wanita itu apa adanya.


Jantungnya langsung berdebar kencang begitu dokter kandungannya mengatakan tentang operasi sesar yang sebentar lagi akan mereka lakukan. Dia takut, bagaimana kalau sampai ada yang tidak selamat di antara mereka. Kalau memang seperti itu, biar dia saja, jangan ketiga anaknya.


"Aku takut kalau sampai ada yang tidak selamat di antara kita, Bang," sambung Bella.


Azzam menghela nafas dan semakin menggenggam erat tangan istri tercintanya. "Sayang, percaya lah Allah bersama kita. Kamu dan bayi kita akan baik-baik saja. Jadi jangan pernah bicara seperti itu." Terang Azzam, ingin menenangkan Bella.


Mendengar itu, Bella langsung beristighfar. Bagaimana bisa dia melupakan kekuasaan Tuhan yang menciptakannya. Azzam menarik pelan kepala Bella, dan dia lagi-lagi memberikan kecupan di dahi wanita itu, kini jauh lebih dalam, agar ketenangan benar-benar bisa Bella rasakan.


Dokter kandungan Mereka pun ikut tersenyum melihat sepasang suami istri ini kembali menemukan kekuatannya.


"Nyonya tenang saja, insya Allah, saya akan melakukan yang terbaik untuk persalinan anda nanti, usaha dan doa adalah dua hal yang bisa kita usahakan."


Bela semakin tenang ketika mendengar ucapan sang dokter.


Dan tak berapa lama kemudian setelah semua konsultasi usai, Azam dan Bella pun memutuskan untuk pulang.


tapi dia tidak membawa sang istri pulang ke rumahnya, melainkan pulang ke rumah Papa Agra dan mama Sarah.


disaat sang istri tengah hamil tua seperti ini Azam tahu jika Bella ingin dekat dengan ibunya. Karena itulah dia membawa istrinya untuk pulang kemari.


Sampai Bella melahirkan dan anak mereka hadir ke dunia Azam akan memutuskan untuk tetap tinggal di rumah ini.


Dia tidak melupakan Ayah David, ayah David pun diboyong nya untuk ikut pindah ke sini.


Untunglah Ayah David mengerti apapun keinginan anak dan menantunya dia selalu ikuti.


bahkan selalu bersyukur di keadaan apapun anak dan menantunya mereka berdua masih terus mengingat dirinya.


Dan sore itu mereka semua sudah berkumpul di rumah Papa Agra.


Ada Ayah David di rumah ini membuat papa Agra pun merasa memiliki teman. Dia sangat bersyukur David tersedia untuk tinggal di rumahnya.


"Sudah, tidak usah pindah ke rumah di sana lagi. Lebih baik tinggal di sini selamanya," ucap papa Agra pada Ayah David.


Kedua pria tua ini pun terkekeh bersamaan.


...💕...


Jangan lupa like dan komen ya, besok lahiran 🤣