
Happy reading
...💕...
Tanggal operasi sesar telah ditentukan dan sudah disepakati oleh Bella dan dokter kandungan yang menanganinya. Pada tanggal 14 February mendatang, Bella akan melahirkan bayi-bayi mungilnya. Buah cintanya bersama dengan Azzam.
Setiap hari Bella akan selalu mengatakan, " Bang, aku takut."
Dan saat itu juga Azzam selalu memberikan pelukan hangat menenangkan. Meyakinkan Bella bahwa dia tidak akan sendirian, ada dia bahkan seluruh keluarga besar Malik pun akan selalu mendampingi.
Setelah membuat kesepakatan tanggal dilakukannya operasi sesar bersama dokter kandungan mereka.
Azzam dan Bella segera memberitahukan tentang tanggal itu kepada seluruh keluarga besarnya. Mereka pun mulai bersiap untuk hari bersejarah itu, di mana cicit pertama di keluarga Malik akan melihat keindahan dunia.
Seperti angin yang berhembus cepat, melintas begitu saja tanpa diketahui oleh kedua netra. Begitu pun dengan waktu, tanpa terasa hari kelahiran putra-putri Bella dan Azzam sudah ada di depan mata.
Hari ini, seluruh keluarga Malik berbondong-bondong untuk pergi ke rumah sakit. Dan di dalam satu ruangan VVIP, mereka semua akan menunggu Bella sampai selesai operasi.
Di sana, tak hanya bisa bersantai-santai, tetapi mereka juga bisa melihat proses operasi dari layar CCTV mengarah langsung pada pembaringan Bella.
Sementara di sebuah ruangan, Bella terbaring dengan jarum infus yang sudah menancap di tangannya. Sementara di sampingnya sudah ada lelaki yang begitu mencintainya, menggenggam erat tangannya mengalirkan kekuatan dan ketenangan.
Tak henti-hentinya Azzam menciumi kening Bella, dan memeluk ibu hamil itu, agar Bella tak perlu merasa was-was. Ada dia dan seluruh keluarga yang akan menyemangati dan mendoakan keselamatan Bella dan anak-anaknya.
"Kamu dan anak-anak kita pasti baik-baik saja," ucap Azzam. Sekali lagi dia mencium kening Bella begitu dalam.
Bella mengulum senyum, dia mengangguk dan mengelus pipi calon ayah itu penuh kelembutan. "Terimakasih, Sayang. Aku akan kuat karena ada kamu."
Hingga menunggu sekitar satu jam. Sayatan pisau kecil sudah membelah kulit Bella, lalu tak berapa lama kemudian disusul dengan gelak tangis bayi yang saling bersahutan di dalam ruangan.
2 bayi perempuan, dan 1 bayi laki-laki.
Anak Azzam dan Bella berhasil dikeluarkan tanpa kekurangan apapun. Bahkan berat badan bayi mereka dinilai cukup dan tak perlu untuk masuk ke dalam inkubator.
Semua orang berucap. "Alhamdulillah."
Sedangkan Azzam yang melihat langsung proses kelahiran anak-anaknya, langsung menetaskan air mata. Dia kembali menghujani Bella ciuman tanda terimakasih yang begitu banyak, karena sudah mau berjuang bersamanya.
"Rasanya ucapan terimakasih saja tidak cukup, Aku benar-benar mencintaimu, Ara," ucap Azzam sedikit serak. Menyatukan keningnya dengan kening Bella.
Hati Bella kembali berdebar saat dia mendengar Azam memanggilnya dengan sebutan Arra. Seolah cerita cinta indah di masa kecilnya kembali terngiang dengan jelas di ingatan.
Kenangan kenangan itu tidak akan pernah bisa Bella lupakan seumur hidupnya.
Pertama kali pertemuannya dengan Azzam di sekolah AIG school.
Melihat wajah Azzam dan Azzura yang begitu mirip dengan sang paman dan kemudian selalu bersama menjadi sahabat.
Bella tersenyum, nama Arra yang sempat membuatnya terpuruk karena mengingatkan tentang jatidirinya yang bukan anak kandung papa Agra dan mama Sarah kini sepertinya sudah bisa kembali ia dengar.
Rasanya pun rindu saat semua orang memanggilnya dengan sebutan nama itu.
Di antara senyum Bella itu tatapannya kembali bertemu dengan kedua netra sang suami.
Saat itu juga Azzam diminta untuk mengadzani putra-putrinya. Dengan gugup dan menatap begitu takjub buah hatinya satu persatu. Dia mulai melantunkan suara adzan yang begitu mendayu. Azzam kembali sesenggukan di antara kalimatnya.
Ludahnya terasa tercekat, mengingat betapa banyak kesakitan yang dia berikan untuk Bella istrinya. Namun, hati yang begitu luas itu justru mau menerimanya dengan lapang dada.
Setelah semuanya selesai, bayi-bayi itu di antar ke ruangan VVIP di mana keluarga Malik berkumpul. Sementara Bella masih melakukan serangkaian pasca operasi.
Tak sampai lama, ketika semuanya sudah beres. Bella dan Azzam pun ikut bergabung, dengan seluruh keluarga, di sana bayi-bayi mungilnya sedang menjadi rebutan, karena mereka semua merasa gemas sendiri dengan tubuh mungil nan rapuh itu.
"Yang cowok mirip Abang ya, Bu," ucap Azzura, memandang lekat keponakan lelakinya yang berada dalam gendongan ibu Haura.
Ibu Haura mengulum senyum, dia mengangguk membenarkan ucapan putrinya.
"Kalau miripnya Julian, nanti baru jadi pertanyaan semua orang," Ayah Adam ikut menimpali pertanyaan putrinya membuat Azzura langsung mencebikkan bibirnya. Dan ayah Adam justru terkekeh.
Di antara kesibukan keluarganya, Azzam hanya duduk di samping istrinya. Dia terus mengelus kepala Bella. Dan tak pernah bosan mengucapkan terimakasih yang begitu banyak.
"Abang sudah bilang makasih lebih dari seratus kali, memangnya tidak lelah?" goda Bella.
Dan Azzam menggeleng. "Aku tidak akan lelah untuk mengucapkannya, Ara. Semuanya terasa tak cukup."
Mendengar itu, Bella terkekeh. "Kalau begitu, aku mau Abang turutin permintaan aku."
"Apa?"
"Aku mau, anak-anak panggil kita Mommy dan Daddy. Boleh?"
Karena pada awalnya mereka sepakat untuk memanggil ayah dan bunda. Namun, Bella ingin mengubahnya, dia merasa gemas dengan panggilan itu, apalagi saat anak-anaknya nanti sudah pandai bicara. Pasti sangat menyenangkan mendengarnya.
Azzam mengangguk setuju, apapun itu. Asal Bella senang maka akan Azzam lakukan.
"Baiklah, apapun keinginan mupasti akan selalu Aku turuti," jawab Azzam apa adanya, dia bahkan sangat bersungguh-sungguh ketika mengucapkan itu, namun terdengar seperti sebuah gombalan di telinga Bella.
Bella mendengus merasa tak percaya, apalagi panggilan Mommy dan Daddy pasti akan membuat sang suaminya ini risih.
"Kenapa wajah Mommy seperti itu, Mommy tidak percaya pada Daddy?" tanya Azzam membuat Bela langsung terkekeh pelan.
Bella bahkan sampai menutup mulutnya agar tawanya tidak pecah.
Ternyata mendengar adzan memanggil dirinya dengan sebutan Mommy memampat dengar sangat lucu, tapi Bella sangat menyukainya.
"No Daddy, aku percaya," balas Bella.
Azam yang gemas ketika mendengar Bella memanggilnya dengan sebutan itu pun langsung mengusap puncak kepala sang istri dengan kasar, namun penuh dengan kasih sayang.
"Mommy," panggil Azam.
"Daddy," sahut Bella.
Keduanya terkekeh bersamaan lalu saling memeluk, lalu Azam pun sedikit menurunkan wajahnya dan menjangkau bibir sang istri mengecup nya cukup lama menyalurkan semua rasa cinta dan terima kasihnya.
Tidak peduli meski Agatha dan Alesha langsung menutup mata ketika mereka melihat adegan tak senonoh itu.