
Air mata Alesa membuat Arnold tidak berkutik. Tubuhnya membeku, ketika ia memperhatikan air bening itu mengaliri wajah cantik Alesha.
Satu tangannya bergerak naik untuk menghapus air mata itu, menyentuh kulit wajah Alesha yang terasa begitu lembut, seperti kulit bayi.
"Kenapa menangis?" tanya Arnold. kini suaranya nya sudah tidak terdengar tinggi lagi, bahkan terasa penuh dengan perhatian.
Tatapan Arnold itu pun berhasil membuat Alesha terdiam, mendadak gugup dengan jantungnya yang berdegup.
Niat hati ingin mengeluarkan air mata buaya agar tidak dimarahi, namun kini ia malah mendapatkan serangan dari buaya darat.
Alesha tahu jika Arnold menyukai kakaknya Bella. namun Alesa pun sering juga melihat Arnold dekat dengan wanita lain. Membuatnya yakin jika Arnold adalah salah satu pria hidung belang yang berkeliaran di bumi ini.
"Om membuatku takut," jawab alesha lirih, ia sedikit menurunkan pandangannya menghindar dari tatapan Arnold yang terasa begitu dalam.
Dan lagi-lagi mendengar nama panggilan Om, membuat Arnold kembali teringat akan kekesalannya pada gadis ini.
"Jangan memanggilku Om jika tidak ingin kujadikan baby-ku," balas Arnold dan Alesha tahu Bmbetul apa maksudnya, om-om zaman sekarang memang suka dengan yang namanya baby baby apalagi sugar baby.
Hii! hanya membayangkannya saja sudah membuat Alesha bergidik ngeri.
"Terus aku panggil apa dong, Abang duluan yang mulai ngatur-ngatur," gerutu Alesha yang sudah mulai kembali jati dirinya.
"Panggil sayang," goda Arnold lalu terkekeh, sementara alesha langsung mendelik.
Dan ditatap tajam seperti itu Arnold jadi semakin ingin mengerjai gadis sini.
Dalam sekejap saja Arnold menghentikan tawanya, lalu memasang wajah serius dan membalas tatapan Alesha tak kalah tajamnya. Mode bossy mulai keluar.
"Siapa yang menyuruhmu dan Agatha jadi pelayan?!" tanya Arnold yang suaranya mulai kembali tegas.
"Lihat ini!" Arnold menunjukkan beberapa artikel di dalam ponselnya. Dalam artikel itu tertulis jelas berita tentang Agatha dan Alesha yang jadi pelayan di cafenya.
"Bagaimana jika sampai Papa Agra melihat berita ini? apa yang akan dia pikirkan tentang aku? Papa Agra pasti mengira aku mempermainkan kalian!" ketus Arnold.
Alessa yang mulai tahu kemana arah pembicaraan ini pun hanya bisa diam. Saat itu juga ia sadar bahwa dia telah salah.
Sebagai salah satu dari keluarga Malik gerak-gerik dirinya akan selalu menjadi sorotan. Seperti sore ini, belum ada satu jam dia dan Agatha menjadi pelayan namun berita itu sudah tersebar luas ke seluruh penjuru negeri.
Bukan hanya pemberitaan yang bagus yang tertulis di sana, ada juga berita miring yang tersebar. Kata-kata pencitraan, mencari simpati dan pandai bersandiwara memenuhi artikel itu.
Pemberitaan seperti ini memang tidak akan mempengaruhi perusahaan Malik Kingdom, tapi para orang tua Pasti akan cemas dengan psikologi anak-anaknya.
"Maafkan aku Bang," jawab Alesha, kini ia menangis sungguhan. Alesha bahkan menunduk menyembunyikan wajahnya.
Dan Arnold tidak menyangka jika itu adalah respon yang akan alesha beri, menangis. Arnold pikir Alesha akan berkeras kepala mengatakan bahwa dia tidak bersalah. lalu mereka akan terlibat perdebatan.
Tapi ternyata Alesha malah menangis dan membuat Arnold jadi merasa bersalah.
"Abang Bukannya ingin memarahimu, Abang hanya tidak mau kamu dan Agatha jadi pembicaraan orang."
"Aku tahu," lirih Agatha, tapi air matanya semakin deras mengalir deras. Karena ia pun sungguh merasa bersalah akan hal ini. Alesha tidak berpikir jauh, tidak menyangka jika keputusan sepele nya akan memberikan dampak yang begitu besar.
Sesenggukan tangis alesha pun terdengar jelas di ujung lorong itu. membuat Arnold semakin kikuk harus bagaimana agar Alesha bisa diam.
Tapi Alesha masih belum bisa menghentikan tangisnya, ia masih butuh waktu untuk menumpahkan semua rasa bersalah itu.
Sampai akhirnya Arnold tidak punya cara lain selain memberikan sebuah pelukan.
Bukan tanpa sebab kenapa Arnold berani melakukan ini. Arnold tidak ingin tangis Alesha akan menarik perhatian semua orang. secepatnya gadis ini harus diam.
Dan benar saja, saat Arnold memeluk tubuh Agatha, gadis ini langsung terdiam. Tubuh alesha jadi membeku tidak bisa bergerak.
Dirasa Alesha sudah mulai tenang, Arnold pun melerai dekapannya secara perlahan. Membuat keduanya berada pada jarak yang sangat dekat dan saat Alesha mendongak tanpa sengaja tatapan keduanya bertemu. Bahkan nafas mereka beradu.
Deg! Arnold menelan ludahnya dengan kasa, melihat Alesha yang nampak berbeda ketika ditatap dengan jarak sedekat ini. Alesha bukan lagi gadis kecil di matanya namun sudah terlihat seperti seorang wanita .
Mata yang indah, hidung yang mancung, juga bibirnya yang nampak berisi. Hanya menatap saja, sudah berhasil membuat pria dewasa ini berdesir.
Dan jakun Arnold yang naik turun itu dapat Alesha lihat dengan jelas. Dan entah ada setan apa, itu terlihat begitu menggoda di mata Alesa.
Ah, abang Arnold memang penggoda wanita! gerutu alesha di dalam hati, ketika dia sudah mendapatkan kesadarannya kembali.
Dengan perlahan Alesha mendorong dada Arnold agar memberi jarak pada mereka.
Dengan Arnold, Alesha tidak akan tergoda. Sekuat tenaga dia akan menghindari pesona Arnold. Meskipun tak bisa dipungkiri olehnya jika Arnold memang pria yang sempurna. Bukan hanya parasnya yang tampan namun dia juga seorang pekerja keras, juga setia dalam persahabatannya.
Namun menaruh rasa pada pria yang pernah mencintai kakaknya terasa tidak masuk akal bagi Alesha. Karena itulah sebelum rasa itu muncul sekuat tenaga dia akan membentengi dirinya sendiri.
"Aku sudah tidak menangis Bang, ayo pulang," ajak Agatha hingga akhirnya membuat Arnold tersadar dari fantasinya yang sudah kemana-mana.
Ternyata, dekat dengan Alesha bukanlah hal yang baik. Membuat naluri lelakinya muncul tiba-tiba.
Jika sudah seperti ini lebih baik menghindar, daripada nanti dia sendiri yang akan susah.
"Hem, ayo pulang," ajak Arnold kembali pada mode acuh.
Sudah berada di dalam mobil Alesha dan Arnold mendadak jadi canggung. Tidak ada yang berani buka suara di antara keduanya.
Arnold fokus menyetir sementara Alesha sibuk menatap jalanan. saat ini Kota Jakarta memasuki waktu malam hari, lampu-lampu mulai menyala satu persatu. Hal itu terlihat indah di mata gadis remaja ini, namun lidahnya kelu untuk berbagi keindahan itu kepada orang yang kini ada di sampingnya.
Alesha hanya mampu menggigit bibir bawahnya, menahan kata agar tidak sampai keluar dari mulut.
"Sudah sampai," ucap Arnold setelah dia menghentikan mobilnya di depan gerbang sebuah rumah.
Alesha melihat gerbang tinggi itu dan seketika matanya mendelik.
"Abang yang ini salah! aku bukan pulang ke rumah tapi aku pulang ke rumah abang Azam," rengek Alesha. Karena kini mereka berhenti tepat di depan gerbang rumah Papa Agra.
"Kenapa tidak bilang! kita sudah jauh-jauh datang ke sini."
"Salah Abang! kenapa Abang tidak bertanya!"
Dan..
Perdebatan itu terus berlanjut..